Merek Jepang Siap Caplok Mobil Listrik di Indonesia

Merek Jepang Siap Caplok Mobil Listrik di Indonesia

Jakarta, Motoris – Sejumlah prinsipal mobil yang kini memasarkan atau memproduksi kendaraan di Indonesia siap mencaplok pasar baru mobil listrik di Indonesia. Maklum saja, selama ini merek Jepang mendominasi pasar otomotif di Indonesia hingga 90% lebih.

Mereka mengaku siap mengembangkan mobil listrik, tapi masih menunggu kepastian regulasi dan infrastruktur dari pemerintah.

“Soal mobil listrik kami menyambut baik. Karena, Suzuki berprinsip akan menghadirkan produk-produk (kendaraan bermotor) sesuai dengan harapan, keinginan, dan kebutuhan masyarakat. Kapan pun itu diminta,” tutur General Manager Strategic Planning Development Suzuki Indombil Motor (SIM), Ryohei Uchiki, kepada Motoris di sela acara buka puasa bersama di Jakarta, Senin (28/5/2018).

Namun, sebelum mengembangkan mobil bersumber tenaga dari setrum itu, seperti pabrikan lain, Suzuki juga ingin melihat terlebih dahulu kepastian regulasi pendukungnya. Salah satu, regulasi yang dimaksud adalah soal insentif yang bakal diberikan, khususnya insentif fiskal atau perpajakan.

Maklum, regulasi tersebut dinilai sangat esensial. Jika tanpa insentif potongan pajak, harga mobil listrik bisa selangit. Terlebih, insentif dinilai layak diberikan karena mobil seperti ini memberikan dampak bagus bagi lingkungan karena tanpa emisi gas buang.

“Kalau soal teknologi (mobil listrik termasuk pengembangan baterai motornya) Suzuki terus mengembangkannya. Bahkan, beberapa waktu lalu, Maruti Suzuki India bekerjasama dengan Toyota melakukan pengembangan (mobil listrik). Jadi, bisa saja, pengembangan teknologi seperti itu juga dilakukan di Indonesia dan mobil (listrik) bisa diproduksi di sini (Indonesia),” kata Uchiki menjelaskan.

Baca juga: Harga Baterai Melandai, Penjualan Mobil Listrik Melejit

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya-Honda Jazz EV DIjual Rp 250 Jutaan.

Investasi baru Toyota
Pernyataan serupa dungkapkan Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono. Senin (28/5/2018). Dia memastikan, Toyota siap menggelontorkan investasi baru untuk pengembangan mobil listrik di Tanah Air, seperti yang ditargetkan pemerintah mulai 2025.

Menurut Warih, Toyota Motor Corporation (TMC) telah menganggarkan investasi senilai Rp25 triliun untuk kurun waktu 2014-2019. Sedangkan yang sudah direalisasikan sampai saat ini mencapai Rp 18 triliun.

“Investasi (baru) untuk mobil listrik pasti lebih besar dari sebelumnya (Rp 25 triliun),” kata Warih.

Seperti halnya Uchiki, Warih juga menegaskan investasi pengembangan mobil listrik itu digelontorkan jika telah ada kepastian soal regulasi dari pemerintah. Termasuk soal peta jalan pengembangan mobil listrik.

“Pemerintah harus segera menetapkan regulasinya (mobil listrik). Regulasi harus bersaing dengan peraturan negara lain (yang memberikan insentif),” ujar Warih.

Artinya, regulasi tersebut memberikan lebih menjanjikan dibanding yang diberikan oleh negara lain. Jika regulasi itu tak bersaing, maka dikhawatirkan justru negara lain terutama sesama anggota ASEAN yang bakal menikmatinya. Mereka ketiban rezeki menjadi basis produksi, sedangkan Indonesia hanya menjadi pasar dari produk mereka.

Baca juga: Skema PPnBM Kendaraan Bermotor Dinilai Sesat

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya-Pemain Mobil Listrik Lebih DImanja Ketimbang Hybrid.

Keberadaan R&D
Sebelumnya, akhir pekan lalu, kepada Motoris, Chairman Institut Otomotif Indonesia Agus Tjahajana Wirakusumah, mengatakan, sebelum mengembangkan mobil listrik pemerintah seyogyanya menyempurnakan kebijakan tentang otomotif.

Langkah pertama yang sebaiknya dilakukan pemerintah, kata dia, adalah menerbitkan kebijakan pengembangan mobil listrik jangka panjang. Kebijakan ini menyangkut pengendalian perkembangan mobil tradisional di satu sisi, dan mendorong pengembangan mobil listrik di sisi lain.

“Untuk pengendalian mobil tradisional itu bisa berupa pembatasan jumlah, peningkatan harga, serta peningkatan biaya pengoperasian. Bahkan bisa berupa pembatasan penggunaan di jalan hingga pembatasan jumlah kepemilikan,” kata Agus menjelaskan.

Namun, dia juga mewanti-wanti agar pemerintah mendorong prinsipal untuk membangun lembaga riset dan pengembangan (R&D) di Indonesia. Caranya dengan pemberian insentif bagi yang melakukannya.

Menurutnya, saat ini tak sedikit prinsipal yang masih kikuk mengembangkan mobil listrik di Indonesia. Dan tentu saja, bagi pemain baru, atau pemerintah, kondisi itu justru kesempatan emas.

“Sehingga kalau mau keluar dari kondisi status quo kemampuan desain mobil dan menuju keseimbangan yang baru agar bangsa ini lebih berperan, maka sekaranglah saatnya,” ucap Agus yang juga mantan Dirjen di Kementerian Perindustrian itu. (Ara/Sna)

CATEGORIES
TAGS
Share This