Otomotif Indonesia Mau Jadi ‘Tukang Jahit’ Mobil Listrik Lagi?

Otomotif Indonesia Mau Jadi ‘Tukang Jahit’ Mobil Listrik Lagi?

Jakarta, Motoris – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kembali menegaskan untuk menuju industri mobil listrik tak bisa serta merta langsung menuju kendaraan listrik murni atau full electric, tetapi harus secara bertahap. Kini, pertanyaan akankah Indonesia benar-benar menjadi negara yang mandiri atau sekadar menjadi perakit alias ‘tukang jahit’ dalam industri ini kembali mencuat.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (ILMATAP) Kemenperin, Putu Juli Ardika, menyebut fase menuju kendaraan bersumber tenaga dari arus setrum itu dimulai dari penggunaan teknologi hybrid, plug-in hybrid, Battery Electric Vehicle (BEV), hingga fuel cell.

“Sesuai dengan roadmap yang telah ditetapkan Kemenperin pada tahun 2025, penggunaan kendaraan terelektrifikasi (menggunakan motor listrik) itu 20% dari total penjualan mobil di Indonesia. Tetapi, kalau permintaannya ternyata lebih banyak, ya bisa dinaikan. Selain itu, juga menyesuaikan dengan kapasitas industri yang ada,” papar Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (ILMATAP) Kemenperin, Putu Juli Ardika, di sela acara diskusi tentang mobil listrik di Jakarta, Rabu (18/7/2017).

Menurutnya, fase-fase itu diperlukan agar saat mobil listrik telah dipasarkan secara massal tidak terjadi guncangan baik di industri pendukung, masyarakat pengguna, maupun di saat purna jual. Putu menegaskan, keberhasilan pengembangan industri kendaraan bermotor termasuk kendaraan listrik harus memenuhi sejumlah syarat.

Baca juga: Industri Komponen Yakin Tak Punah di Era Mobil Listrik

Ilustrasi bagian-bagian mobil listrik-dok.Istimewa

Setidaknya ada delapan syarat yang harus dipenuhi. Selain memiliki pabrik dengan skala ekonomi, juga harus memiliki captive market atau pasar yang jelas, dukungan local content yang berkelanjutan dan tidak tergantung impor, memerlukan rantai pasokan (supply chain) yang tetap, ketersediaan suku cadang.

“Selain itu harus ada jaringan penjualan yang luas, jaminan harga jual termasuk harga jual kembali, serta dukungan pembiayaan. Kalau komponen, salah satunya baterai kita sedang mengembangkan. Ada berbagai riset dilakukan, dan kami usulkan ke Kementerian Keuangan untuk memberi tax holiday bagi investor yang melakukan pengembangan, dan fasilitas lainnya,” ucap Putu.

Tukang jahit
Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohanes Nangoi saat ditemui di sela sebuah acara di Kemenperin, Rabu (4/7/2018) kembali menegaskan pengembangan kendaraan listrik perlu dipersiapkan secara matang. Khususnya, lanjut dia, dukungan industri komponen pendukung agar Indonesia tak tergantung impor.

“Terutama bagaimana dengan dukungan komponen utama seperti baterai, dan komponen lainnya. Jangan sampai kita hanya mengimpor komponen ini, itu, dan hanya merakitnya saja,” kata dia.

Pernyataan serupa diungkapkan kolega Motoris di Kemenperin. Menurutnya, jika hanya kembali mengimpor komponen-komponen mulai dari komponen pendukung hingga komponen utama, maka Indonesia tak ubahnya ‘tukang jahit’ saja.

Baca juga: Impor Mobil Listrik Kemunduran Industri Otomotif

Ilustrasi mobil lstrik yang tengah dicas – dok.FinancialExpress.com

“Jadi, status kita tidak akan meningkat. Memang, di era global seperti sekarang ini tidak ada yang tidak berkolaborasi. Tetapi, kolaborasi itu semestinya setara atau sejajar. Tetapi kalau kita hanya jadi perakitnya saja ya berarti tidak berubah status kita. Kemandirian industri tidak terjadi,” ungkapnya.

Sang kolega menyebut memang ada pihak-pihak tertentu yang ingin langsung Indonesia menuju ke industri mobil listrik murni atau battery electric vehicle. Padahal, jika itu dilakukan akan muncul kegagapan di masyarakat dan industri pendukung otomotif di Tanah Air.

Sementara pengamat kebijakan publik, Agus Pambagyo, menegaskan langkah untuk menuju kemandirian bangsa di industri kendaraan bermotor apalagi kendaraan listrik merupakan keharusan. Menurutnya, saat ini yang terpenting bukan hanya berdebat siapa yang akan mengkoordinasi program mobil listrik ini.

Baca juga: Intip Beking Teknologi Mobil Listrik Sokonindo

Ilustrasi, infrastruktur fasilitas pengisian baterai mobil listrik – dok.Istimewa

“Apakah Presiden atau Menteri Koordinator, itu tidak masalah. Yang penting, kita harus mandiri. Kan selama ini kita sebenarnya tidak memiliki industri, tetapi hanya perakit saja. Ini jangan sampai terjadi lagi. Lobi-lobi dalam dunia bisnis wajar saja terjadi, tetapi bagi kita yang penting adalah merah putih kotak (bendera merah putih Indonesia) bukan putih merah bulat (bendera Jepang),” kata Agus, saat ditemui di Jakarta, Rabu (18/7/2018). (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This