APM Hanya Cari-cari Alasan Enggan Pakai Solar B20

APM Hanya Cari-cari Alasan Enggan Pakai Solar B20

Jakarta, Motoris – Pemerintah akan memberlakukan kewajiban penggunaan bauran minyak sawit dalam solar 20% (Biodiesel 20% atau B20) kepada seluruh kendaraan bermesin diesel di Indonesia. Sejumlah Agen Pemegang Merek (APM) mengaku akan mengkaji lagi dalam menyikapi rencana kebijakan ini.

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Syaruddin menduga kuat keengganan kalangan industri otomotif yang disuarakan oleh APM itu merupakan salah satu bentuk ketakutan mereka mengalami penurunan margin keuntungan. Bukan kehilangan keuntungan.

“Produsen kendaraan resisten (penolakan) karena mereka perlu melindungi produk mereka yang desainnya bukan menggunakan biofuel yang stoknya masih banyak dan proses produksi masih berjalan. Sementara, kalau harus menambah varian dengan biofuel mereka mau tidak mau harus invest (berinvestasi) pabrik baru yang tidak bisa diasosiakan dengan pabrik lama,” paparnya kepada Motoris, Kamis (26/7/2018).

Pria yang akrab disapa Puput ini mengatakan, bahan bakar biodiesel selama ini terbukti lebih ramah lingkungan dibanding BBM berbahan fosil. Menurutnya, dari sejumlah penelitian yang dilakukan para ahli dunia menunjukan, SO2 (sulfur dioksida) biodiesel hampir 0%.

Baca juga: Maaf, BMW Alergi Tenggak Solar B20

Ilustrasi angkutan truk – dok.Istimewa

“Kemudian, PM atau partikel debunya lebih rendah 90%. Hidro karbon lebih rendah hingga 70%, dan CO (karbon dioksida) lebih rendah sekitar 20%,” terangnya.

Dia juga menilai kalangan pebisnis angkutan truk yang berkeberatan menggunakan BBM biodiesel karena harus sering mengganti filter bahan bakar adalah bukti bahwa mereka takut mengalami penrunan margin keuntungan karena ada cost tambahan.

Padahal, lanjut dia, komitmen untuk lingkungan bagi lingkungan yang lebih bersih demi masa depan generasi mendatang jauh lebih penting.

Sementara, jika industri dan pebisnis berdalih bahwa BBM jenis iu tidak sesuai dengan teknologi terkini, hal itu hanya alasan yang dicari-cari saja. “Ya itu pembohongan namanya,” ucapnya.

Kalangan APM mengkaji
Sebelumnya, sejumlah APM menyatakan akan mengkaji soal BBM biodiesel B20 yang mandatory-nya terus diperluas sesuai dengan rencana yang akan direalisasikan oleh pemerintah. “Saat ini kami sedang melakukan studi di internal. Tetapi sebagai informasi, standar internasional saat ini adalah B7, jadi kami perlu melakukan studi,” papar Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) Ernando Demily saat dihubungi Motoris, di Jakarta, Rabu (25/7/2018).

Pernyataan senada diungkapkan Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM), Fransiscus Soerjo Pranoto. Menurutnya, TAM saat ini tengah melakukan studi soal B20 itu.

“Tentu kita lakukan penelitian, caranya ya digunakan dalam uji jalan hingga jarak tertentu. Jadi kita belum bisa mengatakan ini bagus atau tidak. Ini untuk kepentingan masyarakat pengguna tentunya,” kata dia saat ditemui di Jakarta, Selasa (24/7/2018).

Baca juga: Reaksi Soal Mandatory B20 Makin Memanas

Ilustrasi – dok.Istimewa

Pernyataan ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi. Ditemui seusai diskusi bertajuk ‘Meningkatkan Konsumsi Domestik Untuk Penghematan Devisa’ di Jakarta, Jumat (20/7/2018), Nangoi menegaskan pihaknya akan mematuhi mandatory tersebut.

Namun, dia memberi catatan BBM biosolar B20 atau B30 yang disediakan juga harus cocok dengan spesifikasi mesin dan tidak menimbulkan masalah. “Asalkan cocok, tidak bermasalah, dan tidak menjadikan pengguna rugi, kami tidak masalah,” ungkapnya. (Ara)

FOLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya. Toyota Kerek Harga Jika Nilai Tukar Tak Terkendali.

CATEGORIES
TAGS
Share This