Biodiesel B20 Disebut Tak Sesuai Euro IV, Ini Kata Gaikindo

Biodiesel B20 Disebut Tak Sesuai Euro IV, Ini Kata Gaikindo

Ilustrasi, Biodiesel B20 - dok.Istimewa

Tangerang, Motoris – Kekhawatiran terhadap realisasi mandatori biodiesel B20 (campuran 20 persen minyak sawit ke solar) untuk semua kendaraan bermesin diesel pada akhir tahun ini tidak akan sesuai dengan standar Euro IV dinilai berlebihan. Pasalnya, masih ada waktu untuk melakukan penyesuaian antara Biodisel B20 atau bahkan B30 dengan standar itu.

“Satu hal yang harus diingat, penerapan standar Euro IV untuk kendaraan bermesin diesel itu baru efektif dilakukan pada tahun 2021. Jadi, artinya, masih ada waktu untuk penyesuaian bahan bakar itu dengan standar tersebut. Syukur-syukur kalau bisa dipercepat,” papar Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, kepada Motoris, saat ditemui di sela persiapan pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018, di ICE Serpong, Tangerang, Selasa (1/8/2018).

Menurutnya, penyesuaian seperti itu bukanlah sesuai yang muskil atau sulit dilakukan karena Indonesia diyakini juga memiliki teknologi untuk melakukannya. Hanya memang, kata dia, saat ini hampir semua Agen Pemegang Merek (APM) kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang berada di Gaikindo masih mengajukan pengujian jalan untuk melihat plus minus dari Bahan Bakar Minyak (BBM) tersebut.

“Ini wajar saja dilakukan mengingat, sesuatu yang baru. Tadinya hanya kendaraan PSO (Public Service Obligation) nah sekarang ke semua kendaraan diesel. Nah yang untuk bisnis atau kendaraan pribadi, banyak yang menanyakan. Makanya dites,” ucapnya menjelaskan.

Ilustrasi truk di jalan – dok.bisnis.com

Pernyataan senada diungkapkan Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (ILMATAP) Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika saat ditemui Motoris di tempat yang sama. “Kalau dari pemerintah sendiri, melalui BPPT sudah dilakukan tes. Hasilnya tidak ada masalah. Tapi kalau soal standar Euro IV itu soal lain, kan penerapan standar ini untuk mesin diesel baru tahun 2021,” kata dia.

Respon beragam
Sementara itu, di kalangan APM kendaraan bermotor memiliki pandangan yang beragam soal penerapan mandatori B20 ini. Direktur Penjualan dan Promosi PT Hino Motor Sales Indonesia (HMSI) Santiko Wardoyo mengaku banyak truk-truk Hino yang dimiliki pengusaha angkutan telah menggunakan biodiesel B20.

“Selama ini fine-fine saja. Enggak ada masalah. Itu laporan yang masuk ke kami. Ya memang, kalau harus sering membersihkan filter iya diakui. Tetapi, dampak positifnya bagi Indonesia secara keseluruhan juga harus dilihat dong. Kita punya sumberdaya melimpah, sawit. Artinya, ketergantungan impor kita terhadap solar juga bisa berkurang. Itu kan positif,” ungkapnya saat ditemui Motoris di arena GIIAS 2018, ICE Serpong, Tangerang, Selasa (1/8/2018).

Terkait dengan kesesuaian dengan standar Euro IV, seperti halnya Jongkie dan Putu, Santiko menyebut itulah yang menjadi tantangan bagi Pertamina atau pihak lain yang menyediakan biodiesel B20 atau B30. Penyesuaian harus segera dilakukan.

“Tapi saya rasa bisa dilakukan itu. Kan teknologinya, saya yakin kita juga punya. Sumberdaya untuk itu, para periset, ahli-ahli di lembaga atu perguruan tinggi juga banyak. Apalagi standar Euro IV itu untuk kendaraan disel baru tahun 2021,” kata dia.

Ilustrasi truk Hino – dok.istimewa

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman mempertanyakan kesesuaian antara biodiesel dengan standar Euro IV. Pasalnya, kata dia, pengalaman selama ini menunjukan pemakaian biodiesel B20 menjadikan konsumsi BBM truk boros.

Selain itu, para pengemudi harus lebih banyak mengganti filter bahan bakar. Borosnya konsumsi BBM menjadikan emisi gas buang juga lebih banyak. “Jadi ini yang menjadi permasalahan,” ucapnya saat dihubungi Motoris beberapa waktu lalu.

Sedangkan Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia, Ernando Demily menilai penggunaan bahan bakar biodiesel B20 akan membuat spesifikasi teknis kendaraan di dalam negeri berbeda dengan pasar global. Hal ini bisa menimbulkan masalah.
“Jadi saat ini kami masih studi dulu soal biodiesel B20 ini,” ucapnya saat dihubungi Motoris belum lama ini. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This