LCGC Jilid Dua, Harga Bisa Tak Murah Lagi

LCGC Jilid Dua, Harga Bisa Tak Murah Lagi

Ilustrasi, Toyota Agya di booth Toyota GIIAS 2017 - dok.halloriau.com

Tangerang, Motoris – Pemerintah saat ini tengah melakukan harmonisasi tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang  salah satu topiknya adalah tentang Low Cost Green Car(LCGC). Dalam pembahasan harmonisasi ini dibahas tentang kemungkinan tetap mempertahankan tarif PPnBM 0% atau pembebasan tarif tersebut dicabut.

“Kalau nantinya tidak lagi ber-PPnBM 0% tentunya harganya akan mahal. Apalagi start harga dari LCGC itu bukan lagi mengacu pada awal  program LCGC pertama tahun 2013 lalu. Tentunya, harga dasarnya pada saat ini,” papar Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, saat ditemui di arena Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018, ICE BSD City, Tangerang, Kamis (2/8/2018).

Lantaran itulah, lanjut Jongkie, saat ini pihaknya menunggu hasil harmonisasi tersebut. Dia berharap, apapun hasil proses ini, posisi LCGC sebagai mobil dengan harga terjangkau karena sebagai mobil ramah lingkungan dengan harga yang terjangkau  juga dipertimbangkan.

Sebab, lanjut dia, LCGC  merupakan mobil  bermesin kecil dengan tingkat konsumsi bahan bakar yang lebih irit. Jika pada LCGC  jlid pertama yang hingga saat ini masih beredar, tingkat konsumsi BBM 1:20 km, maka di jilid kedua pabrikan juga berusaha meningkatkannya.

“Kan di proses harmonisasi PPnBM ini topik lainnya yang dibahas adalah soal carbon tax. Dalam topik ini dibahas pemakaian bahan bakar menjadi salah satu kriteria penentuan PPnBM. Nah, kalau konsumsi BBM LCGC lebih dari 1:20 km, ya tentu tarif PPnBM juga akan lebih rendah. Jadi, ini juga tantangan bagi industri untuk bagaimana menghasilkan produk LCGC yang benar-benar irit BBM,” papar Jongkie menjelaskan.

Ketua I Gakindo, Jongkie Sugiarto – dok.Istimewa

Peta jalan industri

Jongkie yang juga mantan petinggi PT Hyundai Mobil Indonesia (HMI) juga berharap program LCGC ini terus berjalan. Artinya, LCGC jilid dua terealisasi. Sebab, kata dia, hal ini juga sesuai dengan roadmap industri nasional yang ditempuh oleh pemerintah.

“Selain itu, semua aspek yang ingin dicapai dengan kehadiran LCGC juga sudah terwujud. Mulai dari investasi, penyerapan tenaga kerja, alih teknologi, penumbuhan industri komponen dalam negeri, sampai penggunaan koponen lokal yang mencapai 94%,” ucapnya.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, yang ditemui di tempat yang sama mengatakan pihaknya memang telah menyiapkan peta jalan industri atau road map industri kendaraan bermotor.

“Di road map tersebut sudah ditetapka bahwa di tahun 2020 kita harapkan dari 1,5 juta unit kendaraan yang dibuat, 10%-nya kendaraan rendah emisi atau LCEV.  Nah, KBH2  atau yang oleh umum disebut LCGC, itu kan konsumsi bahan bakarnya minimal 1: 20 km,” ungkapnya.

Ilustrasi, Daihatsu Ayla – dok.Istimewa

Jika tingkat keiritan konsumsi LCGC ingin ditingkatkan menjadi 1:30 km misalnya, maka mobil jenis itu bisa ditambahi motor listrik. Dengan kata lain nanti akan muncul kendaraan hybrid yang berharga murah, atau LCGC hybrid.

“Jadi persentuhannya itu di sana. Kita jalan terus KBH2 dan pengembangan mobil ramah lingkungan terelektrifikasi juga jalan, nanti peningkatan terus hingga mobil listrik murni, dan seterusnya,” papar Putu. (Ara)

 

 

CATEGORIES
TAGS
Share This