Program Minta Diperpanjang, Transmisi LCGC Masih Impor

Program Minta Diperpanjang, Transmisi LCGC Masih Impor

Jakarta,Motoris – Meski kalangan industri otomotif di Tanah Air meminta agar program Kendaraan Bermotor Hemat Bahan Bakar dan Harga Terjangkau (KBH2) atau yang oleh publik disebut dengan Low Cost Green Car (LCGC) alias mobil murah dilanjutkan, ternyata masih ada satu komponen belum dilokalkan yakni transmisi. Mahalnya harga komponen itu menjadi alasan mengapa belum dibuat oleh lokal.

“Dari kajian-kajian yang dilakukan, memang kandungan lokal LCGC terutama yang dibuat merek terkenal di Indonesia sudah 90-93%. Tetapi, dari informasi pribadi yang saya terima, komponen transmisi masih belum dibuat di sini,” papar kolega Motoris di Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, tanpa menyebut merek LCGC tersebut saat dihubungi, di Jakarta, Selasa (14/8/2018).

Padahal, kata dia, soal alih transfer teknologi terutama di komponen-komponen vital merupakan salah satu syarat bagi LCGC mendapatkan insentif fiskal berupa pemebasan dari pengenaan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM). Sedangkan transmisi dan mesin adalah dua dari sembilan bagian yang disyaratkan untuk dilokalkan.

“Saat ini proses evaluasi terhadap program LCGC yang dimulai tahun 2013 lalu, atau setelah lima tahun masih dilakukan secara intensif. Kalangan industri minta dilanjutkan,” ujar sang kolega.

Baca juga: Negara Boncos Rp 1,8 T untuk LCGC Setiap Tahun

Ilustrasi LCGC Honda, All New Brio diluncurkan di GIIAS 2018 – dok.Motoris

Dinilai masih wajar
Sebelumnya, Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto yang ditemui Motoris di arena GIIAS 2018, Jumat (3/8/2018) juga menegaskan permintaan agar program LCGC itu dilanjutkan. Dia juga tak menampik masih ada komponen vital terutama transmisi yang masih diimpor.

“Ya kita tidak jangan melihatnya hanya dari satu bagian saja. Kan secara total persyaratan kandungan lokal ini sudah terlampui. Sudah hampir 100%. Kalau pun ada (komponen) yang masih diimpor dan itu vital, enggak masalah sebenarnya,” papar dia.

Terlebih untuk membuat transmisi juga membutuhkan investasi yang mahal. Selian itu, pabrikan-pabrikan pembuatnya juga harus melihat skala ekonomi layak atau tidaknya jika dibuat sendiri, dengan ukuran volume penjualan mobil yang menggunakannya.

“Jadi dilihat feasible atau tidak. Melihat volume penjualannya (minimal 2 juta unit). Jadi saya kira wajar saja jika masih impor. Di luar negeri bahkan di negara-negara Eropa atau Amerika juga banyak kok pabrikan merek terkenal yang juga impor (transmisi dan mesin) atau membeli dari pabrikan lainnya,” ungkap Jongkie.

Baca juga: Investasi Rp 17 T Lebih, Gaikindo Minta LCGC Berlanjut

Ilustrasi, LCGC Toyota, Agya versi balap untuk tim balap TTI yang membetot perhatian pengunjung booth Toyota – dok.Motoris

Oleh karena itu, dia minta agar masyarakat dan pemerintah melihat capaian yang dicatatkan oleh LCGC selama lima tahun saat ini. Menurutnya, program ini sangat bagus setelah dilaksanakan sejak tahun 2013, sebab investasi yang digelontorkan hingga penterapan tenaga kerja terjadi.

Lebih irit
Sementara, sehari sebelunya, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (ILMATAP), Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika yang ditemui Motoris di tempat yang sama menyebut, dari hitungan auditor independen, hingga 2017 investasi yang dibenamkan pabrikan untuk LCGC mencapai Rp 17 triliun.

“Artinya, sesuai dengan harapan tumbuhnya investasi di sektor otomotif terkait program ini (LCGC),” ucapnya.

Dia  menyebut jika dilanjutkan maka spesifikasi teknis LCGC akan meningkat terutama dalam hal emisi gas buang CO2. Emisi ini, lanjut dia, tentu juga terkait dengan tingkat konsumsi bahan bakar.

Ukuran tersebut sesuai dengan harmonisasi PPnBM yang menggunakan acuan tingkat emisi karbon untuk pentarifannya. Dalam harmonisasi itu ditetapkan, untuk KBH2 atau LCGC emisi gas buang harus 100 gram/kilometer.

“Kalau fuel economy (konsumsi BBM) itu kan menjadi ukuran yang paling mudah dan nyata dilihat ya. Sebab, jumlah bahan bakar yang dibakar di mesin (mobil) itu menunjukan berapa emisi gas karbon yang dihasilkan,” kata Putu.

Artinya, jika saat ini ditetapkan standar gas buang 100 gram/kilometer, hal itu setara dengan konsumsi BBM 1:23 kilometer. Ada peningkatan dibanding konsumsi BBM LCGC saat ini yang 1:20 kilometer. (Ara)

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya-MIskin Model Baru, Daihatsu Menjemukan di GIIAS 2018.

 

 

CATEGORIES
TAGS
Share This