Jelang Diberlakukan, Pengusaha Masih Ributkan Biodiesel B20

Jelang Diberlakukan, Pengusaha Masih Ributkan Biodiesel B20
Ilustrasi Biodiesel - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Pemerintah telah memutuskan untuk memperluas penggunaan biodiesel atau solar bercampur minyak kelapa sawit 20% alias B20 dan berlaku efektif mulai 1 September. Namun, pengusaha angkutan ternyata masih teriak bahwa Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis ini mempunyai dampak buruk terhadap mesin.

Direktur Utama Perusahaan Otobus (PO) SAN, Kurnia Lesani Adnan misalnya, mengaku memiliki pengalaman buruk dengan biodiesel. Bahkan, dia menegaskan penggunaan BBM B20 itu bertolak belakang dengan perkembangan teknologi otomotif saat ini.

Sani – panggilan akrabnya – menyebut saat ini armada busnya menggunakan solar B10, ternyata performa mesinnya mengalami masalah. “Akibatnya terjadi blocking pada filter atau penyaring BBM (solar) pada mesin bus,” ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Ketika terjadi blocking pada filter, lanjutnya, risiko kecelakaan juga sangat tinggi, yakni ketika bus dalam posisi jalan menanjak dengan kecepatan tinggi. “Jika kualitas solar yang tidak sesuai dengan kriteria mesin membuat tenaga mesin menjadi drop/low compretion secara mendadak akibat filter BBM tersumbat,” kata dia menjelaskan.

Armada bus milik PO SAN – dok.PO SAN

Dengan menggunakan solar B10, PO SAN harus sering mengganti filter BBM lebih cepat dari jadwal yang di rekomendasikan oleh pabrikan (15.000 km). “Bisa dibayangkan jika kami sebagai operator lalai akan hal ini,” ucapnya.

Sikap Organda
Sementara itu, sikap Organisasi Angkutan Darat (Organda) seperti yang diungkapkan Sekretaris Jenderal-nya, Ateng Aryono, mengapresaisi langkah pemerintah untuk menerapkan kebijakan perluasan BBBM B20. Namun, di sisi lain, Ateng juga mempertanyakan kualitas BBM tersebut.

Menurutnya, kebijakan itu akan menghemat biaya yang dikeluarkan negara untuk BBM. Terlebih, dengan penggunaan produk pertanian – Minyak kelapa sawit – maka sifat BBM ini, lanjut Ateng, bisa diperbarui.

“Pada akhirnya akan menghemat penggunaan minyak solar. Sehingga ketergantungan impor bahan bakar minyak juga bisa dikurangi,” ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Namun, di saat yang sama, Ateng juga mempertanyakan kualitas BBM B20. Lantaran itulah, Ateng mengaku pihaknya masih menunggu rekomendasi resmi dari Angota Pemegang Merk (APM), Gaikindo, serta para akademisi untuk ikut menerapkan kebijakan BBM B20 tersebut.

Ilustrasi kelapa sawit, minyaknya untuk campuran biodiesel – dok. RaboRessearch

Terlebih, kata dia, perusahaan jasa transportasi bertujuan untuk melayani konsumen dengan mengutamakan keamanan dan kenyamanan. Sehingga, dua aspek tersebut wajib dijadikan pertimbangan dalam penggunaan BBM jenis ini.
“Sehingga, jangan sampai terjadi hal-hal yang menggangu pelayanan perusahaan terhadap konsumen karena adanya kebijakan tersebut,” imbuhnya.

Sudah diuji
Sebelumnya, saat ditemui di ICE, BSD City, Tangerang, Direktur Penjualan dan Promosi PT Hino Motor Sales Indonesia menyebut sampai saat ini tidak ada keluhan yang disampaikan oleh pengguna truk-truk Hino yang kendaraanya mengonsumsi BBM Biodiesel. “Tidak ada masalah, baik-baik saja. Tidak ada gangguan mesin,” ujarnya.

Meski, lanjut Santiko, pengguna truk memang harus disiplin dan rajin membersihkan filter BBM kendaraannya. Namun, yang pasti, penggunaan BBM Biodisel termasuk B20 memiliki manfaat yang jauh lebih besar dan demi kepentingan masyarakat maupun negara secara luas.

“Pemerintah bisa menghemat devisa. Tidak terantung impor, anggaran bisa digunakan untuk kepentingan yang lebih luas, seperti infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat. Pada akhirnya kepentingan ekonomi secara luas juga bisa diperhatikan. Apalagi, biosolar lebih ramah lingkungan,” paparnya.

Presiden Direktur PT Toyota Indonesia Motor Manufacturing (TMMIN) Warih Andang Tjahjono, yang ditemui di tempat yang sama mengatakan pihaknya telah melakukan uji terhadap BBM B20. Hasilnya, tidak ada masalah. Kendaraan penggunanya, tak megalami gangguan pada mesin.

Ilustrasi, Hino Indonesia hadir di GIIAS 2018 – dok.Motoris

“Aman-aman saja. Tidak ada masalah. Kita sudah melakukan pengujian itu,” ucapnya.

Sedangkan kolega Motoris di Kementerian Perindustrian mengatakan sikap enggan atau bahkan menolak yang diungkapkan oleh pengusaha itu karena tak mau keuntungangannnya terkurangi sedikit. Padahal, kata dia, hasil pengujian yang dilakukan selama ini membuktikan tidak ada masalah di kendaraan pengguna biodiesel, bahkan yang jenis B20 sekali pun.

“Mereka enggan karena tidak mau keuntungannya berkurang. Padahal, kalau pakai biosolar kan lebih ramah lingkungan. Marilah kita berpikir demi bangsa dan negara. Toh kalau mau ganti filter BBM, harganya itu cuma Rp 50.000,” ungkapnya saat dihubungi, Rabu (29/8/2018). (Kpr/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This