Banyak Maunya, Investasi Hyundai di Indonesia Belum Pasti

Banyak Maunya, Investasi Hyundai di Indonesia Belum Pasti
Logo Hyundai - dok.Car Logos

Jakarta, Motoris – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, menyebut sampai saat ini kabar tentang rencana investasi Hyundai Motors Company untuk membangun pabrik di Indonesia belum ada kepastian. Pabrikan otomotif asal Korea Selatan itu disebut belum memberi jawaban yang memuaskan.

“Belum ada (kepastian). Kami menilai perkembangannya biasa-biasa saja, belum bisa dijelaskan. Karena mereka (Hyundai) sepertinya ingin (membangun pabrik), tetapi minta (lebih banyak insentif) itu ya. Tetapi kita kan belum bilang iya (setuju) atau tidak…Kita tanya seperti ini mereka jawabnya begitu…kita tanya begitu jawabnya begini. Karena itu kita belum jelaskan perkembangannya.. kita masih komunikasikan,” paparnya usai rapat dengan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong, di Jakarta, Senin (3/9/2018).

Mantan Gubernur Bank Indonesia itu tak menampik informasi yang menyebut Hyundai masih mempermasalahkan biaya sewa lahan di Indonesia. Padahal, sebenarnya soal lahan merupakan hal yang biasa, karena di Korea pun lahan juga memiliki nilai.

Pemerintah, lanjut Darmin, sejatinya telah menyiapkan sejumlah insentif seperti tax allowance dan tax holiday untuk menarik investasi ke dalam negeri. Selain itu pemerintah juga tak mengubah soal struktur industri otomatif yang ada di Tanah Air hanya terkait rencana investasi sebuah perusahaan.

Sementara itu, Airlangga Hartarto di tempat yang sama mengatakan sampai saat ini pihaknya belum menerima surat resmi dari Hyundai terkait dengan rencana investasi tersebut. Menambahi pernyataan Darmin, dia menyebutpemerintah tidak akan memberikan perlakuan khusus kepada pabrikan itu termasuk mengutak-atik struktur industri otomotif yang ada.

Pria yang juga Ketua Umum DPP Partai Golkar itu mengatakan, struktur industri otomotif di Tanah Air sudah tertata sedemikian rupa, dimana komponen-komponen pendukung disiapkan oleh industri di dalam negeri. “Kan kita ada insentif-insentif seperti tax holiday. Insentif ini kan bukan ekslusif untuk satu perusahaan saja, tapi semua perusahaan (bisa mendapatkan),” ucapnya.

Ilustrasi, Menteri Koordinator Bidang Perekonoian Darmin Nasution – dok.Setkab.go.id

Bahkan, kata dia, juga memperhatikan industri-industri otomotif yang komponen pendukungnya disuplai industri lokal. Mereka, kata Airlangga, telah meminta agar pemerintah memperketat penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI). “Pemerintah berharap, hal itu bisa mencegah persaingan tidak sehat,” kata dia.

Kolega Motoris di PT Hyundai Mobil Indonesia (HMI) menolak berkomentar soal rencana investasi Hyundai tersebut. Sebab, kata dia, hal itu sepenuhnya urusan Hyundai Korea Selatan. “Kalau itu sepenuhnya urusan prinsipal kami di Korea. Jadi kami tidak punya hak untuk berkomentar,” kata dia.

Tetapi yang pasti, lanjutnya, proses produksi di Indonesia adalah salah satu langkah yang ingin ditempuh pabrikan semua merek untuk memenuhi harapan pemerintah agar industri otomotif memberi nilai tambah lebih ke perekonomian nasional.

“Selain itu, konsumen kan juga akan diuntungkan karena harga lebih terjangkau. Jadi perekonomian bergerak karena industri hidup, lapangan kerja tercipta, pajak masuk lebih banyak, harga produk lebih murah,” ujarnya saat dihubungi, Senin (3/8/2018) malam.

Kunjungan presiden
Darmin Nasution menyebut, pihaknya saat ini menyiapkan bahan-bahan yang akan disampaikan Presiden Joko Widodo jika ada pertanyaan dari pemerintah Korea Selatan terkait dengan investasi pada saat dia berkunjung ke negeri itu pada pekan depan.

“Kan minggu (pekan) depan Presiden dijadwalkan berkunjung ke Korea Selatan. Jadi nanti, bisa saja dibicarakan (soal Hyundai). Kalau sekarang mah kita tidak membicarakan secara khusus soal itu (Investasi Hyundai) ya karena belum ada perkembangan apa-apa,” paparnya.

Kolega Motoris di Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) berharap pemerintah juga bersikap fair terhadap industri otomotif yang ingin berinvestasi di dalam negeri. Siapa pun dan dari negara manapun tidak dibedakan perlakuannya. Terlebih, jika perusahaan tersebut sudah lama beroperasi di Indonesia.

All New Hyudai Santa Fe, salah satu model Hyundai yang menjadi andalan baru di pasar mobil Indonesia – dok.Motoris

“Sejauh itu sesuai dengan ketentuan yang ada, semestinya tidak dibedakan. Seperti kemarin dari China, ya semestinya untuk Hyundai juga tidak dibedakan. Sehingga industri otomotif di Indonesia bisa berkembang. Kita ingin mengalahkan Thailand. Kalau di sana kan prosedur dan persyaratan investasi bisa dibuat mudah, jadi tidak aneh kalau Thailand sekarang jadi basis produksi untuk ekspor brand-brand otomotif dunia,” ungkapnya saat dikonfirmasi Senin (3/9/2018) malam. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This