Pakai B20 Butuh Biaya Tak Kecil, Pengusaha Minta Insentif

Pakai B20 Butuh Biaya Tak Kecil, Pengusaha Minta Insentif
Ilustrasi, angkutan truk di jalan - dok.Harianterbit.com

Jakarta, Motoris – Kalah pelaku usaha pengguna kendaraan bermesin diesel meminta agar pemerintah memberikan insentif bagi kalangan usaha yang masih banyak menggunakan kendaraan model sebelum tahun 2016 terkait dengan kewajiban konsumsi BBM Biodiesel B20. Pasalnya, kendaraan tersebut membutuhkan komponen tambahan untuk mengkonsumsi BBM B20.

“Sedangkan dari Agen Pemegang Merek (APM), kendaraan yang dibuat sebelum tahun 2016 sudah tidak memiliki garansi lagi. Padahal, kendaraan –kendaraan (bermesin diesel) ini untuk menunjang kegiatan ekonomi produktif,” tutur Sekretaris Jenderal Organisasi Angkutan Darat (Organda) Ateng Haryono saat dihubungi, Selasa (11/9/2018).

Insentif tersebut bisa diberikan dalam bentuk pembebasan bea impor suku cadang yang dibutuhkan atau pembebasan Pajak Pertambahan Nilai-nya. Insentif dinilai cukup wajar karena kondisi saat ini merupakan kondisi yang berubah dari yang semestinya.

Pernyataan serupa diungkapkan Ketua Bidang Distribusi dan Logistik Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman. Terlebih, kata dia, biaya untuk penambahan komponen pada truk-truk yang dibuat sebelum tahun 2016 juga tidak kecil.

Ilustrasi, truk di jalan tol – dok.Poskotanews.com

“Karena truk-truk tersebut perlu dipasang water separator. Karena tidak semua truk model sebelum tahun 2016 sudah dilengkapi itu (water separator). Komponen ini berfungsi untuk memisahkan air yang terkandung di biodiesel. Sebab, kalau air itu masuk ke mesin akan menyebabkan kerusakan. Biayanya tambah mahal lagi untuk perbaikannya,” paparnya saat dihubungi, Selasa (11/9/2018).

Untuk sebuah water separator, pengusaha harus merogoh kocek Rp 5 juta. Sehingga, jika mereka memiliki 10 unit truk maka harus mengeluarkan biaya hingga Rp 50 juta.

“Belum lagi, harus rajin membersihkan filter bahan bakar. Bahkan, membersihkan tangki bahan bakar, karena sifat minyak sawit (20%) yang dicampurkan ke solar itu sifatnya deterjensi, sehingga merontokan kotoran-kotoran di tangki. Kalau kotoran ini masuk ke mesin bisa rusak mesin,” terang CEO Lookman Djaja Group itu.

Kepastian blending
Sementara itu, kolega Motoris di kalangan pengusaha angkutan bus menyebut satu hal lagi yang perlu dipastikan oleh pihak yang bertanggungjawab untuk melakukan produksi biodiesel atau B20 adalah kualitas BBM tersebut.

“Dalam hal itu Pertamina. Dia harus memastikan kualitas blending atau pencampuran minyak nabati atau minyak sawit 20% ke minyak diesel itu benar-benar sesuai seperti spesifikasi dan kualitas yang ditawarkan semula. Seperti teori yang digembar-gemborkan saat ini,” ungkapnya saat dihubungi.

Ilustrasi, angkutan bus – dok.Sindonews.com

Sebab, kualitas BBM tersebut sangat penting. Terlebih, lanjut dia, banyak dari armada bus yang dimiliki pengusaha merupakan bus buatan pabrikan Eropa yang sejatinya tidak cocok untuk mengkonsumsi biodiesel jenis itu.

“Saat mengonsumsi B10 saja, itu sudah sering ditemukan banyak gel di saringan BBM. Apalagi B20. Terlebih, jika proses blending (pencampurannya) tidak tepat. Karena itu, kita minta jaminan kepastian ini,” kata salah seorang anggota Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia ini. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This