Sampai Akhir Tahun, Otomotif Diperkirakan Masih Defisit

Sampai Akhir Tahun, Otomotif Diperkirakan Masih Defisit
Ilustrasi ekspor mobil Toyota - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Hingga Juli lalu atau dalam kurun waktu Januari-Juli lalu defisit neraca perdagangan sektor otomotif mencapai US$1,06 miliar atau melonjak hampir dua dua kali lipat dibanding periode sama tahun 2017 yang senilai US$630,83 juta. Defisit sektor ini diperkirakan masih akan terjadi hingga akhir tahun.

“Karena sampai Agustus masih defisit karena masih adanya peningkatan impor sektor otomotif terutama kendaraan komersial seperti truk dan pikap yang merupakan barang modal. Selain itu ada excavator dan kendaraan berat untuk sektor konstruksi,” papar kolega Motoris di Kementerian Perdagangan saat dihubungi di Jakarta, Minggu (23/9/2018).

Menurutnya, tahun ini sejumlah merek memang menggenjot ekspor yakni Mitsubishi yang menggirim Xpander ke luar negeri, kemudian Toyota, dan rencananya PT Suzuki Indomobil Sales yang akan mengekspor All New Eertiga ke Meksiko dan Filipina. Namun, secara volume, ekspor ini masih lebih kecil dibanding impor yang sudah disepakati.

“Jadi secara kumulatif dari Januari hingga akhir tahun nanti, diperkirakan impor masih lebih banyak,” kata sang kolega.

Ilustrasi, ekspor Mitsubishi Xpander – dok.Kompas.com

Terlebih kebijakan pengetatan impor melalui instrument penaikan tarif PPh Pasal 22 hingga menjadi 10% dan bea masuk impor atau impor duty hingga menjadi 50%, hanya menyentuh impor mobil 3.000 cc dan motor 500 cc ke atas. Sementara secara volume impor mobil kelas itu volumenya hanya kurang dari 0,02% dari total impor mobil.

Naik tipis
Sementara itu, Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto yang dihubungi mengatakan, ekspor mobil tahun ini diperkirakan naik dibanding tahun lalu meski tipis. Dia mengakui sepanjang sester prtama lalu ekspor mengalami hambayan setelah Vietnam yang merupakan salah satu pasar ekspor memberlakukan pengetatan impor.

Namun, pengetatan itu sudah biasa diatasi. Meski, pengendoran itu baru efektif teradi pada September ini. “Sehingga diperkirakan ekspor akan sedikit lebih banyak dibanding tahun lalu yang sebanyak 235.000 unit. Mudah-mudahan,” ucapnya. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This