Ekspor Motor dan Jualan Domestik, Bagai Bumi dan Langit

Ekspor Motor dan Jualan Domestik, Bagai Bumi dan Langit
Ilustrasi, proses produksi New Honda CBR150R versi facelift - dok.AHM

Jakarta, Motoris – Meski tren menunjukan naik, namun ekspor sepeda motor Indonesia ke sejumlah negara masih timpang dibanding dengan jumlah konsumsi domestik, sejak 20 tahun lalu. Tapi, tak usah terlalu jauh menengok ke belakang, cukup sembilan tahun terakhir, mulai 2010 saja.

Perbandingan antara penjualan domestik dengan ekspor seperti yang dilaporkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) terlihat ketimpangan itu begitu menganga lebar.

“Memang harus diakui, trennya cukup bagus. Meskipun ada naik turunnya di beberapa periode selama 20 tahun terakhir. Tetapi sejak 2015 sampai sekarang trennya bagus. Ada kenaikan,” tutur kolega Motoris dari Kementerian Perdagangan, Jumat (19/10/2018).

Sang kolega tak salah ucap. Faktanya, data AISI menunjukan, 2010 misalnya, distribusi sepeda motor di pasar domestik mencapai 7.369.249 unit, sedangkan ekspornya hanya 29.395 unit. Setahun kemudian, 2011, domestik 8.012.540 unit, dan ekspor 30.995 unit. (data lengkap lihat tabel di bawah)

Baca juga: Soal Ekspor, Data Toyota dan Daihatsu Dinilai Rancu

Perakitan motor Yamaha – dok.Okezone.com

Sang kolega berharap, kalangan industri sepeda motor nasional juga terus menggenjot ekspor sesuai dengan program pemerintah yang ingin melipatgandakan ekspor. Sebab, selain mendulang devisa, kegiatan ekspor juga akan memperbesar industri itu sendiri.

“Kalau ekspor berkembang bukan saja industrinya saja yang berkembang, tetapi devisa juga masuk dan penyerapan tenaga kerja juga terjadi. Jadi multiplier effect-nya jauh luar biasa,” ucap sang kolega.

Terbesar
Sementara, Ketua Umum AISI Johannes Loman di sela pemaparan persiapan penyelenggaraan Indonesia Motorcycle Show 2018 di Jakarta, belum lama ini, mengatakan jumlah sepeda motor yang diekspor selama sembilan pertama tahun ini tercatat sebanyak 438.530 unit. Jumlah ini naik 41,8% dibanding periode sama tahun lalu.

Bahkan dia meyakini, jumlah ekspor hingga tutup tahun 2018 nanti, bisa mencapai 530.000-an unit. “Ini menjadi bukti, bahwa industri sepeda motor memiliki peran yang penting karena tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga untuk ekspor,” kata dia.

Data AISI menyebutkan di rentang waktu Januari-September 2018, Yamaha tercatat sebagai merek yang paling banyak mengekspor. Lebih dari 240.000 unit motor buatan Yamaha Indonesia dilego ke luar negeri.

Baca juga: Kawasaki Ninja 125 Buatan Indonesia, Hanya untuk Ekspor

Suzuki Nex II, motor baru Suzuki yang akan diekspor PT SIS tahun ini, saat diperkenalkan di gelaran IIMS 2018 – dok.Motoris

Jumlah tersebut setara dengan 55% dari total ekspor. Sedangkan Honda berada di urutan kedua terbesar dengan porsi 28,5%. Setelah itu, Suzuki dengan kontribusi 7,8% dan Kawasaki yang menyumbang 2,4%.

Tapi, kalau dilihat dari pertumbuhan kinerja ekspor, Kawasaki terbukti sebagai merek dengan lompatan ekspor tertinggi. Merek ini mencatatkan kenaikan ekspor sebesar 325%. Kemudian disusul Suzuki yang tumbuh 82,1%, Honda 45,3%, Yamaha 33,7% dan TVS yang sebesar 28,4%.

Penikmat pasar domestik

Catatan Motoris, dari data yang diolah, merek Jepang ini terlalu menikmati pasar domestik dan nyaris melupakan ekspor sebagai penambah devisa negara, setidaknya dalam medio 2010-2013. Baru setelah pemerintahan Jokowi yang mendesak industri menggenjot ekspor, mulai 2014, terjadi lonjakan ekspor lumayan.

Jumlah devisa yang disedot pemilik merek (Jepang) terlalu besar ketimbang ada yang diperoleh negara (Indonesia) dari ekspor sepeda motor di Indonesia. Coba lihat saja seberapa besar porsi lokal dalam saham kepemilikan perusahaan motor asal Jepang,  sebut saja PT Astra Honda Motor (AHM), PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), PT Suzuki Indomobil Motor (SIM), PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI), dan PT TVS Motor Company Indonesia.

Paling besar porsinya, adalah AHM, di mana Grup Astra menguasai 50 %, sedangkan merek lain didominasi Jepang. Jadi buat AHM, misalnya ada margin keuntungan bersih Rp 10 juta, Rp 5 juta akan disedot Jepang. Merek lain, porsi pembagian Jepang jauh lebih besar.

Jepang sudah terlalu mengakar, sampai-sampai merek lokal banyak yang cuma bisa mengais recehan dari sisa-sisa serpihan kue yang sudah habis dimakan.

Data ini juga fakta kalau Indonesia memang hanya dijadikan pasar utama Jepang bukan sebagai basis produksi global. Fasilitas riset dan penelitan masing-masing merek Jepang ini juga berkumpul di Thailand, bukan Indonesia. Kebijakan prinsipal Jepang yang harus dikritik demi kemajuan industri Indonesia.

Yamaha sudah memulai, karena lumayan memasok ekspor ke negara maju dunia. Tapi, Honda penikmat pasar terbesar di Indonesia, terlalu kecil porsinya. Suzuki dan Kawasaki sudah mulai ekspor, meski porsi domestiknya tidak begitu dominan seperti Honda.

(Ara/Sna)

Perbandingan Ekspor dan Penjualan Domestik Motor

Tahun    Ekspor (Unit)    Domestik (Unit)

2010             29.395           7.369.249

2011              30.995          8.012.540

2012              77.129           7.064.457

2013              27.135           7.743.879

2014              41.746          7.867.195

2015           228.229          6.480.155

2016           284.065          5.931.285

2017            434.691          5.886.103

2018*)        438.530         4.722.242

Sumber: AISI, diolah

*) angka ekspor dan penjualan domestik sepanjang Januari-September 2018

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, TWITTER @MotorisID, dan FB @MotorisINdonesia, buat info berita dan grafis terkini lainnya. “Selain Indonesia, SUV Wuling Juga Gempur India di 2019.”

CATEGORIES
TAGS
Share This