Teknologi Masa Depan Masih ‘Sebatas’ Impian di IMOS 2018

Jakarta, Motoris – Hajatan Indonesia Motorcycle Show (IMOS) yang merupakan gelaran rutin saban dua tahun kembali digelar di Jakarta Convention Center (JCC) pada 31 Oktober – 4 November 2018. Tema yang diusung di perhelatan kali ini juga cukup mentereng yakni “Indonesia Future Technology”.

Secara terminologi, kata Future dan Technology, memiliki arti sebagai teknologi untuk masa depan. Sebuah teknologi yang akan digunakan dan niscaya digunakan di masa yang akan datang. Bukan teknologi yang sudah ada, apalagi yang telah usang.

Namun, jika kalimat itu harus diartikan yang lebih sempit lagi karena ‘keterbatasan’ lingkup dan sesuai dengan realitas empiris, boleh dimaknai sebagai teknologi yang sudah dikembangkan. Atau mulai diadopsi meski belum marak, sehingga akan marak di masa mendatang.

Kalaupun digunakan arti yang kedua, maka tema “Indonesia Future Technology” telah mengalami penyusutan makna. Bukan lagi teknologi masa depan, melainkan teknologi saat ini atau singkatnya terkini. Sehingga, tema itu hanya sebatas slogan belaka.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berkunjung melihat booth peserta IMOS usia membuka acara tersebut – dok.Motoris

Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Johannes Loman juga menegaskan pengertian yang pertama maupun kedua. Pria yang juga menjabat Wakil Presiden Direktur PT Astra Honda Motor (AHM) itu menyebut, perhelatan IMOS menjadi wahana transfer teknologi masa depan.

“Kami berharap IMOS ini menjadi barometer penyajian teknologi masa depan dan menjawab kebutuhan masyarakat terhadap sepeda motor di Indonesi. Sehingga tercipta transfer knowledge,” tutur Loman.

Namun, pada sisi lain, Loman menyebut di pameran ini masyarakat juga bisa mendapatkan informasi terkini tentang perkembangan teknologi di sepeda motor yang sekarang tengah terjadi. Oke, itu tak masalah, khususnya jika kita memang mengartikan pameran ini selain menyuguhkan teknologi masa depan juga teknologi terkini.

Dan faktanya, memang banyak bertebaran motor versi produksi – meski mayoritas bukan model yang benar-benar  ‘ter’-baru – dipamerkan. Mereka disuguhkan dengan wajah anyar plus imbuhan secuil pemanis teknologi baru seperti Antilock Baring System (ABS), peranti dengan penggerak elektrik, keyless entry, dan sejenisnya.

“Beragam model telah lahir untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang juga terus berkembang. Produk baru terus ditunggu publik melalui pameran IMOS ini. Di sini (IMOS) publik dapat memperoleh update perkembangan terkini motor baru, teknologi, atau konsep untuk masa depan,” kata Loman.

Ilustrasi suasana booth salah satu peserta IMOS 2018 yang berlangsung di Jakarta Convention Center – dok.Motoris

Pernyataan serupa diungkapkan oleh Menteri Perindustrian Ailrangga Hartarto, saat membuka hajatan tersebut. “Saya bangga dengan kerja keras Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) untuk menyelenggarakan pameran otomotif khusus sepeda motor ini. Di pameran ini kita bisa melihat sejauh mana perkembangan teknologi sepeda motor di tanah air dan seperti apa harapan ke depan,” paparnya.

Lantas bagaimana teknologi masa depan yang secara riil diusung ke pameran ini? Sepi dan tak seperti tema yang digaungkan. Begitulah jawaban tepatnya.

Hanya Honda
Ternyata dari peserta yang mengikuti – baik anggota AISI maupun non anggota – Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, KTM, Royal Enfield, Peugeot Motocycles, SYM, SM Sport, Nozomi, Vespa dan Piaggio, hanya Honda saja yang menyuguhkan secara kasat mata dan mendeklarasikan konsep berteknologi masa depan.

Melalui PT Astra Honda Motor, Honda memamerkan teknologi masa depan yang disuguhkan melalui konsep Honda PCX Listrik dan Honda PCX Hybrid. Bahkan model terakhir itu sudah dipasarkan dan dipesan lebih dari 540 unit.

Selebihnya, masih kosong melompong. Di booth Yamaha misalnya, tidak ada teknologi masa depan yang disuguhkan di ajang ini. Begitu pun dengan Suzuki dan Kawasaki. Mereka seolah paceklik.

Paradoks antara tema dengan realita IMOS diakui oleh sejumlah pengunjung. Christian, 32 tahun, adalah seorang pengunjung yang mempertanyakan hal itu. “Kita bacanya di media, temanya Future Technology ya. Bayangan saya sebelum datang adalah bakal ada motor listrik,  motor pakai biofuel atau ethanol, bahkan saya kira ada yang berbahan bakar hridrogen. Eh, enggak tahunya motor-motor yang sudah ada cuma ada tambahan ABS, desainnya beda. Itu saja. Itu kan bukan teknologi di masa depan,” paparnya diiringi tawa saat ditemui Motoris di arena IMOS 2018.

Konsep Honda PCX lstrik dipamerkan Astra Honda Motor di gelaran IMOS 2018 – dok.Motoris

Keheranan juga diungkapkan oleh Alvin Lukmanto. Namun, dia akhirnya mengaku mahfum saat menyadari IMOS ternyata tak lebih dari cara untuk berjualan. Aspek pragmatisme untuk menjadi etalase penjualan jauh lebih dominan, meski hal itu tak pernah diucapkan.

“Ya, tadinya saya juga bertanya-tanya dimana nih teknologi masa depannya. Kalau Cuma tambah ABS (Antilock Braking System), teknologi injeksi, keyless entry, itu mah bukan teknologi masa depan. Itu sudah using malah. Tapi akhirnya saya coba memahami bahwa gelaran ini untuk jualan saja, maklum akhir tahun,” ungkap dia.

Sementara, Ketua Bidang Komersial AISI yang juga Ketua Penyelenggara IMOS 2018 menyebut, teknologi masa depan sudah dihadirkan yakni konsep skutik maxi Honda PCX bersumber tenaga dari listrik. “Ya, mungkin Honda ini juga merangsang yang lain agar mengikuti seperti itu,” kata dia saat dihubungi Motoris, Kamis (1/10/2018).

Tapi, Sigit menolak jika disebut gelaran ini hanya untuk menonjolkan penjualan. Menurutnya, ajang unjuk teknologi lebih dikedepankan ketimbang penjualan. Kendati faktanya sangat-sangat minim. “Sehingga, tidak ada target penjualan ditetapkan di sini,” imbuhnya. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This