Kode Keras Nissan Lewat Predikat Importir Terbaik

Kode Keras Nissan Lewat Predikat Importir Terbaik

Jakarta, Motoris.id – PT Nissan Motor Indonesia (NMI) merayakan prestasinya menyabet penghargaan dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai  – Kantor Pelayanan Utama Tipe A Tanjung Priok,  sebagai “Mitra Utama Kepabeanan of The Year 2018”. Sederhananya, NMI tercatat sebagai perusahaan importir dengan pengurusan berkas-berkas paling beres selama 2018.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai atas penghargaan yang luar biasa ini. Ini adalah penghargaan atas kinerja bisnis kami untuk mempertahankan Nissan Indonesia sebagai Importir Mitra Utama Kepabeanan terbaik di Indonesia,” Isao Sekiguchi, presiden direktur NMI, dalam keterangan resminya, belum lama ini.

Dwi Teguh Wibowo, kepala kantor Bea Cukai Tanjung Priok, mengatakan, NMI mendapatkan gelar ini karena beberapa faktor. Penilaian dilakukan berdasarkan pengguna Pertukaran Data Elektronik (PDE) Internet PEB terbanyak, waktu dwelling time paling singkat, ketepatan penyerahan laporan bulanan yang diserahkan langsung PIC perusahaan, dan tidak ada pelanggaran kepabeanan.

Motoris melihat prestasi ini sebagai sesuatu yang patut dibanggakan oleh perusahaan, karena tak mudah bisa mendapat predikat “Importir Mitra Utama Kepabeanan terbaik di Indonesia”. Tapi, ada sisi lain yang coba ditangkap, semacam kode keras yang mau disampaikan Nissan, terkait masa depan bisnisnya di Indonesia.

Baca juga: Tes Tabrakan, Nissan Terra Raih Nilai Terbaik

Nissan Note e-power (NMI)

Mengandalkan Impor

Kenyataan ini juga didukung dengan fakta, pengumuman prinsipal Mitsubishi Motors Corporation (MMC)-Jepang, di Jakarta, Oktober 2018 lalu, yang memastikan bakal menambah kandungan lokal Xpander, dari 70 % menjadi 80 %, karena komponen mesin yang bakal dirakit lokal oleh NMI. Tidak main-main, NMI bertanggung jawab memproduksi mesin 1.5 liter (untuk Xpander) dengan kuota 160.000 unit per tahun.

Hana Maharani, Head of Communication NMI, juga sudah memberikan komentar kalau dua tahun lagi Nissan akan merakit mesin Xpander yang punya kubikasi 1.500 cc. “Tetapi secara jumlah belum bisa kita informasikan lebih jelas, tetapi akan diproduksi di pabrik kami yang ada di Purwakarta,” kata Hana, mengutip Kompas.com (23/10/2018).

Lewat keterangan ini juga mengerucut kalau akan ada rencana pengalihan fungsi pabrik Nissan dari perakit mobil, menjadi produksi komponen mesin. Status Nissan sebagai perakit kendaraan akan tetap melekat, tetapi bukan lewat merek dengan nama sama, tapi mengandalkan Datsun.

“Plant I (NMI) di Purwakarta, sudah beralih sekarang mau produksi mesin Xpander. Jadi perakitan tinggal Datsun saja (di Plant 2). Mau jadi importir full,” kata kolega Motoris dari kalangan industri pendukung otomotif, yang mengetahui rencana itu.

Ke depan, opsi impor nampaknya jadi paling masuk akal buat bisnis merek Nissan di Indonesia. Strategi impor CBU sudah dimulai dari Terra yang dipasok utuh dari Thailand, sejak akhir 2018 lalu. Model andalan lain, seperti X-trail dan Serena juga akan menyusul statusnya jadi CBU. Evalia sudah berakhir penjualannya di Indonesia, sedangkan Juke masih belum jelas keberlanjutannya.

Nissan masih akan menjual mobil rakitan Indonesia, tapi buatan Mitsubishi (Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia/MMKI), yakni Grand Livinia. Multi purpose vehicle andalan Nissan ini sekadar rebadge Xpander, tapi dengan banderol lebih mahal nantinya. Soal rencana Mitsubishi memasok Xpander buat dipasarkan oleh Nissan juga sudah disampaikan pihak Jepang (MMC).

Salah satu model yang Nissan ngebet buat dipasarkan di Indonesia, adalah Note E-Power. Mobil berteknologi hibrida, yang memanfaatkan mesin konvensional sebagai generator, penyuplai energi listrik ke baterai, kemudian diteruskan ke motor listrik di roda.

Tapi, regulasi mobil listrik masih pending dan kalau memang mau dirakit di Indonesia, tentu butuh investasi besar. Keputusan ini bakal sulit diambil Nissan, mengingat prestasi penjualannya jeblok di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Belum lagi, salah satu mitra lokal besar, MPM Group, sudah menyatakan berhenti berjualan Nissan, dan menjual aset jaringan pemasaran dan layanan purna jual ke pihak lain.

Motoris mengingatkan, informasi ini hanya penggalan dari beberapa cerita yang diperoleh redaksi. Boleh jadi benar atau malah salah sama sekali. Tetapi, kalau di masa depan, prediksi ini benar, sudah tidak perlu kaget lagi.

 

(sna)

CATEGORIES
TAGS
Share This