Industri Mobil Indonesia Masih Jago Kandang

Industri Mobil Indonesia Masih Jago Kandang
Ilustrasi Ekspor Toyota Kijang Innova - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Kinerja industri kendaraan bermotor roda empat – atau lebih – di Indonesia masih jauh dibanding dengan industri sejenis di Thailand dalam hal penyerapan tenaga kerja, perkembangan industri pendukung, hingga performa ekspor. Masih terbatasnya produk yang memenuhi kebutuhan pasar ekspor menjadi salah satu penyebab utama kondisi tersebut.

Seperti diungkapkan Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie D. Sugiarto, industri otomotif – khususnya pembuat kendaraan bermotor roda empat atau lebih – Indonesia bahkan tertinggal jauh dari Thailand. Padahal, Negeri Gajah Putih itu hanya memiliki penduduk (menurut data Worldsometers) sebanyak 69.037.513 jiwa pada tahun 2018 lalu.

Jumlah itu, hampir seperempat dari total jumlah penduduk Indonesia. Sementara, Produk Domestik Brutto (PDB)-nya pun tak berbeda dengan Indonesia yakni 60% disumbang oleh sektor pertanian (perkebunan). Tetapi untuk produk industri otomotif, Thailand jauh lebih moncer.

“Kita masih jago kandang, karena kita masih banyak berorientasi ke domestik. Sehingga, produksi kita pun lebih banyak ke mobil-mobil yang diinginkan pasar domestik. Total produksi kita tahun lalu masih 1,2 juta unit, sedangkan Thailand sudah 2,4 juta unit,” tutut Jongkie saat ditemui di UOB Plaza, Jakarta, Kamis (24/1/2019) lalu.

Ilustrasi ekspor All New Ertiga -dok.Motoris

Masih belum maksimalnya produksi itu juga tak lepas dari kinerja ekspor. Fakta berbicara, dari jumlah kendaraan yang dibuat oleh industri di Thailand itu, 1,1 – 1,2 juta unit diekspor ke berbagai negara. Sementara ekpor Indonesia masih di kisaran 300 – 350.000 unit.

“Lalu mengapa ekspor kita juga segitu? Karena produk-produk kita banyak yang tidak match dengan kebutuhan atau keinginan pasar ekspor. Di pasar ekspor itu banyak yang menginginkan SUV, double cabin atau pickup, dan sedan. Jadi enggak klop,” papar Jongkie.

Tidak klop
Lebih dari itu, masih banyak industri di Tanah Air yang memproduksi model dengan standar Euro 2. Padahal, kebutuhan pasar-pasar ekspor itu, minimal berstandar Euro 4.

Menurut Jongkie, sejatinya banyak peluang yang bisa dimanfaatkan untuk menggenjot ekspor selain di paar tradisional. Salah satunya Australia.

“Enggak usah jauh-ajuah ke Amerika Serikat atau Eropa yang memiliki rigiditas (syarat kualitas produk dan lainnya yang ketat) yang tinggi, ke Australia saja. Negara ini, pasar mobilnya 1,2 juta unit setahun. Dan sebagian besar mengandalkan impor. Tetapi di sana yang diinginkan sedan dan double cabin,” kata dia.

Oleh karena itu, lanjut Jongkie, jika Indonesia ingin berkembang juga harus memproduksi varian-varian yang juga diinginkan pasar ekspor. Produksi akan terjadi jika pabrikan membuatnya. Sedangkan pabrikan bersedia memproduksi jika pasar domestik juga ada penyerapan.

Ilustrasi perakitan mobil – dok.tienphong.vn

Sementara pasar menyerap jika harganya terjangkau. “Karena itu, seperti sedan misalnya, pajaknya perlu diharmonisasi, jadi tidak lebih mahal ketimbang lainnya. Kalau produk terserap produsen juga akan mau memproduksi, dan produknya juga diekspor,” jelas dia.

Proses produksi tak hanya akan mendatangkan keuntungan bagi negara karena ada pendapatan dari perpajakan, tetapi juga berkembangnya industri pendukung. Saat ini, industri komponen tier 1 di Indonesia hanya 500 perusahaan, sedangkan di Thailand sudah 700 lebih perusahaan.

Industri komponen tier dua dan tiga hanya 1.000 perusahaan. Padahal, di Thailand 1.700 lebih perusahaan. Akibatnya, jumlah tenaga kerja yang langsung terserap industri otomotif di Indonesia baru setengahnya dari jumlah pekerja di industri otomotif (khususnya mobil) di Thailand. (Ara)

 

 

CATEGORIES
TAGS
Share This