Ratapan Anak Tiri Nissan “Lavender”

Ratapan Anak Tiri Nissan “Lavender”
Rendering Nissan dengan basis Mitsubishi Xpander - dok.RZ Autoworks-

Jakarta, Motoris – PT Nissan Motor Indonesia (NMI) lagi menyiapkan peluncuran model rebagde dari Mitsubishi Xpander dalam waktu dekat di Jakarta. Model yang kerap dijuluki Nissan “Lavender” oleh netizen ini bakal meluncur pertengahan Februari 2019, berbarengan dengan Serena baru.

Jargon “Lavender” melekat karena Nissan akan meluncurkan generasi terbaru Livina, hanya dengan konsep memasarkan ulang produk terlaris Mitsubishi saat ini, Xpander, dengan gaya rebage. Dari informasi yang diperoleh Motoris, ubahan bakal paling nampak di bagian wajah, sementara sisanya, mirip .

Bahasa desain Dynamic Shield milik Mitsubishi bakal digantikan dengan identitas Nissan yang berjuluk V-Shape.

Motoris menilai, lahirnya generasi baru Nissan Livina, punya beban berat karena diharapkan bisa menjadi laris lagi, seperti model terhadulunya Grand Livina. Masalahnya, modal yang dibekali Nissan buat bersaing di segmen paling ketat  di Indonesia ini, yakni low multi puprose vehicle (LMPV), tergolong minim.

Baca juga: Nissan Indonesia Ketiban Berkah Mitsubishi

FOLLOW IG @MotorisIndonesia dan TWITTER @MotorisID, buat update grafis otomotif terkini lainnya. “Nissan Indonesia Ketiban Berkah Mitsubishi. “

Bayangkan, Mitsubishi harus menyiapkan Xpander bertahun-tahun lamanya, sehingga bisa sukses besar di 2018. Nissan, berkat manuver bisnis induk usahanya di Jepang, berhasil mencaplok saham mayoritas Mitsubishi, sehingga berstatus jadi pemilik (Mitsubishi). Tanpa harus mengeluarkan dana buat riset dan pengembangan ulang, tinggal minta Mitsubishi memasok generasi terbaru Livina, menggunakan Xpander yang sudah terbukti sukses di pasar Indonesia.

Kali ini, menurut Motoris, Nissan “Lavender” bakal berstatus jadi anak tiri yang minim perlengkapan dipaksa bertempur di medan perang yang ganas. Bayangkan saja, di LMPV, ada jagoan-jagoan seperti Avanza-Xenia yang baru saja facelift, Xpander yang berhasil menusuk pasar, Suzuki Ertiga yang punya wajah baru, Wuling Confero yang mengejutkan lumayan baik diterima oleh pasar, serta Honda Mobilio yang lagi siap-siap meluncurkan generasi terbarunya.

Data Berbicara

Mengacu data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Nissan Grand Livina menjadi model LMPV paling boncos di pasar. Sepanjang Januari-Desember 2018, Nissan hanya berhasil menjual 2.437 unit Grand Livina. Jumlah ini jauh, di bawah rata-rata penjualan jagoan-jagoan tadi, Avanza cs.

Artinya, Nissan Grand Livina hanya seujung kuku, kalau dibandingkan total pasar LMPV sepanjang 2018 lalu, yang tercatat 257.227 unit. Cuma mencicipi pangsa pasar enggak sampai 1 %, miris.

Baca juga: Indomobil Bahagia Tanpa Nissan

FOLLOW IG @MotorisIndonesia buat grafis Otomotif lainnya-Indomobil Lagi FOkus Besarkan Hino buka Nissan.

Avanza masih yang terlaris, dengan 82.167 unit menikmati 31,1 % pasar, disusul Xpander dengan 75.075 unit (28,6%), Ertiga 31,592 unit, Denia 29.521 unit, Mobilio 24.373 unit, dan Confero 11.063 unit. Nissan bahkan kalah dengan merek pendatang baru, dari Cina lagi!

Rumors menyatakan, kalau Nissan memang mau mengurangi bisnisnya di Indonesia dan membiarkan Datsun berkembang jadi utama di sini. Datsun bakal tetap jadi merek perakit mobil, sementara Nissan bakal jadi importir saja.

Disebut rumors, memang belum jelas benar-atau-tidak, tapi kalau melihat langkah-langkahnya, terbilang ada benarnya. Salah satu yang konkret adalah, pelepasan saham oleh Indomobil Grup dari PT Nissan Motor Indonesia, Januari 2018 lalu, dengan nilai transaksi Rp 135 miliar.

Suram

Sejatinya, sejarah mencatat kalau model rebadge di Indonesia belum ada yang sukses. Sebut saja, Mazda VX-1 yang merupakan rebadge dari Suzuki Ertiga. Kasus ini sebetulnya mirip dengan Nissan dan Mitsubishi saat ini, ketika dua merek memasarkan satu model yang sama, tapi dengan karakter dan katanya punya segmen berbeda. Hasilnya, VX-1 hilang entah ke mana.

Pernah juga terjadi di segmen niaga, yakni Mitsubishi L-300 dipasarkan Isuzu dengan nama Bison. Hasilnya, Bison juga menghilang tanpa jejak. Satu-satunya model rebadge yang berhasil saat ini dipasar Indonesia adalah, produk Toyota dan Daihatsu. Pintarnya Toyota dan Daihatsu adalah mengklaim kalau produk mereka hasil kolaborasi (Avanza-Xenia, Terios-Rush, Calya-Sigra, Agya-Ayla), padahal kalau dilihat, praktiknya sama saja seperti rebadge.

Baca juga: Kode Keras Nissan Lewat Predikat Importir Terbaik

Click for more cool graphics…

Bagi si pemilik model, dalam hal ini Mitsubishi, meskipun secara prinsipal dikuasai oleh Nissan, tetap saja tak mau kehilangan kesempatan dengan kehadiran “Lavender”. Mitsubishi dengan segala kekuatannya bakal membuat Xpander lebih kompetitif ketimbang “Lavender”, terutama dalam hal harga jual. Ini juga sesuai dengan informasi yang diperoleh Motoris, kalau Livina baru akan mengisi segmen di atas Xpander, jadi lebih mahal.

Kondisi serupa juga terjadi ketika Mazda mulai memasarkan VX-1 ke pasar, dibanderol lebih mahal ketimbang Ertiga. Jadi, kalah kompetitif.

Motoris melihat, kartu truf yang semula dimiliki Grand Livina (model sebelumnya) bakal hilang dari genggaman Nissan dengan “Lavender”. Pada Grand Livina sebelumnya, Nissan punya varian lebih beragam, termasuk pilihan mesin 1.8 liter yang sempat dipasarkan, disiapkan sebagai pembeda.

Alhasil, strategi itu berhasil, membuat Grand Livina mengisi ceruk pasar di atas Avanza cs, sehingga bukan berstatus sebagai LMPV. Segmentasi ini juga yang membuat harga jual Grand Livina lebih mahal ketimbang Avanza dan kawan-kawan.

Tapi, kali ini urusannya dengan “Lavender” tidak akan terjadi lagi. Sudah pasti, mesin yang digunakan sama seperti Xpander. Tidak cukup perbedaan besar yang dimiliki Nissan untuk bisa mengerek “Lavender” ke posisi Grand Livina sebelumnya, yakni di antara segmen Avanza (LMPV) dan Kijang Innova (MPV medium). Artinya, Nissan “Lavender” akan turun kasta, di bawah Grand Livina ke posisi Avanza cs.

Kalau strategi harga “Lavender” bakal lebih tinggi ketimbang Xpander, maka masa depan generasi terbaru Livina ini bisa suram. Jangankan mendongkrak penjualan, untuk bertahan saja sepertinya sangat berat. Apalagi tanpa ada dukungan penuh dari prinsipal di Indonesia!

(sna)

CATEGORIES
TAGS
Share This