Ini Sisi Buruk Mobil Listrik Menurut Amnesty Internasional

Ini Sisi Buruk Mobil Listrik Menurut Amnesty Internasional
Ilustrasi, infrastruktur pengisian arus untuk baterai mobil listrik - dok.livemint

Oslo, Motoris – Organisasi Non Pemerintah (NGO) yang bergerak di bidang penegakan Hak Azasi Manusia (HAM), Amnesty Internasional, telah mengungkapkan sisi buruk atau wajah kelam dari kendaraan listrik. Menurut organisasi yang berkantor pusat di London, Inggris, ini industri mobil listrik tak hanya memberi dampak buruk terhadap lingkungan tetapi juga melanggar HAM.

Seperti dilaporkan laman Amnesty.org, Euronews dan Africa Times, Minggu (24/3/2019), pernyataan tersebut diungkapkan langsung oleh Sekretaris Jenderal Amnesty Internasional, Kumi Naidoo, dalam pertemuan Nordic Electric Vehicle Summit 2019 di Norwegia, Kamis (21/3/2019) lalu.

“Dampak dari baterai ion lithium atau kobalt  yang tidak dikelola dengan baik merupakan ancaman serius terhadap lingkungan. Karenanya, menemukan solusi efektif untuk krisis iklim adalah keharusan mutlak. Jika tanpa perubahan radikal, maka baterai (untuk motor kendaraan listrik) akan diwarnai oleh pelanggaran hak azasi manusia,” ungkap Naidoo.

Dia lantas menyodorkan fakta sebagai contoh dari pernyataannya adalah proses penambagan kobalt di Republik Demoktarik Kongo (RDK). Hasil investigasi yang dilakukan NGO itu pada tahun 2016 lalu menunjukan, proses penambagan kobalt – yang melibatkan orang dewasa dan anak-anak – secara manual atau menggunakan tangan sangat berisiko terhadap kesehatan mereka.

Penambangan Kobalt di Kongo yang melibatkan orang dewasa dan anak-anak – dok.Mining.com

Fakta pelanggaran HAM kedua yang ditemukan, kata Naidoo, terjadi di Argentina. Proyek penambangan ion-lithium di negara ini dilakukan di lahan yang terketak di pedalaman. Prossnya tanpa persetujuan masyarakat, sehingga dampak buruk dari tambang itu terhadap sumber air tak diinformasikan secara baik ke masyarakat.

Amnesty Internasional juga mencatat temuan, produksi baterai untuk kendaraan listrik saat ini terkonsentrasi di negara-negara Asia termasuk Cina, Korea Selatan dan Jepang. Pabrik-pabrik baterai itu diketahui menggunakan pembangkit listrik yang memakai bahan bakar batubara dan sumber polutan lainnya.

Lembaga itu menyinggung soal dampak buruk dari kendaraan listrik tersebut serta kaitan merek-merek produk elektronik dan otomotif kondang dengan dampak itu. Mereka antara lain Apple, BMW, Daimler, serta Renault. Karenanya, organisasi yang berdiri sejak tahun 1961 ini mendesak agar dalam waktu lima tahun mereka memperbaiki proses produksi baterai yang mengedepankan etika dan bersih terhadap lingkungan.

Ilustrasi bagian-bagian mobil listrik-dok.Istimewa

Amnesty Internasional meminta agar pengelolaan limbah baterai ditanggapi serius.Fakta, kata Naidoo, menunjukkan bahwa limbah baterai dari barang elektronik telah dibuang secara sembarangan. Tempat pembuangan berada di tanah, air, dan udara.

Papua Nugini

Pada bagian lain pernyataannya, Amnesty Internasional juga menyinggung rencana para pabrikan untuk menggenjot produksi baterai kendaraan listrik. Salah satu caranya, melalui penambangan bahan baku baterai tersebut di laut dalam.

Hasil studi yang dilakukan oleh organisasi untuk konservasi alam atau International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) menunjukan penambangan komersial bahan baku baterai itu akan dimulai pada tahun 2020 di Papua Nugini. Ini setelah 29 kontrak untuk eksplorasi mineral laut di negara itu diberikan oleh Otoritas Dasar Laut Internasional.

Ilustrasi ekosistem laut dalam Papua Nugini – dok.Papua New Guinea Mine Watch – WordPress.com

Padahal, hasil riset para ilmuwan dari University of Exeter tahun 2018 lalu menyimpulkan bahwa penambangan laut dalam dapat menyebabkan spesies laut menjadi beracun. Bahkan sejumlah biota laut akan hilang dalam waktu cepat. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This