DFSK Ngarep dengan Glory 560 Jualannya Meroket, Realistis?

DFSK Ngarep dengan Glory 560 Jualannya Meroket, Realistis?
SUV baru Dongfeng Sokon yang diluncurkan di Indonesia, DFSK Glory 560 - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Setelah meluncurkan varian anyar SUV Glory – yakni Glory 560 – ambisi Dongfeng Sokonindo (DFSK) Indonesia atau PT Sokonindo Automobile untuk meraup penjualan langsung meledak. Betapa tidak, jika di tahun 2018 lalu, dengan berbekal SUV Glory 580 dan pikap Sokon Supercab penjualannya sebanyak 1.222 unit, kini ditarget 12.000 unit.

“Target itu menurut kami realistis, dan kami akan upayakan agar target tersebut bisa tercapai hingga akhir 2019 nanti,” ungkap Direktur Penjualan PT Sokonindo Automobile Alex Pan di kawasan Ancol, Jakarta Utara, Selasa (26/3/2019).

Namun, Alex belum bisa menjelaskan berapa komposisi penjualan untuk ketiga model – pikap Sokon Supercab, Glory 580, dan Glory 560 – yang sudah dijual di Indonesia. Dia mengaku akan melihat kondisi pasar, serta penerimaan masyarakat terhadap Glory 560.

“Kalau itu belum bisa kami informasikan, kami lihat saja nanti yang paling penting kami menargetkan penjualan keseluruhan 12.000 unit, dan model ini dipastikan akan berkontribusi lebih dari total target 2019 ini,” kata dia.

Tak lupa, dia menyebut Sokonindo juga akan menggenjot jumlah diler. Jika sampai saat ini jumlah diler masih sebanyak 50 unit, hingga akhir tahun ditargetkan bertambah 40 unit. Artinya, total jenderal jumlah diler bakal sebanyak 90 unit.

DFSK Glory 560, varian SUV baru yang disodorkan DFSK Indonesia – dok.Istimewa

Memang, mematok target penjualan bagi sebuah perusahaan adalah hak mereka dan sah-sah saja meski dengan jumlah yang fantastis. Tapi, bagaimana dengan fakta di lapangan? Realistis?

Mari kita coba hitung-hitung. Jika ditargetkan jumlah diler menjadi 90 unit, dan masing-masing “dijejali” produk 100 – 120 unit (atau istilah penjualannya wholesales yakni dari pabrik ke diler), maka angka 1.200 unit bisa tercapai, tetapi bagaimana dengan 1.000 unit “dijejalkan” ke diler untuk mencapai taret 12.000 unit.

Brand awareness
Mungkin DFSK bisa mengklaim produknya – Glory 560 – bergelimang fitur canggih, dan “mungkin” (karena hingga saat ini belum diumumkan), berbanderol menarik. Tapi apakah akan dengan serta merta langsung diserbu konsumen?

Tentu, kita harus menengok soal brand awareness dari produk tersebut? Masyarakat bisa ditanya apakah mengenal mobil Sokon? Dongfeng? Atau DFSK? Seberapa banyak yang mengenal dan memahaminya?

Mungkin kita bandingkan dengan merek satu asal (sama-sama dari Negeri Tirai Bambu) dan satu angkatan dalam memulai bisnis di Indonesia yakni Wuling yang dijajakan PT SGMW Motors Indomesia atau Wuling Motors Indonesia. Keduanya start  pada Juli 2017. Nama Wuling jauh lebih terdengar nyaring.

Fakta berbicara, populasi kendaraan merek Wuling ini di Indonesia  jauh lebih banyak. Bahkan, menurut penjelasan Brand Manager Wuling Motors Indonesia, Dian Asmahani, jumlahnya telah mencapai 22.000 unit lebih per akhir 2018 lalu, Jumlah diler di pegujung 2018 sudah 97 unit, dan di awal 2019 telah mencapai 103 unit.  Soal penjualan lebih mencorong,  dari pabrik ke diler (wholesales) Wuling membukukan sebanyak 17.002 dan penjualan dari diler ke konsumen alias retail sebanyak 15.162 unit.

Ilustrasi, Wuling Almaz – dok.Motoris

Mengapa nama Wuling nyaring terdengar? Karena merek ini memiliki strategi yang tepat. Dia membangun dan memperkuat brand awreness dengan pendekatan kultur atau budaya masyarakat, yang senang bepergian bersama keluarga, kerabat, atau teman. Maka disodorkanlah varian mobil penumpang serbaguna (MPV), Pertama MPV Confero dan kemudian medium MPV Cortez dengan harga yang lebih miring ketimbang pesaing.

Memang, gencaranya peran kegiatan promosi juga tak bisa dinafikan. Nama Wuling pun  telah mematahkan stigma negatif merek produk asal Cina yang sebelumnya dicap tak berkualitas dan layanan purna jual yang buruk. Layanan purna jual Wuling ternyata tak kalah dengan merek-merek dari negara lain, khususnya Jepang.

“Kami berusaha untuk memahamai keinginan dan keburuhan masyarakat Indonesia. Orang Indonesia menyukai MPV, karenanya kami suguhkan MPV,” papar Brand & Marketing Director Wuling Motors (waktu itu) Jason Ding saat ditemui di sela perkenalan Wuling Almaz di GIIAS 2018, akhirAgustus 2018.

Strategi ini ternyata tokcer. Nama Wuling pun perlahan tapi pasti mulai dikenal. Terlebih, MPV merupakan segmen terbesar di pasar otomotif Indonesia, sekitar 30-40% dari pasar atau bahkan lebih. Sedangkan SUV, porsinya hanya sekitar 9-10% dari total penjualan atau pasar.

Awal-awal menggarap pasar Indonesia DFSK menyodorkan Pikap Sokon Supercab, kendaraan komersial yang dirakit PT Sokonindo Automible di Serang, Banten – dok.Motoris

Artinya, target bidikan Wuling tidaklah salah. Meminjam pameo “Jika ingin mendapatkan ikan yang banyak, maka memancinglah di kolam,sungai, atau laut. Bukan di kolam kecil,”, maka cara Wuling tidaklah meleset. Sedangkan DFSK memulai gebrakannya dengan pikap Sokon Supercab. Setelah itu, menggelontorkan SUV Glory 580 dan kini SUV lagi yakni Glory 560.

Sementara, para pesaing – antara lain Wuling Almaz, Honda HR-V, dan mungkin Daihatsu Terios, dan Toyota Rush – tentu juga tak akan tinggal diam menghadapi tantangan Glory 560. Jadi, bagaimana? Cukup realistiskah ambisi Dongfeng Sokon atau DFSK Indonesia? (Kpr/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This