Mitsubishi New Triton Kontraproduktif

Mitsubishi New Triton Kontraproduktif
Mitsubishi New Triton - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – PT Mitsubishi Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Selasa (2/7/2019), kemarin resmi memperkenalkan versi terbaru pikap kabin ganda (double cabin) Mitsubisi Triton, setelah November 2018 diluncurkan di Thailand. Namun, peluncuran Triton anyar yang dibanderol Rp 250,5 – 480,5 juta ini kontraproduktif di tengah lesunya pasar.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukan, di rentang waktu Januari-Mei lalu penjualan double cabin di Tanah Air anjlok 25,29% dibanding kurun waktu sama di tahun 2018 lalu. Jika di tahun lalu – selama lima bulan pertama – penjualan pikap jenis ini masih sebanyak 7.122 unit, di tahun ini hanya 5.321.

“Pasar otomotif nasional pada awal tahun ini sedikit melambat termasuk double cabin,” tutur Presiden Direktur PT MMKSI, Naoya Nakamura, di Jakarta, Selasa (2/7/2019) mengakui kondisi yang ada.

Memang, Triton (versi lawas) di lima bulan tersebut masih memegang kendali sebagai penguasa pasar dengan menggenggam pangsa pasar sebesar 63%, namun tantangan juga tak bisa dibilang kecil. Sejumlah sektor yang menjadi bidikan kendaraan ini – seperti pertambangan dan perkebunan – kini kondisinya tengah loyo.

Mitsubishi New Triton diperkenalkan di Indonesia, 2 Juli 2019 – dok.Motoris

Seperti diungkapkan salah seorang pengurus Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Dedi Thabrani, harga batubara Indonesia di pasar dunia saat ini menghadapi tekanan. Pasar ekspor – terutama Cina dan India – kini mengurangi impor dari Indonesia.

“Pada saat yang sama, banyak batubara asal Rusia dengan kualitas lebih bagus, menggelontor pasar. Sehingga, saat ini harga acuan batubara hanya US$ 81,48 per metrik ton. Ini turun dibanding bulan-bulan sebelumnya,” kata dia saat dihubungi, Selasa (2/6/2019).

Loyonya kondisi juga dialami komoditas minyak kelapa sawit mentah (CPO). Seperti diungkapkan pengurus seorang Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) harga CPO di bursa Malaysia, hingga akhir pekan kemarin sebesar RM 2.090 per metrik ton. Bahkan, terus menurun. Sedangkan pada Selasa (3/7/2019) hingga pukul 10.00 WIB, Bursa Malaysia Dervatives Exchange anjlok 1,42% ke level  RM 1.939 per metrik ton.

Tampilan samping Mitsubishi New Triton – dok.Motoris

“Harga CPO sekarang ini di bursa (Malaysia) terendah sejak Agustus 2015. Saya kira ekspor komoditas, masih akan tertekan sebagai dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat-Cina. Tekanan ke industri kelapa sawit kita juga berat, karena Uni Eropa juga melancarkan kampanye hitam,” ucap pria yang enggan disebut namanya itu.

Harga Triton baru
Harus diakui, Triton versi anyar ini hadir dengan suguhan tampilan wajah dan fitur baru, khususnya fitur pendukung keamanan dan kenyamanan berkendara. Namun, fakta juga tak bisa dipungkiri, harga – khususnya tipe teratas – mengalami kenaikan yang cukup besar.

Mengutip data yang disajikan laman Mitsubishi-motors.co.id, Selasa (25/6/2019), harga Triton – dil luar varian Athlete – sebagai berikut: Mitsubishi Triton D-Cab Exceed A/T 4×4 Rp 454.500.000.

Kemudian Mitsubishi Triton D-Cab Exceed M/T 4×4 Rp 440.500.000, dan Mitsubishi Triton D-Cab GLS M/T 4×4 Rp 415.000.000. Sedangkan, Mitsubishi Triton D-Cab HDX M/T 4×4 Rp 319.500.000.

Mitsubishi Triton versi terbaru yang akan diluncurkan di Indonesia 2 Juli 2019 – dok.Istimewa

Kini harga New Triton adalah Ultimate AT Double cab 4WD Rp 480.500.000, Triton Exceed MT Double cab 4WD Rp 453.000.000. Kemudian, harga GLS MT Double cab 4WD Rp 419.000.000. Sedangkan HDX MT Double cab 4WD Rp 395.500.000.

Namun, Nakamura mengaku tetap optiis dengan kondisi yang ada, kendati mengakui harga komoditas yang turun. “Terutama batubara yang turun 40% dan CPO 50%. Tetapi dalam dunia bisnis, naik turun itu sesuatu yang lumrah. Tetapi, yang ingin saya katakana, Indonesia memiliki pertumuhan ekonomi 5%, itu tidak jelek. Kemudian inflasi yang berada di kisaran 3%, itu juga bagus,” ucap dia. (Fer/Ara)

 

 

 

CATEGORIES
TAGS
Share This