Polusi Udara Jakarta Makin Akut, KPPB: 47% dari Kendaraan Bermotor

Polusi Udara Jakarta Makin Akut, KPPB: 47% dari Kendaraan Bermotor
Ilustrasi, polusi udara karena emisi karbon kendaraan bermotor - dok.istimewa

Jakarta, Motoris – Kualitas udara di wilayah DKI Jakarta disebut semakin buruk dibanding tahun 2018 lalu, bahkan di saat masa lebaran dimana biasanya jalanan sepi dari arus lalu-lalang kendaraan bermotor. Hasil penelitian yang dikutip Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menunjukan, kendaraan bermotor menjadi kontributor terbesar pencemaran udara.

Seperti diungkapkan Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safrudin, indikasi memburuknya kualitas udara di DKI Jakarta ini didasarkan hasil pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer).

“Dari hasil pengukuran itu diketahui, bahwa air quality index (AQI) pada tahun 2018, rata-rata tahunan konsenstrasi PM 2,5 adalah 42,42 mikrogram per meter kubik. Tetapi pada 1 Januari-4 Juni 2019, rata-rata konsentrasi PM 2,5 sudah 57,66 mikrogram per meter kubik,” papar pria yang akrab disapa Puput itu saat dihubungi, Rabu (3/7/2019).

Menurut dia, penggunaan parameter PM 2,5 itu dilakukan karena unsur-unsur polutan tersebut merupakan yang dominan di udara. Bahkan, lebih dominan ketimbang zat sulfur dioksida (SO2) dan karbon monoksida (CO).

Ilustrasi polusi dari asap kendaraan bermotor – dok.RAC

“Partikel ini sangat halus dan sanggup menembus masker dan sulit disaring oleh bulu hidung. Karena itu bisa menyusup hingga ke paru-paru dalam jumlah besar,” terang Puput.

Dari hasil penelitian itu pula, diketahui bahwa penyumbang polutan ke udara Jakarta yang terbesar adalah kendaraan bermotor, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, bus, truk, dan lainnya. Porsi kontribusi kendaraan bermotor ini mencapai 47%.

“Kemudian penyumbang polutan terbesar lainnya adalah industri yakni 22%, debu jalanan 11%, domestik atau rumah tangga 11%, pembakaran sampah 5% dan proses konstruksi 4%,” papar Puput.

Gaikindo sebut tak hanya mobil
Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Yohannes Nangoi menolak tudingan yang menyebut kendaraan bermotor pribadi khususnya mobil. Kendati tak menyodorkan data angka-angka pasti, Nangoi menyebut polusi juga berasal dari sepeda motor, pabrik, dan pembangkit listrik.

“Yang namanya polusi itu bermacam-macam. Jadi tidak hanya dari mobil saja, ada dari sepeda motor, pabrik, pembangkit listrik. Pembangkit tenaga listrik saja, itu polusinya juga gila-gilaan. Selain itu, bahan bakarnya. Apakah bahan bakar sudah berstandar Euro4?,” paparnya di sela penjelasan kesiapan hajatan GIIAS 2019 di Jakarta, Sealasa (2/7/2019).

Pernyataan Nangoi itu terlontar saat media menanyakan tanggapannya atas pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang mengatakan buruknya udara di DKI Jakarta tak terhindarkan. Pasalnya, kata Anies, populasi kendaraan bermotor – tanpa menyebut spesifik jenis kendaraan – terus bertambah.

Ilustrasi, arus lalu-lintas dari Jalan Sudirman menuju Bundaran HI Jalan Thamrin – dok.Motoris

Menurut dia, saat ini saja jumlah kendaraan bermotor di wilayah Ibu Kota Negara itu mencapai 17 juta unit. Bahkan, tren terus bertambah. Belum lagi ketika hari kerja, banyak kendaraan bermotor dari luar daerah yang juga berseliweran keluar masuk ke wilayah DKI Jakarta. (Fan/Ara)

 

 

CATEGORIES
TAGS
Share This