Kwid Saja Bonyok, Renault Sesumbar Triber Bisa “Sapu” 4 Segmen

Kwid Saja Bonyok, Renault Sesumbar Triber Bisa “Sapu” 4 Segmen
Renault Triber resmi diperkenalkan ke media di Indonesia, 12 Juli 2019 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – PT Maxindo Renault Indonesia (MRI) telah resmi memperkenalkan varian low MPV tujuh kursi – yang harganya diklaim bakal setara dengan LCGC – Renault Triber di Indonesia melalui media, Jumat (12/7/2019). Chief Operating Officer MRI, Davy J. Tulian yakin mobil jagoannya bakal direspon positif karena memiliki sederet keunggulan.

Pertama, ungkap eks anggota Direksi PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) itu, Triber mewakili kebutuhan di empat segmen sekaligus, yakni mobil murah ramah lingkungan (LCGC) 5-Seater, LCGC 7-Seater, low MPV, serta hatchback. Walhasil, Triber juga diharapkan bisa “menyapu” penjualan di ceruk segmen pasar tersebut.

“Jadi saya bilang, Triber ini bisa diterima di hampir semua segmen pasar, yang juga merupakan segmen terbesar di industri otomotif di Indonesia,” ungkap dia saat pemaparan Triber dalam perkenalan di kawasan Bintaro, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Jumat (12/7/2019).

Pangsa pasar LCGC, kata Davy, saat ini mencapai 21%, Low MPV 24%, dan hatchback 5%.  Jadi, ketiganya memiliki pangsa pasar hingga 50% di industri otomotif roda empat nasional, dengan rata-rata penjualan saban bulan kurang lebih 50.000 unit. “Kami yakni, Triber bisa menarik customer di empat segmen tersebut (LCGC 5 kursi, LCGC 7 kursi, Low MPv, dan hatchback). Enggak usah muluk-muluk Renault ambil 20%, kita ambil 5% saja sebulan, sudah 2.500 unit,” ucap Davy.

COO MRI Davy Tuilan mendemonstrasikan kapasitas bagasi Renault Triber – dok.Motors

Sedangkan soal mesin yang hanya 1.0 liter atau 1.000 cc tiga silinder, Davy menyebut pilihan itu bukan tanpa alasan. Tetapi telah dipikirkan secara matang. Mesin yang dicangkokan ke Triber itu merupakan mesin Renault Clio yang dipasarkan di Eropa.

“Itu adalah hasil dari semua studi. Mesin yang kami pakai, adalah mesin yang sudah terbukti di Eropa, mesin Clio,” ujarnya.

Mesin ini bertenaga 72 hp dan torsi puncak 96 Nm yang disalurkan ke roda dengan transmisi manual lima tingkat percepatan. Meski kabarnya bakal ada juga versi bertransmisi otomatis.

Dibanding Calya-Sigra
Oke. Karena mobil ini diklaim sebagai low MPV – dengan harga yang bakal setara dengan LCGC-  mari kita bandingkan dengan LCGC versi MPV tujuh kursi yakni Toyota Calya dan Daihatsu Sigra. Keduanya, sama-sama mengusung mesin 1.2 liter 3NR-VE empat silinder dual VVT-I.  Artinya, dari sisi jantung pacu, keduanya lebih besar ketimbang Triber.

Semburan tenaga mesin Calya mencapai 86 hp pada putaran mesin 6.000 rpm dengan torsi 107 Nm pada 4.200 rpm. Tenaga ini disalurkan ke roda dengan transmisi otomatis empat tingkat percepatan atau manual lima percepatan.

Sementara, mesin yang sama di Sigra menyemburkan tenaga hingga 86 hp dan torsi 108 Nm. Tenaga ini disalurkan menggunakan transmisi yang sama dengan yang digunakan Calya.

LCGC MPV 7 kursi penumpang Toyota Calya di IIMS 2019 – dok.Motoris

Tentu, soal pilihan tentu tergantung sudut pandang konsumen. Mereka bisa menentukan pilihan dengan melihat perbandingan harga, tenaga, dimensi, desain, hingga layanan purna jual, dan merek dari mobil-mobil tersebut.

Tetapi yang pasti, Sigra dan Calya masih menempati papan atas di daftar penjualan LCGC tujuh kursi atau LCGC versi MPV. Fakta pun berbicara. Sepanjang tahun 2018 lalu, Calya laku 63.970 unit dan Daihatsu Sigra terjual 50.907 unit.

Belajar dari Kwid
Renault Indonesia (yang sebelum diakuisisi MRI dibawah kendali Indomobil Group) memiliki pengalaman buruk dalam menjajakan LCGC di Tanah Air. Penjualan Renault Kwid – yang merupakan LCGC lima kursi  dan bersaing dengan Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Honda Brio Satya, dan lainnya – bonyok total di pasar segmen ini.

Padahal, kalau kita mengacu ke penjelasan Davy  – soal Triber yang bisa masuk ke empat segmen – berarti Kwid sejatinya juga telah masuk ke dua segmen. Pertama, segmen LCGC lima kursi. Kedua, juga masuk ke segmen hatchback. Tapi, nyatanya, LCGC Renault ini lemah tak berdaya menghadapi persaingan di segmennya.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonsia (Gaikindo) menunjukan, sepanjang tahun 2017, atau setahun setelah diluncurkan, Kwid hanya terjual 163 unit. Sedangkan di tahun 2018 dari total penjualan Renault Indonesia yang sebanyak 239 unit, Kwid hanya laku 49 unit.

Ilustrasi Renault Kwid – dok.Istimewa

Sementara, jumlah diler Renault saat ini juga masih terbilang jarang, untuk tidak menyebutnya langka. Padahal, diler bukan sekadar tempat jualan, tetapi juga tempat memberi layanan purna jual seperi servis, perawatan, dan  memastikan ketersediaan suku cadang.

Sebelumnya, Davy sempat mengatakan pihaknya menargetkan jumlah diler mencapai 36 unit dalam tiga tahun mendatang. Tiga tahun?

Jadi, akankah pengalaman Renault menjajakan Kwid yang suram juga bakal terulang? Waktulah yang bakal membuktikan. (Fer/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This