Soal Ekspor Mobil, Indonesia Masih Seperempatnya Thailand

Soal Ekspor Mobil, Indonesia Masih Seperempatnya Thailand
Ilustrasi, Toyota Innova yang diangkut mobil gendong menuju pelabuhan untuk diekspor- dok.TMMINToyota Innova yang diekspor - dok.TMMIN

Jakarta, Motoris – Kendati dalam hal konsumsi mobil di dalam negeri Indonesia hampir bisa mengejar Thailand – tahun 2018 lalu penjualan mobil di Indonesia tercatat sebanyak 1,16 juta unit dan di Thailand 1,05 juta unit – namun, tidak dalam urusan ekspor. Volume ekspor Indonesia masih seperempatnya Negeri Gajah Putih tersebut.

Fakta tersebut terungkap dari data Federation of Thai Industries yang dilansir laman Marketwatch dan Marklines, Jumat (12/7/2019) lalu. Disebut di rentang waktu Januari – Mei lalu total ekspor mobil secara utuh (CBU) Thailand tercatat sebanyak 462.286 unit.

Sedangkan ekspor industri Indonesia di saat yang sama hanya 115.510 unit. Ragam jenis mobil yang diekspor Thailand pun lebih beragam, mulai dari SUV, sedan, pikap, microbus, hingga MPV.

Tahun 2018 lalu – selama setahun penuh – volume ekspor Thailand lebih dahsyat, yakni 1,2 juta unit. Sedangkan, di kurun waktu yang sama, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat ekspor Indonesia (CBU) hanya 264.553 unit .

Ilustrasi, ekspor Mitsubishi Xpander – dok.Kompas.com

Memang, angka ekspor ini naik 14,4% dibanding tahun 2017, tetapi dalam konteks perbandingan ekspor dengan Thailand, Indonesia masih jauh tertinggal. Begitu dengan haljumlah produksi.

Data yang dikompilasi Asean Automotive Federation (AAF) menunjukan, tahun 2018 lalu, jumlah prduksi mobil di Thailand mencapai 2,01 jutaan unit. Sementara di Indonesia hanya sekitar 1,3 jutaan.

Padahal, dilihat dari jumlah penduduk, Indonesia memiliki penduduka yang hampir empat kali lipat negara itu. Indonesia berpenduduk sekiyar 265 juta lebih, sementara Thailand sekitar 70 jutaan jiwa

Persetujuan prinsipal
Soal masih kalahnya ekspor Indonesia dengan Thailand, Ketua I Gakindo, Jongkie Sugiarto menyebut karena industri di Indonesia juga tidak leluasa untuk melakukan ekspor. Sebab, untuk ekspor – terutama menyangkut model-model mobil yang akan dibuat diekspor – industri di Indonesia juga harus mendapat persetujuan pinsipal, atau perusahaan induk pemilik merek.

“Karena untuk ekspor kan juga harus ada persetujuan dari prinsipal. Kedua, varian produk yang banyak dibuat di Indonesia juga tidak match dengan kebutuhan pasar dunia. Di global itu yang banyak diminta Sedan, SUV, double cabin, kalau Indonesia (yang banyak dibuat jenis) kan MPV,” papar dia saat dihubungi, Jumat (12/7/2019).

Ilustrasi, ekspor SUV Indonesia. Proses Scanning Toyota Fortuner sebelum diekspor – dok.TMMIN

Fakta berbicara. Data yang dikumpulkan JATO Dynamics – perusahaan market intelligence bidang otomotif yang berkantor pusat di Uxbridge, London, Inggris – menyebut, saat ini pangsa pasar terbesar di dunia adalah SUV, yakni 36,4%. Setelah itu sedan dan pikap. Adapun MPV hanya 7,3%. (Fer/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This