Motor Jadi Penyumbang Terbesar Polusi Udara Jakarta

Motor Jadi Penyumbang Terbesar Polusi Udara Jakarta
Ilustrasi pengguna sepeda motor dari daerah peyangga ke Jakarta - dok.NTMC Polri

Jakarta, Motoris – Kabar buruk soal kualitas udara Jakarta yang dipenuhi polutan terus banyak dibicarakan berbagai kalangan. Pada salah satu kesimpulan yang diambil sejumlah kalangan – berdasar data-data penelitian yang dilakukan – menyebut, sepeda motor ternyata memberi sumbangan terbesar dalam menyemburkan polutan ke udara Jakarta.

“Iya, dari data-data yang dihimpun dari kajian yang dilakukan oleh pemerintah daerah dan Dinas Perhubungan menunjukan, polusi udara di DKI Jakarta 80% berasal dari asap kendaraan. Dan dari 80% itu, 75% berasal dari kendaraan bermotor rida dua (sepeda motor),” tutur Direktur Angkutan Jalan dan Multimoda Kementerian Perhubungan, Ahmad Yani, saat dihubungi, di Jakarta, Kamis (15/8/2019).

Pernyataan Yani diperkuat Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPPB) Ahmad Safruddin. Menurut dia, hasil peneliian terbaru KPPB terhadap kulaitas udara di DKI Jakarta menunjukan, saban harinya tak kurang dari 19.165 ton polutan (zat-zat pencemar udara) berterbangan di udara ibu kota Indonesia itu.

“Dari jumlah ini, 44,5% berasal dari sepeda motor. Mobil 16,11%, bus 21,43%, truk 17,7%, dan bajaj 0,23%,” papar pria yang akrab disapa dengan Puput itu kepada Motoris, Kamis (15/8/2019).

Menurut dia, meski mesin sepeda motor jauh lebih kecil dibanding mesin yang diusung mobil, namun tingkat emisi kadungan gas buang berbahaya lebih banyak. Gas hydro carbon (HC) yang dihasilkan oleh motor dua kali lipat dibanding yang dihasilkan oleh mobil.

Ilustrasi,pengendara sepeda motor di Jalan Sudirman menuju Bundaran HI Jalan Thamrin – dok.Motoris

Kemudian gas Carbon Monoxide (CO) yang disemburkan kendaraan bermotor roda dua itu delapan kali lebih banyak dibanding yang dihasilkan oleh mesin mobil. Sedangkan Nitrogen Oxide (NOx) motor juga dua setengah kali yang dihasilkan oleh mobil.

“Nah, cara menghitungnya adalah kendaraan bermotor, masing-masing sepeda motor dan mobil itu dijalankan dalam jarak satu kilometer. Kondisi motor maupun mobil sama-sama baru dan lama yang melintas. Hasilnya seperti itu, lalu dikalikan jumlah sepeda motor yang ada (melintasi Jakarta setiap hari biasa),” kata Puput.

Tingkat semburan polutan sepeda motor yang lebih tinggi itu tidak lepas dari proses pembakaran di mesin yang kemudian menghasilkan letupan tenaga dan ditransmisikan ke roda untuk mengerakan kendaraan. Proses seperti itu jauh lebih sederhana atau lebih singkat dibanding pada mobil.

Menyinggung, solusi untuk mengatasi kasus seperti ini, Ahmad Yani, menyarankan agar kebijakan yang mendorong masyarakat menggunakan sarana transportasi massal ramah lingkungan terus digalakan. Misalnya, dengan menggunakan LRT, MRT, KRL, dan lainnya.

Ilustrasi pesepedamotor di Jakarta – dok.Okezone.com

Sekadar catatan, selain motor yang datang dari daerah-aderah penyangga Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, motor yang berseliweran di ibu kota juga berasal dari wilatah DKI Jakarta sendiri. Data Korps Lalu-lintas Polri menyebut pertumbuhan sepeda motor di Jakarta sepanjang tahun 2010 – 2015 lalu rata-rata mencapai 9,7 – 11% per tahun.

Angka ini di atas pertumbuhan jumlah mobil yang rata-rata 7,9 – 8,8% saban tahun. (Fan/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This