Spesifikasi dan Kualitas BBM Indonesia Paling Tertinggal

Spesifikasi dan Kualitas BBM Indonesia Paling Tertinggal
Ilustrasi, dispenser BBM di SPBU - dok.denik.cz

Jakarta, Motoris – Komite Penghapusan Besin Bertimbal (KPBB) menyebut spesifikasi dan kualitas Bahan Bakar Minyak (BBM) – teutama dalam komposisi ambang batas zat-zat yang digunakan seperti sulfur atau belerang, polifane, benzen, dan aromatic – tertinggal dibanding dengan negara-negara ain. Bahkan dengan negara-negara di lingkungan ASEAN sekali pun.

“Soal kandungan sulfur misalnya, di BBM Indonesia masih 500 ppm. Padahal negara lain jauh di bawah itu, Vietnam saja 150-50 ppm. Thailand di bawah itu, Malaysia juga sangat jauh di bawah Indonesia,” tutur Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safruddin saat ditemui di Jakarta, akhir pekan lalu.

Begitu pula dengan kandungan benzene, yang diketahui zat yang berbahaya. Kandungan benzene di BBM Indonesia, lanjut ria yang akrab disapa Puput itu, masih 5%. Bahkan, bisa jadi lebih dari itu, di BBM dengan RON 88.

“Kenapa? karena di Indonesia tidak ada aturan yang tegas. Produsen hanya diminta melaporkan saja kandugan itu di BBM yang bersangkutan. Artinya, bisa saja kandungan benzene itu lebih dari 5%, bisa saja 7%, 8% dan lainnya,” kata dia.

Padahal, di Malaysia hanya 2,5%. Australia dan Cina ditetapkan dalam aturan hanya 0,8%, India 1%. “Jadi, Indonesia, masih tertinggal soal ini,” terang Puput.

Ilustrasi pengisian BBM – dok.Istimewa

Lantaran memiliki kandungan zat berbahaya seperti sulfur, benzene, aromatic, dan olefin yang sangat tinggi, KPBB mengusulkan agar BBM jenis itu dihapus atau tidak diproduksi lagi. Jenis BBM itu antara lain Premium yang ber-RON 88, Solar, Dexlite, dan Pertalite RON 90.

Bahan bakar itu sering digunakan oleh kendaraan bermotor, dan otomatis emisi gas buang yang dihasilkan oleh mobil dan sepeda motor menjadi kotor dan langsung mempengaruhi polusi udara.

“Harus diganti menggunakan yang lebih berkualitas lagi, agar kondisi udara di Indonesia, terutama DKI Jakarta menjadi lebih baik lagi,” sebut Puput.

Terlebih, data hasil penelitian KPBB menunjukan, polutan tertinggi berasal dari motor dengan persentase 44,53 persen, bus 21,43 persen, mobil pribadi 16,11 persen, dan sisanya dari bajaj.

Hanya Indonesia yang masih menjual BBM dengan RON 88 dan 90. Negara lain seperti China, India, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, hingga Vietnam sudah menjual BBM dengan RON di atas 92. (Kpr/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This