Aptrindo: Kecelakaan Purbaleunyi Karena Amburadulnya Sistem Ini

Aptrindo: Kecelakaan Purbaleunyi Karena Amburadulnya Sistem Ini
Kecelakaan beruntun yang berujung maut di KM 91 Tol Purbaleunyi ke arah Jakarta, Senin 2 September 2019 - dok.Kompas.com

Jakarta, Motoris – Kecelakaan beruntun yang terjadi Kilometer 91 Jalan Tol Purbaleunyi ke arah Jakarta, Senin (2/9/2019) kemarin diduga disebabkan oleh dump truck yang mengalami rem blong dan kemudian terguling. Meski, hingga kini penyebab utama kecelakaan maut tersebut masih didalami pihak berwajib namun human error, kondisi kendaraan, dan pelanggaran ketentuan overload diduga menjadi penyebabnya.

Seperti diungkapkan Kepala Subdirektorat Angkutan Multimoda dan Antarmoda Ditjen Hubdat Kementerian Perhubungan, Ahmad Wahyudi, ada dua catatan penting dalam kasus ini. Pertama, human error karena supir lalainya penerapan safety driving dikarenakan berbagai hal, termasuk mengangkut muatan melebihi batasan.

Kedua, minimnya pelatihan dan pembinaan supir dari perusahaan dimana mereka bekerja. “Karena fakta yang ada hingga saat ini menunjukan, 70% kecelakaan yang terjadi di jalan tol melibatkan truk, baik itu sebagai penyebab, maupun sebagai pihak yang disebabkan. Itu faktanya. Dan sebagian besar dikarenakan oleh human error, termauk yang kemarin itu (di tol Purbaleunyi),” papar Wahyudi kepada Motoris, di Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Kondisi sejumlah kendaraan yang terlibat pada kecelakaan beruntun di Tol Cipularang KM 92 Purwakarta, Jawa Barat, Senin (2/9/2019) – dok.via Republika.co.id

Menurut dia, dari penelitian dan kajian yang dilakukan Ditjen Hubdat, Kemenhub, ditemukan fakta bahwa banyak supir truk yang tidak mengindahkan prosedur yang baik dan benar dalam mewujudkan safety dring. Dia memberi contoh, kondisi rem blong yang kerap terjadi.

“Rem yang blong, itu sifatnya kasuistis, tidak semua truk yang sama, tahun yang sama, model yang sama mengalaminya. Artinya, ini tergantung perawatan mobil, pembinaan supir. Kita lihat saja, kebiasaan supir yang sebelum berangkat tidak mengecek kesiapan kendaraannya. Ini jelas salah, karena tidak tahu, seperti apa kondisinya,” ungkap Wahyudi.

Sedangkan pelatihan dan pembinaan supir oleh perusahaan, kata Wahyudi, hingga saat ini masih terbiang minim. Perusahaan banyak yang bersifat pragmatis merekrut supir. Sistem perekrutan sangat amburadul. “Mereka kebanyakan merekrut supir  seadanya, tidak selektif. Kenapa begitu, ya karena orang yang ingin jadi supir itu langka, sebab pendapatannya juga kecil. Tiak sebanding dengan risiko,” imbuh dia.

Salah satu truk boks yang menjadi korban kecealkaan beruntun di KM91 jalan tol Purbaleunyi – dok.RRI.co.id

Hanya bermodal kir dan SIM
Seperti halnya Wahyudi, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman menyebut, akar penyebab dari kecelakaan truk di jalan tol – termasuk yang terjadi di jalan tol Purbaleunyi kemarin adalah, sistem yang amburadul.

Carut-marutnya sistem tak hanya dari  pembinaan dan pelatihan supir saja, tetapi juga kondisi perusahaan yang ingin bersaing secara tak sehat dengan muatan yang berlebih atau overload. Padahal muatan yang kelewat batas itulah maka kemampuan sistem pengaman atau peranti keselamatan truk juga tak mampu berfungsi menahan laju truk saat kendaraan itu dijalankan.

“Secara faktual, 90% truk di Indonesia yang dijalankan, itu overload. Mengangkut melebihi batas muatan yang ditentukan pabrikan maupun aturan negara. Ini sangat erat kaitannya dengan kecelakaan. Itu juga terjadi truk yang kecelakaan di jalan tol KM91 Purbaleunyi kemarin. Itu overload, overdimensi,” kata Kyatmaja saat dihubungi, Selasa (3/9/2019).

Dari hasil kajian yang dilakukan Aptrindo, kata CEO Lookman Djaja Group itu, dump truck yang mengalami rem blong kemudian terguling dan memicu terjadinya kecelakaan beruntun itu memuat 40 ton. Padahal, mustinya truk itu hanya boleh mengangkut maksimal 11 ton saja.

“Nah, kalau kita total beban truk itu (yang diketahui, truk Hino Ranger Dump FM 260) terhadap sistem pengeremannya sangat tidak berimbang. Kalau kita total beban truk itu, yakni bobot kosongnya 26 ton. Tetapi yang terjadi, muatannya ditambah bobot truk jadi 40 ton. Artinya, ada kenaikan total bebannya sekitar 300%. Akibatnya, rem tidak kuat menahan laju truk yang total (dengan muatan) seberat itu dan blong, apalagi jalanan menurun tajam, pas dipaksakan rem mesin tergelincir, (truk) terguling,” jelas Kyatmaja.

Kyatmaja Lookman – dok.Pribadi

Seperti halnya Wahyu, dia berharap selain melakukan edukasi dan pelatihan supir, perusahaan juga harus ditertibkan. “Sekarang ini, orang mau bikin perusahaan angkutan truk sudah enggak pakai izin-izinan. Itu sudah terjadi sejak tahun 1992. Sekarang, cukup dengan KIR dan SIM, punya armada truk berapa unit sudah langsung bikin perusahaan. Jalan. Begitu juga dengan jenis muatan yang dibawa, tidak perlu izin, baik itu batu kali, pasir, dan lainnya kecuali limbah B3, tidak ada izin-izinan. Sistem ini jelas amburadul, kebablasan,” sebut Kyatmaja.

Akibatnya, truk-truk yang digunakan juga tidak terkontrol dengan baik. Begitu pun dengan muatan yang dibawa truk-truk tersebut, tak ada batasan. Padahal, cara seperti itu menjadikan persaingan di antara sesama pengusaha angkutan truk menjadi tidak sehat.

“Ujungnya, banyak pengusaha truk yang banting harga dan menantang risiko. Truknya dipaksa memuat melebihi batas kemampuan maupun aturan. Yang terjadi overload, dan itu berakibat ke keselamatan di jalan. Itulah yang terjadi kemarin,” imbuh Kyatmaja. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This