Bertahun i-Miev Hanya Kenalan, Mitsubishi “Putus Harapan”

Bertahun i-Miev Hanya Kenalan, Mitsubishi “Putus Harapan”
Mitsubishi i-Miev kembali dipamerkan di sebuah hajatan otomotif. Kali ini di hajatan Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Sejatinya, kalau mau jujur, PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) dengan mobil listrik berbasis baterai (BEV) – Mitsubishi innovative Electric Vehicle (i-Miev) – merupakan pelopor pengenalan kendaraan listrik murni (BEV) di dekade 2000-an. Pasalnya, sejak tahun 2007 lalu, MMKSI telah memperkenalkannya, bahkan tak hanya sekali tetapi juga berkali di berbagai hajatan

Namun, sayang, sejak itu pula, status mobil bersumber tenaga dari arus setrum itu tak kunjung dijual. Hanya perkenalan, dari satu gelaran ke gelaran. Hanya itu. Bahkan di ajang yang paling gres digelar, Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019 di Balai Kartini, Jakarta, 4 – 5 September.

“Masih diperkenalkan ke masyarakat, bahwa Mitsubishi juga mempunyai kendaraan listrik berbasis baterai, full electric (BEV),” kata Director of Sales & Marketing Division MMKSI. Irwan Kuncoro, saat ditemui usai pembukaan IEMS di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Ada sejumlah alasan yang disodorkan oleh Irwan. Pertama, di Indonesia, hingga kini belum ada regulasi yang mengatur soal mobil listrik. Termasuk insentif-insentif yang diberikan bagi mobil ramah lingkungan itu seerti di negara-negara lain.

Mitsubishi i-Miev di Indonesia sudah lama diperkenalkan, kini kembali dipamerkan di hajatan IEMS 2019 – dok.Motoris

Padahal, insentif tersebut dibutuhkan untuk memangkas banderol mobil listrik, termasuk i-Miev. Sehingga harganya terjangkau.

“Karena insentif nya belum jelas. Karena itu kami pikir daripada menjual mobil listrik berukuran kecil dengan harga yang mahal, ya mending jual yang besar sekalian. Apalagi, dari segi fungsi juga jauh lebih bermanfaat dan lebih pas untuk kondisi jalanan di Indonesia,” papar dia.

Kedua, infrastruktur untuk mobil listrik di Tanah Air masih sangat langka, untuk menyebut tidak ada. Alhasil, kalau pun i-Miev dijual, lalu digunakan oleh pemilik dan mengalami masalah, ternyata tempat penecasan baterai tidak ada di lokasi tersebut.

“Kalau pas daya di baterai habis, dan ternyata di lokasi itu (tempat mobil kehabisan daya baterai) belum ada infrastruktur untuk charging-nya, kan malah menyusahkan pelanggan. Kami tidak ingin seperti itu,” terang Irwan.

Mitsubishi i-Miev adalah mobil litrik Mitsubishi yang sudah diperkenalkan sejak tahun 2007 dan menjadi mobil listrik pertama yang lolos uji tipe di Indonesia – dok.Motoris

Timing yang lewat
Dan yang ketiga, dan mencuatkan kesan MMKSI seperti “terlihat” hopeless atau putus harapan, adalah masa atau timing yang telah lewat. Ketika i-Miev – yang merupakan city car itu – diperkenalkan pada tahun 2006- 2007, segmen pasar mobil perkotaan masih moncer.

Penjualannya pun masih oke. Namun, itu telah berlalu. Kini, kondisi telah berbeda. Tren minat masyarakat telah berubah dan mengarah ke mobil jenis Sport Utility Vehicle (SUV) dan Multi Purpose Vehicle (MPV).

“Seperti halnya di luar sana (pasar global) tren yang terjadi kan memang seperti itu, yaitu mengarah SUV. Mitubishi ke depannya juga akan berfokus ke sana. Jadi bukan ke sedan atau mobil keci. Ya, jadi buat apa kami menjual harus menjual i-Miev,” kata Irwan.

Plug-in Hybrid Electric Vehicle, Mitsubishi Outlander PHEV diluncurkan secara resmi di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Dia pun menegaskan, kini MMKSI mendorong penjualan Mitsubishi Outlander berteknolohi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Selain wujudnya yang pas dengan tren minat masyarakat yakni ke SUV atau Crossover, teknologinya juga cocok dengan kondisi di Indonesia, dimana infrastruktur mobil listrik belum terbangun secara menyeluruh.

“Makanya menurut kami, Outlander PHEV merupakan (kendaraan) yang paling ideal  (untuk kondisi Indonesia saat ini),” imbuh Irwan. (Fer/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This