Bank Dunia Sebut RI Belum Bisa Jadi Pemain Mobil Listrik Global

Bank Dunia Sebut RI Belum Bisa Jadi Pemain Mobil Listrik Global
Ilustrasi bagian-bagian mobil listrik - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Sebuah laporan riset yang dilakukan oleh World Bank atau Bank Dunia bertajuk “Global Economic Risks and Implications for Indonesia” menyebut Indonesia tidak akan bisa menjadi pemain global di pasar mobil listrik dunia. Pasalnya, Indonesia kesulitan untuk menembus pasar ekspor lantaran hingga kini tidak menjadi bagian dari rantai pasok global.

“Untuk menjadi eksportir mobil, (Indonesia) harus menjadi bagian dari rantai pasok terintegrasi di beberapa negara. Tetapi, Indonesia tidak terhubung ke sana,” salah satu bunyi pernyataan di laporan yang dirilis akhir Agustus lalu, dan dikutip Jumat (6/9/2019).

Indonesia kesulitan masuk ke dalam rantai pasok global ekspor karena sejumah alasan. Indonesia, disebut memiliki persoalan karena impor bahan baku yang digunakan untuk produk ekspor biayanya terlalu mahal. Selain itu, prosesnya membutuhkan waktu lama dan diskresi non tarif yang berbelit.

Ilustrasi, infrastruktur pengisian arus untuk baterai mobil listrik – dok.livemint

Produk ekspor Indonesia, dinilai tidak kompetitif karena mayoritas produk bahan baku utama maupun pelengkap dikenakan tarif impor. Diantaranya, tarif 15% untukimpor produk ban, 10% untuk kabel igniters, dan 15% untuk kumparan maupun baut.

Penyebab lain yang menjadi Indonesia dinilai tidak bisa bergabung dengan pasok global adalah, jumlah tenaga ahli yang sangat jauh dari cukup. Terutama dalam bidang Production Engineer, Process Engineer, Desain Engineer, Production Planning, Inventory Control, hingga Human Resources Manager atau manajer sumberdaya manusia.

Terlebih, Indonesia juga menerapkan kebijakan pembatasan penanaman modal asing langsung atau Foreign Direct Invesment (FDI) yang tertuang di aturan Daftar Negatif Investasi (DNI). Akibatnya, biaya logistik menjadi mahal.

Sementara sumberdaya kelistrikan di Indonesia lebih mahal. Soal kelistrikan ini dinilai belum bisa diandalkan dibanding kelisrikan di negara-negara tetangga Indonesia. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This