Soal Limbah Baterai Listrik, KPPB: Jangan Cuma Euforia

Soal Limbah Baterai Listrik, KPPB: Jangan Cuma Euforia
Ilustrasi baterai motor listrik di mobil - dok.Stanford University

Jakarta, Motoris – Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) meminta peerintah bersikap tegas dan transparan dalam menetapkan kebijakan yang menyangkut pengeolaan limbah baterai dari kendaraan listrik. Pengelolaan limbah baterai sistem kelistrikan kendaraan – baik mobil maupun motor – atau aki selama ini harus menjadi pelajaran berharga.

“Sampai saat ini seperti apa pengelolaan limbah baterai kedaraan konvensional yakni aki saja, tidak jelas dan tidak transparan. Pemerintah memang sudah ada perusahaan pengelolaan limbah resmi, yakni di Tangerang, Cikarang, Tegal, Lamongan, dan Pasuruan. Tetapi, seperti apa kinerja proses itu, bagaimana hasilnya? Tidak jelas,” papar Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safrudin, saat dihubungi Motoris, Senin (9/9/2019).

Menurut pria yang akrab disapa Puput itu, hingga saat ini banyak ditemukan perusahaan pengolah limbah di luar prusahaan resmi yang beroperasi. Mereka membeli dari para pemulung atau toko-toko aki.

“Kemudian, pengelola ilegal itu melakukan peleburan aki untuk mendapatkan material-material penting yang bisa digunakan untuk produksi aki baru lagi, tanpa disertai teknologi, prosedur, dan cara-cara yang benar. Teknologi seadanya, sehingga banyak menimbulkan dampak. Janin yang lahir cacat, atau beberapa penyakit yang ditumbulkan. Ini masalah serius,” kata Puput.

Ilustrasi, mobil listrik Mitsubishi i-Miev – dok.Motoris

Hal ini terjadi, karena ketidaktegasan pemerintah adalam menjalankan aturan soal pengelolaan limbah yang masuk dalam kategori B3 (bahan berbahaya beracun) itu. Alhasil, banyak pihak-pihak yang tidak semstinya melakukan pengelolaan – karena tidak diizinkan dan tidak memenuhi standar pengelolaan maupun pengolahan – harus dilarang.

“Kalau kita sekarang mau mengatur soal limbah baterai kendaraan listrik ini, juga suah telat sebenarnya. Mestinya, jauh sebelum Peraturan Presiden (Perpres) 55 Tahun 2019 diteken Presiden, lembaga atau kementerian yang terkait sudah siap dengan aturan itu, dan tinggal eksekusi, karena wacana mobil listrik itu sudah bertahun-tahun lalu muncul. Jadi, kami berharap kalau pun sekarang muncul, juga bukan hanya karena euforia, sekarang lagi hot isu mobil listrik. Implementasinya nanti juga harus tegas dan transparan,” terang Puput.

Ilustrasi, seorang pengunjung GIIAS 2019 melihat detil sebuah mobil listrik di booth DFSK – dok.Motoris

Urgensi transparansi
Pemerintah tak perlu terjun langsung mengelola dan mengolah limbah tersebut, karena tugas dan fungsinya sebagai regulator. Namun, fungsi pengawasan dan pemberi sanksi juga ada yang salah harus dijalankan.

“Karena pengelolaan limbah itu merupakan peluang bisnis yang menjanjikan juga. Karena itu, sekali lagi harus ransparan. Apakah dikelola dan diolah di dalam negeri, atau diekspor, harus jelas. Oleh siapa, kemana ekspornya. Kalau diolah, oleh siapa, seperti apa teknologinya, bagaimana amdal-nya, harus transparan. Ini urgesi transparansi,” imbuh Puput.

Sebelumnya, Peneliti Pusat Teknologi Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jarot Raharjo mengaaku, sejak tahun 2018 lalu telah melakukan pengkajian pengolahan baterai kendaraan listrik. Terutama, kata dia, sejak isu mobil listrik mulai marak di Tanah Air.

Ilustrasi, motor listrik Gesits – dok.Motoris

“BPPT mulai setahun lalu telah mempersiapkan ke depan, karena ini artinya akan banyak limbah baterai. Jadi kami dari Pusat Teknologi Material mengkaji teknologi bagaimana medaur ulang baterai,” tutur Jarot saat ditemui di sela acara Indonesia Electric Motor Show 2019 di Jakarta, Kamis (5/9/2019).

Sistem yang tengah serius dijaki adalah bagaimana mengambil kembali bahan-bahan penting dari limbah tersebut untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan baterai yang baru.

“Kita akan memperbaiki lagi material yang berharga yang ada di baterai lithium seperti kobalt, mangan, dan nikel di baterai tersebut, untuk digunakan dalam pembuatan baterai baru,” jelas dia. (Fer/Ara)

 

 

CATEGORIES
TAGS
Share This