Ekonomi Cuma Tumbuh 5,08%, Penjualan Mobil Mentok di 1 Juta Unit

Ekonomi Cuma Tumbuh 5,08%, Penjualan Mobil Mentok di 1 Juta Unit
Ilustrasi, suasana di GIIAS 2019 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun nanti hanya 5,08% atau meleset dari target yang ditetapkan sebesar 5,3%. Mentoknya pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan membawa dampak mentoknya penjualan mobil di Indonesia.

Ekonom Institute for Development on Economic (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menyebut, rendahnya pertumbuhan ekonomi dikarenakan faktor daya beli masyarakat yang melemah. Pasalnya, sekitar 55-56% pertumbuhan ekonomi nasional disumbang oleh konsumsi rumah tangga, mulai dari belanja kebutuhan pokok sehari-hari, biaya sekolah anak, pembelian barang sandang, komestik, rekreasi, hingga pembelian kendaraan.

“Lemahnya daya beli bisa dikarenakan berbagai faktor, pendapatan yang tidak bertambah tetapi harga semakin mahal, harga komoditas yang rendah atau jatuh, dan nilai tukar yang rendah karena lemahnya rupiah akibat perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok, dan lain-lain,” papar Bhima saat dihubungi, Selasa (24/9/2019).

Padahal, lanjut dia, kendaraan bermotor – baik roda dua maupun roda empat – bukanlah barang kebutuhan pokok bagi rumah tangga. Sehingga, dlam daftar skala prioritas pembelian juga bergeser ke urutan yang lebih bawah. “Semakin lemah daya beli, maka skala prioritas yang utama tentu akan ditempatkan barang-barang kebutuhan pokok, karena ini menyangkut hajat hidup keluarga,” ungkap dia.

Ilustrasi, Daihatsu Xenia di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Dengan kondisi seperti itu, Bhima menganggap wajar jika penjualan mobil di Tanah Air juga masih belum mencapai target hingga akhir tahun nanti. Terlebih, penurunan suku bunga dan relaksasi kredit berupa penurunan uang muka kredit oleh Bank Indonesia, diperkirakan belum banyak berpengaruh.

“Kan kebijakan itu (DP lebih rendah) mulai berlaku 22 Desember, dan penurunan BI Rate (suku bunga BI menjadi 5,25% ditetapkan September lalu, bagaimana pun bank dan leasing juga perlu waktu untuk penyesuaian. Apalagi, sekarang LDR (loan to deposit ratio atau rasio penyaluran kredit) bank sudah di atas 90% lebih. Mereka juga akan selektif dan hati-hati,” ungkap dia.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukan, wholesales mobil di pasar domestik sepanjang Januari-Agustus sebanyak 660.286 unit, sedangkan periode yang sama 2018 sebanyak 763.444 unit. Artinya jumlah wholesales ini, ambrol 13,51% dibanding rentang waktu yang sama tahun 2018.

Nissan New Livina saat dipamerkan di hajatan GIIAS 2019 – dok.Motoris

Revisi target
Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto mengaku pihaknya pada telah melakukan revisi target penjualan dari 1,15 juta unit (yang sama dengan tahun lalu) menjadi 1 juta unit. Hal itu, kata dia, dilakukan karena melihat trek record penjualan yang telah terjadi.

“Kita sudah lakukan revisi. Target 2019 ini kita tetapkan jadi 1,1 juta unit , tetapi melihat kondisi sampai Juli lalu, yang baru mencapai 570.000 unit, Gaikindo merevisi target menjadi 1 juta unit,” ujar dia saat dihubungi, belum lama ini.

Faktor daya beli, menurut Jongkie menjadi peyebab penurunan penjualan. Oleh karena itu, di bulan-bulan yang tersisa sebelum tutup tahun 2019, dia menyerahkannya kepada agen pemegang merek kendaraan untuk berkreasi memacu penjualan.

Pernyataan Jongkie senada dengan analis Panin Sekuritas, Nico Laurens. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada posisi stagnasi di kisaran 5% plus harga komoditas yang ambles, sangat berpengaruh ke permintaan kendaraan bermotor roda empat atau lebih.

Ilustrasi, Toyota New Calya, versi penyegaran dari LCGC Toyota Calya yang diluncurkan PT Toyota Astra Motor diyakini bakal memantik minat konsumen – dok.Motoris

“Apalagi, masyarakat saat ini juga sudah punya pilihan transportasi umum yang lebih bagus, dan angkutan online,” kata dia.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara di Jakarta, Selasa (24/9/2019) kemarin menyatakan pertumbuhan ekonomi tahun ini diprediksi hanya berada di kisaran 5,08%. Angka ini berada jauh di bawah target pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah sebesar 5,3% yang ditetapkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019).

“Untuk pertumbuhan ekonomi setahun ini sekitar 5,08%. Artinya di semester II sekitar 5,11%-5,12%,” papar dia di Kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta.

Menurut dia, melambatnya perekomoian nasional disebabkan oleh kondisi perekonomian global yang juga berada dalam tren perlambatan. “Padahal, kalau ekonomi negara maju melambat, permintaan barang-barang dari Indonesia juga menurun,” kata dia.

Ilustrasi, Mitsubishi Xpander di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Selama ini, sektor penggerak perekonomian seperti ekspor dan investasi masih belum memberikan hasil yang positif. Hal itu, lanjut Suahasil, terlihat dari penerimaan negara.

“Tanda-tanda sudah terlihat di penerimaan negara, karena itu harus diwaspadai terus,” kata dia. (Fan/Fer/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This