B30 Berlaku, Pemerintah Diminta Berpikir Soal Truk Usia Tua

B30 Berlaku, Pemerintah Diminta Berpikir Soal Truk Usia Tua
Ilustrasi, truk modifikasi- dok.Herry Irmayesi, Komunitas Truk Cakep Indonesia

Jakarta, Motoris – Para pelaku usaha angkutan truk di Indonesia meminta agar pemerintah kembali mencermati dampak yang muncul di bisnis angkutan truk sebelum benar-benar mewajibkan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) solar bercampur minyak nabati 30% atau B30. Pasalnya, 50% lebih dari populasi truk yang ada saat ini sudah berusia di atas 10 tahun yang mesinnya tidak kompatibel dengan B30.

“Jadi, sebelum terlambat, mohon sekiranya uji jalan atau tes jalan atau test road truk-truk dengan BBM B30 itu juga dilakukan pada unit-unit tua (usia di atas 10 tahun). Selain menyangkut kelancaran bisnis secara keseluruhan, baik di pengusaha angkutan maupun perusahaan penggunanya. Karena kalau truk mogok atau bermasalah, akibatnya bisa gerantai dan besar,” tutur Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman , kepada Motoris, Jumat (27/9/2019).

Menurut dia, selama ini, road test dilakukan pada unit-unit baru, yang mesinnya bisa jadi sudah ‘ramah” dengan biodisel B30 itu. Sehingga, lanjut CEO Lookman Djaja Group itu, hingga kini belum diketahui bagaimana dengan truk-truk unit lama saat menggunakan B30.

Terlebih, saat ini sekitar 70% truk yang ada diketahui jarang melakukan perawatan akibat persaingan yang ketat dan tidak sehat. Karena persaingan seperti itu, maka banyak pengusaha yang tidak memiliki alokasi anggaran untuk disisihkan sebagai biaya perawatan berkala.

Ilustrasi, angkutan truk di jalan – dok.Harianterbit.com

“Kita tahu 70% truk tidak melakukan perawatan karena, truk sebanyak itu tidak melakukan Kir. Kenapa tidak KIR karena mereka melanggar ketentuan ODOL (over load, over dimensi). Kecelakaan di jalan 70% melibatkan truk,” ujar Kyatmaja.

Kondisi semakin berat, karena tingkat penggunaan atau utilisasi truk di Tanah Air saban tahunnya hanya 40-50%. Selebihnya, truk menganggr. Akibatnya, banyak pengusaha yang banting harga. Dan karena pendapatan yang mepet, akhirnya perawatan pun terabaikan.

“Apalagi, kalau kondisi seperti ini harus menggunakan BBM B30. Bisa terjadi potensi yang tidak baik,” kata Kyat.

Pernyataan serupa diungkapkan Pengurus Pagyuban Supir Truk Indonesia, Sudarmadi. Menurut dia, road tes yang dilakukan selama ini hanya di unit lama. Oleh karena itu, dia berharap agen pemegang merek (APM) juga melakukan road test dengan unit lama.

“Itu sebagai pertanggungjawaban moral APM. Jangan setelah jual, lalu lepas begitu saja. Karena unit lama juga masih pakai merek dia. Kita minta APM juga test road unit lama lah,” kata dia saat dihubungi.

Ilustrasi truk modifikasi – dok.Herry Irmayesi, Komunitas Truk Cakep Indonesia

Menurut pria yang telah 25 tahun menjadi pengemudi truk itu, selama ini anjuran baik dari pemerintah maupun APM adalah mengganti filter dan menambahkan water separator agar truk mampu menenggak B20 atau nanti B30.

“Padahal, ganti filter butuh biaya. Apalagi beli water separator, bisa Rp 5 jutaan. Minimal membersihkan filter berkali-kali, dari gel. Itu kan butuh waktu, jadi perjalanan kita bisa terlambat juga,” imbuh pria asal Temanggung, Jawa Tengah, itu. (Fan/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This