Kalah Kompetisi, Vietnam Batasi Impor Mobil RI Pakai Pajak Konsumsi

Kalah Kompetisi, Vietnam Batasi Impor Mobil RI Pakai Pajak Konsumsi
Ilustrasi, Toyota Rush yang ditujukan untuk ekspor - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Setelah tahun 2018 lalu menerapkan kebijakan Decree No.116/2017/ND-CP atau Decree on Requirements for Manufacturing, Assembly and Import of Motor Vehicles and Trade in Motor Vehicle Warranty and Maintenance Services, untuk menghadang derasnya impor mobil, kini Vetnam berulah lagi. Dikabarkan, Vietnam mulai Oktober besok menerapkan hambatan non tarif baru berupa pajak konsumsi spesial (special consumption tax/SCT) untuk mobil impor.

Langkah Vietnam ini, dinilai Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Harjanto, bisa mengganggu kinerja ekspor Indonesia. Maklum, negeri Paman Ho itu, kata dia, merupakan salah satu pasar terbesar bagi ekspor mobil Indonesia.

“Sepanjang tahun 2018 kemarin saja, seingat saya ekspor (mobil) ke Vietnam itu sekitar 40.000-an unit, itu setara dengan 20%-an, dari total ekspor (mobil) kita yang sebanyak 220.000-an unit. Jenis (mobil) yang diekspor beragam, ada MPV, pikap, truk, dan SUV. Coba data lengkapnya tanya Pak Putu (Putu Juli Ardika, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Ditjen ILMATE Kemenperin),” papar Harjanto saat ditemui usai mendampingi Menteri Perindustrian di sela kunjungan booth peserta Indonesia Modification Expo 2019, di Jakarta, Sabtu (28/9/2019).

Ilustrasi, Mitsubishi Xpande, salah satu Low PV yang diekspor Indonesia – dok.Motoris

Menurut Harjanto, apa yang dilakukan oleh negeri itu merupakan mekanisme pertahanan diri menghadapi persaingan yang sengit dengan produk dari luar negeri.Tak terkecuali derasnya serbuan mobil produksi Indonesia.

“Ketika permintaan produk dari luar negeri, termasuk dari Indonesia terus mengalir dan semakin deras, sementara produk lokal kalah berkompetisi di pasar, maka ada self mechanism defense melalui hambatan non tarif. Kalau pakai tarif (bea masuk) kan enggak boleh tuh oleh WTO (World Trade Organization), makanya pakai pajak,” ungkap dia.

Sebelumnya, dalam sebuah konferensi pers melalui video, pada Kamis (1/8/2019) lalu, Duta Besar Indonesia Untuk Vietnam Ibnu Hadi mengatakan impor mobil Vietnam sepanjang Januari – Juni lalu melonjak drastis. Hal itu, membuat pemerintah setempat kelabakan.

“Sehingga, ada kemungkinan mulai 1 Oktober diterapkan consumer special tax untuk mobil impor, dan sebaliknya untuk mobil produksi lokal pajak itu diturunkan,” ujarnya kala itu.

Ilustrasi, Toyota Innova yang diangkut mobil gendong menuju pelabuhan untuk diekspor- dok.TMMINToyota Innova yang diekspor – dok.TMMIN

Bukan retaliasi, tapi diplomasi
Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (ILMATAP) Kemenperin, Putu Juli Ardika yang ditemui di tempat yang sama dalam kesempatan terpisah mengatakan, menghadapi apa yang dilakukan di Vietnam, kemungkinan besar Indonesia tidak melakukan retaliasi atau tindakan balasan. Sebagai negara sesama anggota ASEAN, kata Putu, akan lebih dikedepankan tindakan diplomasi.

Terlebih, diplomasi juga telah terbukti tokcer ketika terhadi tindakan “pembatasan” impor mobil dari Indonesia oleh Vietnam melalui hambatan non tarif pada tahun 2018 lalu. Akibatnya ekspor mobil utuh (CBU) Indonesia sempat terhenti.

“Tetapi berkat diplomasi kita, Agusus (tahun itu) mulai masuk lagi ekspor kita. Jadi kita lebih tekankan diplomasi, sebagai sesama negara anggota ASEAN,” kata Putu.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (ILMATAP) Kemenperin, Putu Juli Ardika – dok.Motoris

Meski sejatinya, jika tidak ditemukan jalan keluar Indonesia, bisa mengajukan keberatan melalui WTO. Sehingga, hambatan non tarif yang merugikan Indonesia tersebut bisa dipatahkan. Maklum, Indonesia memang memiliki kepentingan besar terhadap Vietnam.

Data yang disodorkan Putu menunjukan, sejak tahun 2017 hingga kini, tren ekspor mobil Indonesia ke Vietnam terus meningkat. Jika di tahun 2017 masih sebanyak 12.952 unit, tahun 2018 telah menjadi 17.798 unit.

“Bahkan, dari Januari – Juli 2019 ini, total unit yang diekspor sudah mencapai 22.557 unit. Artinya sudah jauh melampui ekspor sepanjang tahun 2018,” jelas dia.

Jumlah unit yang diekspor sepanjang tahun 2017 itu terdiri dari mobil CBU Toyota sebanyak 12.222 unit dan Hino sebanyak 730 unit. Tahun 2018 terdiri dari mobil Toyota 7.889 unit, Daihatsu 7.264 unit, Hino 355 unit, dan Mitsubishi 2.290 unit.

Ilustrasi, truk Hino – dok.Motoris

Adapun di tahun ini, di rentang waktu Januari hingga Juli, unit yang diekspor ke Vietnam itu terdiri dari Daihatsu sebanyak 6.166 unit, Hino 250 unit, Honda 2.551 unit. Sedangkan Mitsubishi sebanyak 8.318 unit, dan Toyota 5.272 unit. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This