Impor Ban RI Capai Rp 1,36 T, Industri Lokal Ngos-ngosan

Impor Ban RI Capai Rp 1,36 T, Industri Lokal Ngos-ngosan
Ilustrasi ban mobil - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Sepanjang tahun 2018 lalu, Indonesia mencatatkan impor ban – baik untuk sepeda, kendaraan bermotor roda dua, dan kendaraan bermotor roda empat atau lebih – dengan total nilai US$ 97 juta atau sekitar Rp 1,367 triliunan. Sementara, produsen ban di dalam negeri memperkirakan penjualannya di pasar ekspor pada tahun ini ambles 5-10%.

Data dari Kementerian Perindustrian menunjukan, nilai tersebut terdiri dari nilai impor ban kendaraan roda empat atau lebih dan kendaraan bermotor roda dua serta sepeda. Impor ban kendaraan jenis pertama senilai US$ 88 juta atau sekitar Rp 1,24 triliun. Sedangkan untuk kendaraan bermotor roda dua dan sepeda senilai US$ 9 juta atau sekitar Rp 126,9 miliar.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (ILMATAP) Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika menyebut, impor itu dilakukan untuk melengkapi produksi kendaraan yang diorientasikan ekspor. Meski ada sebagian di antaranya untuk konsumsi dalam negeri.

“Dari ban impor ini, sekitar 91% diberikan tarif preferensi 0-15%,” ujar dia saat ditemui usai pembukaan Indonesia Modification Expo (IMX) 2019, di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (28/9/2019).

Ilustrasi ban – dok.Motoris

Ban kendaraan bermotor roda empat atau lebih itu didatangkan dari lima negara. Porsi terbesar dari Cina yakni 34%, kemudian Thailand (29%), India (14%); Jepang (11%) dan Korea (3%). Sedangkan ban kendaraan roda dua, terbanyak didatangkan dari Thailand (50%), Brazil (14%), Jepang (11%) dan Jerman (6%).

“Untuk Brazil dan Jerman dikenai tarif MFN (Most Favoured Nation) yakni tarif umum yang dberikan untuk sesama anggota World Trade Organization) sebesar 15%. Karena kedunya belum meiliki perjanjian kemitraan Free Trade Agreement (FTA) dengan kita. Sedangkan sisanya memperoleh tarif 0-5% (karena ada kerjasama FTA),” tutur Putu.

Kendati ada impor, namun Putu menyebut produksi ban oleh industri di dalam negeri juga masih tinggi. Saat ini, kata dia, ada 16 ban di dalam negeri dengan kemampuan produksi sekitar 300 juta pieces per tahun untuk berbagai jenis kendaraan.

Bahkan, 45% produksi atau 134 juta pieces diperuntukkan ekspor. Produksi terbesar yaitu ban sepeda motor sebesar 180,3 juta pieces, ban kendaraan penumpang 61,8 juta pieces, ban sepeda 39,2 juta pieces, dan sisanya produksi ban untuk keperluan lainnya.

Ilustrasi, ban Batlax yang diimpor oleh PT Bridgestone Indonesia – dok.Tokopedia

Ekspor susut 5-10%
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI), Aziz Pane, menyebut asosiasi yang dipimpinnya memperkirakan, ekspor tahun ini turun 5-10% dibanding tahun lalu. Sedangkan penjualan di dalam negeri tertekan karena konsumen semakin irit berbelanja ban untuk kendaraan mereka.

“Kalau bicara ekspor tentu kita melihat kondisi pasar yakni negara tujuan ekspor. Dan kita tahu, dampak perang dagang (Amerika Serikat dengan Cina) itu kemana-mana, terutama ke negara-negara yang selama ini menjadi tujuan ekspor,” tutur Azis saat dihubungi, di Jakarta, belum lama ini.

Pernyataan Azis bukan tanpa dasar, Data yang dikompilasi Badan Pusat Statisk menunjukan, di rentang waktu Januari – Juli lalu, nilai ekspor karet dan produk barang dari karet (termasuk ban) menciut 6,8%. Jika di kurun waktu yang sama tahun lalu masih senilai US$ 3,84 miliar, di tujuh bulan pertama tahun ini hanya US$ 3,58 miliar.

asi proses produksi ban oleh produsen ban lokal Indonesia, di PT Multistrada Arah Sarana- dok.Istimewa

Menurut dia, turunnya kinerja ekspor juga dikarenakan harga ban buatan Indonesia yang tidak kompetitif dari sisi harga. Maklum, 60% bahan bakau ban buatan Indonesia masih diimpor. Salah satunya, carbon black yang pasokannya dari industri dalam negeri belum sampai 40%.

“Sedangkan kalau bicara penyerapan di dalam negeri, tentu kita harus melihat penjualan mobil dan jumlah produksinya. Tahun ini di semester pertama kan penjualan turun 13% (kendaraan roda empat). Sedangkan di pasar replacement (pasar ritel untuk penggantian oleh konsumen) juga turun karena lemahnya daya beli,” ujar Azis. (Fer/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This