Tarif BBN Jakarta Naik, Penjualan LCGC Bisa Makin Tercekik

Tarif BBN Jakarta Naik, Penjualan LCGC Bisa Makin Tercekik
Toyota New Calya diharapkan kembali menggairahkan pasar LCGC yang selama delapan bulan masih esu - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Menyusul langkah provinsi lainnya baik di Jawa maupun Bali, pemerintah Provinsi DKI Jakarta, mulai Oktober ini resmi memberlakukan tarif baru Bea Balik Nama (BBN) kendaraan yang naik dari 10% menjadi 12,5%. Dikereknya tarif bea ini dinilai bakal memberikan dampak terhadap penjualan kendaraan khususnya kategori Kendaraan Bermotor Roda Empat yang Hemat Energi dan Harga Terjangkau ( KBH2) atau Low Cost Green Car (LCGC).

Seperti diungkapkan Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) pembeli kendaraan kategori ini mayoritas merupakan pembeli pemula (entry level). Umumnya, mereka yang baru berpindah dari kendaraan bermotor roda dua ke kendaraan bermotor roda empat.

“Sekitar 70-80% merupakan konsumen yang baru pertama membeli (first buyer). Soal harga merupakan sensitif bagi mereka. Apalagi, DKI Jakarta dan sekitarnya ini, penyerap sekitar 60% mobil baru yang dipasarkan. Jadi, kalau ditanya apakah (kenaikan) BBN berpengaruh, tentu akan berpengaruh. Sampai berapa lama ya kita lihat saja. Pengalaman sebelumnya (dampak kenaikan BBN ke pembelian) sekitar enam bulan,” papar dia saat dihubungi, Jumat (4/10/2019).

Ilustrasi, All New Datsun GO-Live Special Version di IMX 2018 – dok.Motoris

Pernyataan senada sebelumnya juga sempat diungkapkan Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmy Suwandi, saat ditemui di sela peluncuran Toyota New Calya, di kawasan Jenderal Sudirman, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, pengalaman yang ada sebelumnya yakni ketika pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Banten, serta daerah lainnya di Jawa terutama Jawa Timur mengerek tarif BBN dari 10% menjadi 12,5% terjadi perlambatan penjualan LCGC di wilayah setempat.

“Memang sempat membuat penjualan LCGC sedikit melambat. Ada penurunan. Tetapi long term bisa kembali normal, karena kendaraan ini (LCGC) kan banyak dibutuhkan masyarakat, ya sekitar enam bulan sampai setahun. Tetapi saya kira bisa ebih cepat kembali normal,” papar Anton.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menyebut kenaikan harga produk – tak terkecuali LCGC – saat ini sangat besar dampaknya terhadap keinginan beli konsumen. Terlebih sebagian besar konsumen mobil kategori ini merupakan entry level.

Honda Brio modifikasi yang dipamerkan di hajatan IMX 2019 – dok.Motoris

“Harga merupakan hal yang sensitif bagi kelompok konsumen ini. Ada sedikit kenaikan, orang akan berpikir. Apalagi, kondisi daya beli saat ini juga tengah dalam tren melemah karena imbas perang dagang atau global, kebijakan kenaikan tarif listrik 900VA, kenaikan iuran BPJS dan lainnya. Sekarang konsumsi rumah tangga yang merupakan penopang pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh 5%. Apalagi, mobil kan bukan barang kebutuhan pokok bagi konsumen segmen LCGC,” ungkap dia saat dihubungi.

Harga baru
Data Gaikindo menunjukan, sepanjang delapan bulan pertama yakni dari Januari – Agustus penjualan LCGC ambrol hingga 40% dibanding periode sama tahun lalu. Jika sebelumnya penjualan mencapai 232.565 unit, tahun ini hanya 137.406 unit.

Bahkan, di dua bulan terakhir yakni dari Juli ke Agustus – atau sebulan sebelum tarif baru BBN DKI Jakarta berlaku – penjualan LCGC secara nasional juga ambles. Data berbicara, penjualan di sepanjang Agustus ambles 14% dibanding bulan sebelumnya, atau hanya 16.918 unit, padahal sebelumnya 19.696 unit.

Di tengah kondisi seperti ini, harga LCGC dari berbagai merek mulai Oktober ini sudah dikerek. Harga Honda Brio Satya terendah yang sebelumnya Rp 140 juta kini menjadi Rp 143,5 juta, dan tipe tertinggi dari Rp 163,5 juta menjadi Rp 167,6 juta.

Suzuki Karimun Wagon R GS – dok.promosuzukibandung.com

Datsun GO terendah yang semula dibanderol Rp 107,09 juta kini menjadi Rp 111,09 juta, dan tipe tertinggi dari Rp 146,06 juta kini menjadi Rp 150,36 juta. Sedangkan Datsun GO+ terendah banderolnya berubah dari Rp 115,57 juta menjadi Rp 119,27 juta, dan tipe tertinggi dari Rp 115,57 juta menjadi Rp 119,27 juta.

Harga LCGC Honda juga dikerek. Horio Satya tipe terendah, harga sebelumnya Rp 140 juta, kini menjadi Rp 143,5 juta. Dan tipe tertinggi dari Rp 163, 5 juta menjadi Rp 167,6 juta.

LCGC yang dijajakan Suzuki juga terlihat mengalami kenaikan harga. Data terbaru menunjukan, Karimun Wagon R tipe terendah yang sebelumnya berharga Rp 112,5 juta dikerek menjadi Rp 115,5 juta. Sementara, tipe tertinggi banderolnya naik dari Rp 143 juta menjadi Rp 146 juta.

Ilustrasi, LCGC Toyota Agya, salah satu mobil yang dipasarkan anak perusahaan Grup Astra yakni PT Toyota Astra Motor dipamerkan di IIMS 2019 – dok.Motoris

Kenaikan juga terjadi di LCGC Calya dan Sigra, tetapi harga ini terjadi berbarengan dengan hadirnya versi terbaru mereka. Sedangkan untuk Agya dan Ayla, harga masih sama dengan sebelumnya. (Fer/Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This