GM Gagal di RI, Karena Tak Klop dengan Daya Beli

GM Gagal di RI, Karena Tak Klop dengan Daya Beli
Ilustrasi, pabrik Chevrolet yang memproduksi SUV Chevrolet Trailblazer - dok.Detroit Free Press

Jakarta, Motoris – Setelah menutup pabriknya di Pondok Ungu Bekasi pada tahun 2015 lalu, kini Geeral Motors menyatakan akan menghentikan penjualan mobil-mobil merek di bawahnya – termasuk Chevrolet – di Indonesia mulai Maret 2020. Sejumlah kalangan menilai langkah GM itu didasari fakta lesunya penjualan karena harga produk yang diduga tidak klop dengan tingkat pendapatan masyarakat.

Dugaan seperti ini diungkapkan Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto. Menurut dia, bisa saja karena harga mobil-mobil Chevrolet di atas tingkat kesanggupan masyarakat secara umum. Padahal, kelompok ini jumlahnya terbanyak di Tanah Air.

“Karena kalau dilihat dari segi buying power, masyarakat kita yang terbanyak itu potensinya di mobil dengan harga Rp 200 juta ke bawah,” papar dia saat dihubungi di Jakarta, Selasa (29/10/2019).

Maklum, tingkat pendapatan rata-rata masyarakat Indonesia kini masih berkisar US$ 3.500 – 3.900. Terlebih, nilai tukar rupiah yang terus tertekan, dan pertumbuhan ekonomi yang besarannya tidak seperti yang diharapkan.

Pikap Double Cabin Chevrolet Colorado varian High Country di IIMS 2019 – dok.Motoris

“Sehingga, mobil-mobil impor dengan harga di atas Rp 200 juta juga semakin sulit,” kata Jongkie.

Seperti diketahui, hingga saat ini GM Indonesia menjajakan model Chevrolet Spark, Colorado, Trailblazer, Orlando, yang diimpor dari beberapa negara. Antara lain dari Korea Selatan dan Thailand.

Dugaan serupa dungkapkan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara. Menurut dia, tidak berkembangnya tingkat pendapatan masyarakat – dan hanya stagnan di US$ 3.500 – 3.900 – sangat berpengaruh terhadap tingkat konsumsi.

Terlebih, seiring perkembangan waktu harga-harga barang juga mengalami peningkatan sejalan dengan biaya produksi.  Indonesia, kata Bhima, saat ini mengalami apa yang dinamakan middle income trap, atau perangkap pendapatan menengah.

New Chevrolet Trax – dok.Istimewa

“Artinya, tingkat pendapatan masyarakat yang tetap segitu. Mengapa tidak meningkat, yak arena tidak ada sektor unggul yang kompetitif atau berdaya saing tinggi dan bisa menjadi sumber peningkatan pendapatan. Padahal, tingkat pendapatan sangat terakit dengan tingkat konsumsi,” ujar dia.

LCGC dan Low MPV
Bukti kesanggupan sebagian besar masyarakat masih ke mobil berbanderol Rp 200 juta ke bawah, kata Jongkie, salah satunya adalah larisnya mobil murah ramah lingkungan (LCGC). Penjualan mobil kategori ini, sepanjang tahun lalu tercatat mencapai 20% dari total penjualan 1,15 juta unit, atau 200.000 unit lebih.

“Selain LCGC, juga Low MPV tipe terbawah, yang harganya Rp 200 ke bawah atau paling tinggi Rp 200 juta lah. Itu yang terbanyak,” imbuh Jongkie.

Ilustrasi, LCGC Toyota New Calya – dok.Motoris

Sekadar catatan, penjualan GM di Indonesia terus melorot. Jika di tahun 2017 sempat membukukan penjualan sebanyak 3.687 unit atau ada kenaikan 34,6% dibanding tahun 2016, tahun berikutnya sudah ambrol. Di tahun 2018, penjualan tercatat hanya 2.444 unit degan pangsa pasar tak lebih dari 0,2%.

Sedangkan di tahun ini, dalam rentang waktu Januari – September penjualan yang terekam Gaikindo hanya 970 unit. Jumlah ini longsor hampir 50% dibanding sembilan bulan pertama tahun 2018 yang masih sebanyak 1.887 unit. (Fan/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This