Penjualan Truk Ambyar, Karena Pengusaha Takut “Kelar”

Penjualan Truk Ambyar, Karena Pengusaha Takut “Kelar”
Ilustrasi, Truk Fuso 6x2 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Hingga akhir September lalu, atau selama tiga kuartal berturut-turut penjualan kendaraan komersial truk di Indonesia tercatat sebanyak 65.832 unit atau ambles 22%. Ambyarnya penjualan dikarenakan kalangan pelaku usaha menahan diri untuk melakukan ekspansi bisnis atau menambah maupun mengganti armadanya.

Seperti diungkapkan Presiden Direktur Lookman Djaja Group – perusahaan jasa angkutan truk dan logistik – Kyatmaja Lookman, sejak awal tahun para pelaku usaha bersikap menunggu perkembangan dinamika bisnis di Tanah Air. Hal ini, kata dia terkait dengan kondisi politik yakni persiapan pemilihan umum (Pemilu), pemilihan presiden, hingga berbagai prosesi setelahnya.

Celakanya, kata pria yang juga Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) – itu, di kurun waktu bersamaan juga tengah berlangsung perang dagang Amerika Serikat degan Cina. Perseteruan antara dua negara besar ini, telah membawa dampak kepada ekonomi berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Kyatmaja Lookman – dok.Istimewa pribadi

“Apalagi di luaran sana (global) juga santer terdengar isu resesi. Jerman, Inggris, Italia, Meksiko, Brasil, Argentina, Singapura, Korea Selatan, dan Rusia, katanya sudah di ambang resesi. Makanya di saat seperti itu, kita hitung cash flow kita. Enggak berani mengambil kredit, karena bisnis berisiko tinggi. Salah langkah bisa lewat, kelar kita,” ungkap dia saat dihubungi Motoris, Jumat (1/11/2019).

APM revisi target
Pernyataan Kyatmaja diamini, Teguh Gunawan. Salah seorang pengusaha angkutan truk di Banten. Menurut dia, langkah antisipasi kalangan pelaku usaha yang menahan diri untuk ekspansi merupakan cara terbaik dalam menghadapi ganjang-ganjing informasi tentang prediksi ekonomi.

“Karena kan ketidakpastian informasi itu berseliweran. Ada yang bilang dampak perang aging sudah mendekatkan dunia ke resesi, ada yang bilang Indonesia bakal tidak terseret resesi. Kan bingung kita. Makanya lebih baik menunggu saja. Apalagi, fakatnya kondisi kita juga lagi lesu kan? Kalau kita nekad, perhitungan mekeset, ya bisa kelar kita,,” kata dia saat dihubungi Motoris, Jumat (1/11/2019).

Ilustrasi, truk angkutan logistikTata Prima 3123.T – dok.Motoris

Sikap kalangan pelaku usaha terkait kondisi ekonomi ini juga diakui Direktur Penjualan dan Promosi PT Hino Motor Sales Indobesia (HMSI) Santiko Wardoyo. “Karena faktor politik dan dampak perang dagang itu sangat berpengaruh,” ucap dia dalam pesan elektronik kepada Motoris, Kamis (31/10/2019) malam.

Bahkan, Santiko yang tengah berada di Jepang itu menambahkan, Hino Indonesia sudah melihat dampak kondisi tersebut yang masih berlanjut, sejak beberapa bulan lalu. “Karena itu, kami juga merevisi target. Kalau di awal tahun kan kami targetkan penjualan 40.000 unit di tahun ini, tetapi melihat keadaan kami revisi menjadi 37.000 unit saja. Walaupun, target market share Hino tetap 60%. Karena sampai kemarin, kita masih achieve di angka 62%,” tandas Santiko.

Ilustrasi truk Hino di diler- dok.Motoris

Perhatikan kredit leasing
Selain karena kondisi ekonomi yang tengah dihadapi terkait dinamika kondisi global dan lokal, sikap hati-hati pengusaha juga terkait dengan selektifnya bank dan lembaga pembiayaan (leasing) dalam menggelontorkan pendanaan untuk pembelian kredit truk.

“Tentunya, kita juga menyadari itu. Dan kita juga sangat hati-hati, jangan sampai kita kredit macet, aset (truk) ditarik. Sebab, sekitar 90% pembelian truk di Indonesia, itu dilakukan secara kredit,” papar Kyatmaja Lookman.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto juga bisa memaklumi jika penjualan truk di Tanah Air susut. Dalam kondisi ekonomi global yang dibayang-bayangi risiko tinggi seperti saat ini, tentu menjadi pertimbangan tersendiri bagi pelaku bisnis.

Ilustrasi, truk ringan Hino – dok.Motoris

“Apalagi, sebagian besar pembelian kendaraan komersial (termasuk truk) dilakukan secara kredit. Saya tidak hafal persis jumlahnya, tetapi sebagian besar. Dan kalau leasing hati-hati, itu juga bisa dimengerti,” ucap dia.

Selektifnya leasing diakui Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno. Saat dihubungi belum lama ini, dia mengatakan leasing bukan memperketat penyaluran kredit, tetapi lebih selektif.

“Ini merupakan sikap prudent, pada saat kondisi global berdapak ke nasional, kita juga harus mencermati. Karena calon customer dari sektor bisnis sagat terkait erat dengan kondisi ekonomi lokal maupun global,” kata dia. (Fer/Fan/Ara)

Ilusttasi, truk Axor Mercedes-Benz – dok.DVCI

 

CATEGORIES
TAGS
Share This