Penjualan di Pasar Hatchback, Yaris Masih Tertinggal Jazz

Penjualan di Pasar Hatchback, Yaris Masih Tertinggal Jazz
Ilustrasi,Toyota New Yaris, hatchback Toyota yang terus diperbarui tampilannya - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Sepanjang sembilan bulan pertama lalu penjualan (wholesales) mobil hatchback di Indonesia tercatat sebanyak 30.953 unit, atau mengkerut 24,18% dibanding rentang waktu yang sama tahun lalu. Hingga akhir periode itu, hatchback Honda Jazz tercatat sebagai penguasa pasar dan menggungguli Toyota Yaris dan Suzuki Baleno.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukan, sepanjang Januari – September itu, penjualan dari pabruk ke diler (wholesales) Toyota Yaris tercatat sebanyak 6.220 unit. Jumlah ini susut 19,26% dibanding sembilan bulan pertama tahun lalu yang masih sebanyak 7.704 unit.

Sementara, Honda Jazz telah membukukan wholesales sebanyak 6.008 unit di semester pertama atau di Januari hingga Juni. Bahkan, bulan-bulan selanjutnya, yakni dari Juli hingga September penjualan dari diler ke konsumen atau ritel hatchback ini tercatat sebanyak 3.075 unit.

Pada semester pertama, selisih penjualan (wholesales) Toyota Yaris dengan Honda Jazz lumayan jauh. Pada paruh pertama itu, wholesales yang dibukukannya hanya 3.745 unit. Namun, Yaris masih menggenggam pangsa pasar sekitar 20%, dengan penjualan yang di atas Suzuki Baleno dan Daihatsu Sirion.

Ilustrasi, Honda Jazz – dok.Hargamobil.com

Tipe yang paling laris dari masing-masing merek itu juga sama yakni tipe tertinggi. Mereka adalah, Honda Jazz RS CVT yang berbanderol Rp 279,8 juta dan Toyota Yaris TRD Sportivo CVT yang berharga Rp 278,85 juta (besaran harga yang ada saat itu).

Padahal, pada tahun 2018, selisih wholesales di antara mereka tak begitu jauh. Waktu itu, Honda Jazz terjual 5.930 unit dan Yaris mencatatkan penjualan sebanyak 5.634 unit.

Budaya masyarakat
Soal menyusutnya penjualan di segmen pasat hatchback, Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto menyebut karena faktor budaya masyarakat. Menurut dia, orang Indonesia lebih menyukai varian MPV karena biasa bepergian dan berkumpul bersama keluarga, teman, atau sanak saudara.

“Meskipun tidak setiap hari pergi bersama keluarga atau kerabat, tetapi mereka tetap lebih memilih MPV. Walaupun pada hari-hari biasa MPV itu hanya ditumpangi satu atau dua orang saja. Ini karena faktor budaya, dan berpengaruh dalam pilihan kendaraan,” ujar dia saat dihubungi di Jakarta, Selasa (5/11/2019).

Ilustrasi, MPV LCGC Toyota Calya – dok.Motoris

Faktor lainnya, maraknya mobil murah ramah lingkungan (LCGC) versi MPV ( Toyota Calya dan Daihatsu Sigra). Kehadiran mereka, telah menjadi pilihan baru dan semakin memberi kesempatan besar bagi calon pembeli pemula mobil di Tanah Air untuk mendapatkan MPV dan tak melirik hatchback.

“Apalagi di segmen hatchback, pilihan di kategori LCGC juga banyak. Karena di masyarakat kita, first buyer (pembeli pemula) itu jumlahnya paling banyak, 60-70%-lah. Ditambah lagi faktor daya beli, dengan pendapatan rata-rata yang masih US$ 3.400 per tahun, mobil di bawah Rp 200 jutaan paling banyak dipilih. Apalagi, ada MPV yang bisa dipilih,” ungkap Jongkie. (Fan/Ara)

Ilustrasi, MPV LCGC Daihatsu Sigra – dok.Motoris

 

CATEGORIES
TAGS
Share This