Penyusutan Pasar Mobil di Indonesia Paling Jeblok di ASEAN

Penyusutan Pasar Mobil di Indonesia Paling Jeblok di ASEAN
Ilustrasi, suasana di pameran mobil GIIAS 2019 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Penjualan kendaraan bermotor roda empat (terutama mobil) di wilayah regional Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara atau ASEAN, sepanjang Januari – November 2019 lalu tercatat sebanyak 3.147.822 unit atau ambles 2,7% dibanding tahun 2018 yang sebanyak 3.234.560 unit. Beberapa negara anggota organisasi ini membukukan penurunan penjualan, namun penyusutan penjualan Indonesia terparah alias paling jeblok.

Data yang dihimpun Federasi Industri Otomotif ASEAN dan dilansir laman Asean-autofed, belum lama ini menunjukan, di rentang waktu sebelas bulan itu penjualan yang dibukukan Indonesia sebanyak 940.362 unit. Jumlah ini ambrol 11,6% dibanding kurun waktu yang sama tahun 2018.

Meski ada beberapa negara yang juga mencatatkan penurunan namun tidak separah Indonesia.Penjualan Thailand – yang merupakan pasar terbesar di kawasan dan juga rival Indonesia dalam penjualan – misalnya, ternyata juga membukukan penjualan negatif alias melorot.

Tetapi prosentasenya sangat kecil, yakni hanya 1,1%. Sepanjang tahun 2018, penjualan mobil di negara ini masih sebanyak 928. 158 unit, tetapi di rentang waktu sebelas bulan pertama tahun 2019 lalu, menjadi 918.267 unit.

Malaysia juga mencatatkan penyusutan penjualan. Tetapi, juga sangat kecil prosentasenya. Tak lebih dari 0,2%, yakni dari 550. 410 unit menjadi 549.445 unit di tahun 2019.

Ilustrasi, Honda BR-V versi facelift atau versi baru diluncurkan di IIMS 2019 – dok.Motoris

Begitu pun dengan Singapura, penjualannya juga menciut. Namun, prosentasenya kecil yakni 3,2%. Jika di tahun 2018 masih sebanyak 86.997 unit, di tahun 2019 hanya sebanyak 84.171 unit.

Sedangkan Filipina membukukan kenaikan sebesar 3,3% yakni dari 325.465 unit menjadi 336.226 unit. Begitu pula dengan Vienam yang naik 13,6% yakni dari 254.449 unit menjadi 289.128 unit.

Penjualan di Brunei Darussalam juga naik, yakni dari 10.271 unit menjadi 10.949 unit. Kenaikan ini sebesar 6,6%.
Myanmar juga membukukan kenaikan penjualan. Bahkan, kenaikannya yang terbesar di kawasan ASEAN, yakni 25,4% yaitu dari 15.365 unit menjadi 19.274 unit.

Ilustrasi, Daihatsu Xenia versi terbaru di IIMS 2019 – dok.Motoris

Daya beli
Soal penurunan di Indonesia yang terbesar, Ketua I Gabgungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto menyebut, karena kondisi di Indonesia berbeda dengan negara-negara tersebut, baik kondisi politik maupun ekonomi.

“Indonesia, kan pada April tahun kemarin menggelar pemilihan umum. Nah, faktor politik ini juga berpengaruh. Kemudian, dari sisi ekonomi, sebagian besar ekspor kita berupa barang komoditas seperti batubara, dan lainnya maupun komoditas perkebunan seperti minyak kelapa sawit dan sebagainya yang harganya pas kurang bagus di pasar dunia,” ujar dia saat dihubungi, akhir pekan lalu.

Ilustrasi, kegiatan produksi di areal tambang batubara. Komoditas ini merupakan salah satu produk andalan ekspor Indonesia – dok.Metrotvnews.com

Sementara, Peneliti Senior Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal menilai penurunan penjualan mobil di Indonesia lebih dikarenakan daya beli yang menurun. “Faktor daya beli. Kita bisa lihat, tren penjualan di level paling bawah saja, yakni mobil murah ramah lingkungan (LCGC) kan juga turun itu,” ujar dia saat dihubungi akhir pekan lalu. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This