Soal Produksi Mobil, RI Masih Ditenggelamkan Thailand

Soal Produksi Mobil, RI Masih Ditenggelamkan Thailand
Ilustrasi, produksi mobil di Thailand - dok.Nikkei Asia Review

Jakarta, Motoris – Thailand selama ini disebut-sebut sebagai pesaing berat Indonesia di kawasan regional Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dalam hal penjualan kendaraan bermotor roda empat (terutama mobil) dan jumlah produksinya (termasuk untuk ekspor). Namun, nyatanya, negara berjuluk Negeri Gajah Putih itu jauh lebih unggul – baik dalam penjualan maupun produksi – ketimbang Republik Indonesia (RI).

Data yang dihimpun Federasi Industri Otomotif ASEAN dan dilansir laman Asean-autofed, belum lama ini menunjukan sepanjang Januari hingga November 2019 lalu, jumlah produksi kendaraan bermotor roda empat di Thailand mencapai 1. 879.502 unit. Jumlah ini ambles 5,9% dibanding periode sama tahun 2018 yang masih sebanyak 1.998.339 unit.

Sementara, pada Januari hingga November 2019, jumlah kendaraan bermotor roda empat yang diproduksi oleh Indonesia, sebanyak 1.188.078 unit. Jumlah ini susut 4,6% dibanding rentang waktu sama pada tahun 2018, yang mencapai 1.245.253 unit.

Artinya, dari segi jumlah produksi Indonesia masih “ditenggelamkan” negeri tetangga itu. Padahal, jumlah penduduk Indonesia tiga kali lipat lebuh atau bahkan hampir empat kali lipat penduduk Thailand.

Produksi mobil di sebuah pabrik milik salah satu merek di Thailand – dok.Nikkei Asian Review

Data kepedudukan dunia yang dihimpun Unesco, menyebutkan hingga tahun 2017 lalu, julah penduduk Thailand sekitar 67,6 juta jiwa. Sedangkan pada saat yang sama, jumlah penduduk Indonesia mencapai 270, 4 juta jiwa lebih.

Sementara, menurut data Federasi Industri Otomotif ASEAN, rasio kepemilikan mobil di Indonesia masih di bawah Thailand. Di Indonesia dari 1.000 penduduk, yang memiliki mobil baru 87 orang, dan di Thailand dari jumlah penduduk yang sama, pemilik mobil mencapai 220 orang.

Permintaan lokal dan ekspor
Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto tak menampik fakta yang menunjukan Indonesia masih tertinggal dalam hal penjualan di pasar lokal maupun ekspor dibanding Thailand.

“Ya, produksi (mobil) tentunya juga mengikuti demand kan (permintaan, baik untuk pasar lokal maupun ekspor). Industri bikin mobil dalam jumlah tertentu karena mengikuti proyeksi pasar, baik di lokal maupun ekspor,” tutur dia saat dihubungi akhir pekan lalu.

Fakta berbicara. Dalam hal penjualan mobil di tahun 2019 lalu, Indonesia sejatinya sudah melampaui kinerja penjualan di Thailand. Data dari sumber yang sama menunjukan, di kurun waktu Januari – November penjualan mobil di Indonesia sebanyak 940.362 unit, atau menciut 11,6% dibanding periode sama tahun 2018 yang sebanyak 1.063.445 unit.

Ilustrasi, suasana di pameran mobil GIIAS 2019 – dok.Motoris

Pada rentang waktu yang sama, di tahun 2019, Thailand membukukan penjualan 918.267 unit . Jumlah ini susut 1,1% dibanding kurun waktu Januari – November 2018 yang sebanyak 928.158 unit.

Hanya, dari sisi ekspor Indonesia masih jauh tertinggal dari negara itu. Menurut Jongke rata-rata ekspor Thailand (yang tercatat oleh federasi industri otomotif ASEAN), rata-rata ekspor Thailand mencapai 1,1 – 1,2 juta unit saban tahun. Sedangkan Indonesia baru berada di kisaran 200 – 300.000-an unit per tahun.

“Soal ekspor ini juga tergantung dari prinsipal masing-masing merek (yang ada di Indonesia). Karena mereka yang memiliki kewenangan, karena ini barangkali menyangkut strategi penjualan mereka juga. Tetapi, artinya, ekspor ini juga tergantung prinsipal,” ungkap Jongkie.

Peneliti Senior Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal menyebut, produksi mobil di Indonesia masih setengah dari total kapasitas terpasang yang dimiliki secara nasional. Sedangkan serapan di dalam negeri oleh konsumen juga sangat tergantung pendapatan per kapita masyarakat.

Ilustrasi Ekspor Toyota Kijang Innova – dok.Istimewa

“Dengan pendapatan yang meningkat, maka keburuhan mobil juga akan meningkat. Karena mobil ini masih tergolong kebutuhan tersier. Secara teori, (seperti diungkapkan oleh Abraham Maslow dalam teori hirarki kebutuhan) pemenuhan tingkat kebutuhan seseorang terjadi seiring dengan tingkat kemampuan ekonomi atau pendapatan,” papar dia saat dihubungi akhir pekan lalu.

Saat ini tingkat pendapatan masyarakat rata-rata masih berkisar US$ 3.000 – 4.000 per tahun. Sedangkan, tingkat serapan kendaraan bermotor roda empat atau lebih masih sekitar 900.000  – 1 juta unit. “Tentu, ini akan berpengaruh ke jumlah produksi. Kalau permintaan enggak naik, produksi akan stagnan. Sedangkan, laju ekspor juga masih sebesar 300.000-an. Padaha, kapasitas (produksi) terpasang sampai 2 juta unit,” papar dia.

Ilustrasi, sedan Honda yang dibuat di Thailand siap diekspor – dok.The Bangkok Post

Jongkie Sugiarto mengamini pernyataan Faisal. Dia menyebut kapasitas produksi terpasang Industri otomotif Indonesia saat ini sebanyak 2.000.000 unit per tahun.

Dari kapasitas terpasang tersebut yang terpakai baru 50%. “Jadi masih ada idle (kapasitas menganggur karena gelum terpakai) yang besar. Ini sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pasokan ke pasar ekspor,” ucap dia. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This