Suzuki XL7 Vs Xpander Cross, Harga Murah Saja Tak Cukup

Suzuki XL7 Vs Xpander Cross, Harga Murah Saja Tak Cukup
Suzuki atau Maruti XL6 saat diluncurkan di India disebut-sebut bakal meluncur di Indonesia dengan nama XL7 - dok.Cardekho

Jakarta, Motoris – Kabar PT Suzuki Indomobil Sales (PT SIS) yang bakal meluncurkan varian crossover di jajaran Suziki Ertiga – dengan nama Suzuki XL7 (karena tujuh kursi) – kian menguat setelah diimbuhi informasi bocoran harga yang dipatok. Singkat cerita, harganya lebih murah jika dibanding pesaingnya, Xpander Cross yang melenggang ke pasar medio November 2019 lalu.

Seorang staf penjualan di diler Suzuki di wilayah Jakarta Selatan kepada Motoris, Selasa (21/1/2020) mengatakan, XL7 bakal dibanderol Rp 230 – 267 jutaan. “Ada enam varian,” kata dia sembari memastikan bahwa daftar harga itu didapat dari hasil pertemuan nasional diler di Jakarta sebelumnya.

Rinciannya, tipe XL7 Zeta MT dibanderol Rp 230 juta, XL7 Zeta AT dihargai Rp 240,5 juta, XL7 Beta MT Rp 246,5 juta, dan XL7 Beta AT Rp 257 juta. Sedangkan tipe XL7 Alpha MT harganya dipatok RP 257 juta, dan XL7 Alpha AT Rp 267 juta.

Jika data ini benar tidak berubah, artinya banderol XL6 lebih murah dibanding Xpander Cross. Varian crossover Mitsubishi yang masih menyandang status sebagai bagian dari Low MPV Xpander tipe tertinggi itu dibanderol Rp 270 – 289 jutaan.

Tampilan belakang Suzuki XL6 – dok.Istimewa

Lantas, ini menjadi sebuah pertanda bahwa lower price strategy bakal menjadi andalan Suzuki Indonesia untuk berlaga? Entahlah. Tetapi logika awam, dengan mudah menarik benang merah bahwa barang Suzuki memang lebih murah.

Hanya, bukan berarti harga murah menjadi segalanya dan penentu menang kalahnya persaingan. Pasalnya, seperti diungkapkan pengamat Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (ITB) Yos Sunitiyoso, segmen yang dihuni dua model itu merupakan segmen transisi.

“Karena, keduanya masuk dalam segmen Low MPV, tetapi diposisikan sebagai tipe tertinggi yang merupakan segmen transisi dari Low MPV ke crossover. Umumnya, konsumen di transisional ini juga lebih (kuat) dari sisi daya beli, karena sudah mengarah ke lifestyle,” ungkap dia saat dihubungi, Kamis (23/1/2020).

Penilaian Yos persis seperti diungkapkan oleh Director of Sales Marketing Division PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Irwan Kuncoro, saat ditemui di sela peluncuran Xpander Cross, di Jakarta, 12 November 2019 lalu. “Xpander Cross ini diposisikan di antara Low MPV dengan Low SUV. Ini merupakan jawaban dari customer, karena masukan dari mereka banyak yang menginginkan tampilan yang lebih gagah. Dan kalau kita lihat, sekitar 30% lebih, pemilik Xpander baru mendandani mobilnya dengan alasan biar bertambah gagah,” ungkap dia.

Suzuki XL6 yang diluncurkan di India, 21 Agustus 2019 – dok.Istimewa

Ceruk pasar kecil
Seperti halnya Yos, Kepala Riset Eternity Marketing Research Specialist, Eko Wahyu Utomo juga menyebut, segmen crossover yang dibidik oleh Xpander Cross dan XL7 merupakan ceruk pasar yang kecil.

“Karena ini paduan atau pertemuan antara kelompok bagian teratas di segmen Low MPV dengan kelompok bagian bawah pembeli potensial di segmen Low SUV. Artinya, memang daya beli lebih kuat dari sebagian besar kelompok yang ada di Low MPV, tetapi belum kuat sepenuhnya untuk menjangkau SUV,” ungkap dia saat dihubungi, Jumat (24/1/2020).

Faktor tampilan dalam rangka menungjang gaya hidup atau prestise di kelompok ini mulai lebih dominan. Sehingga, dalam hal harga mereka juga tidak sesenstif mayoritas di kelompok konsumen Low MPV. “Oleh karena itu, imingi-iming harga murah saja, belum pasti akan tokcer. Dan karena ceruk pasar ini terbilang kecil, maka persaingan pun akan lebih ketat. Apalagi calon pembeli juga selektif,” ungkap Eko.

Xpander Cross diposisikan sebagai varian tertinggi di keluarga Xpander – dok.Motoris

Dia mencontohkan beberapa model yang juga berlabel crossover, yakni Honda BR-V yang memadukan antara Low MPV Honda Mobilio dengan SUV. Atau Datsun Cross yang memadukan antara Datsun GO+ Panca dengan SUV. “Keduanya ternyata kurang berhasil,” ujar dia.

Sementara, meski sudah mencapai target namun, penjualan Mitsubishi Xpander Cross tidaklah “menggelegar”. Data yang dikmpilasi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebut, sejak diluncurkan hingga Desember 2019 lalu penjualan Xpander Cross sebanyak 2.782 unit.

“Dan kalau kita bicara persaingan bagaimana Xpander dengan Ertiga, ternyata Ertiga juga tertinggal jauh. Padahal, Xpander sempat disebut sebagai LoW MPV termahal kan?. Tetapi kenyataannya penjualan jauh di atas Ertiga. Pengakuan sejumlah konsumen saat ditanya mengapa pilih Xpander salah satu yang cukup menonjol karena tampilannya yang gagah, sudah mirip-mirip SUV. Jadi, jika  ada lawan Xpander Cross, maka perlu strategi khusus,” ungkap Eko.

Tampilan belakang Xpander Cross warna putih- dok.Motoris

Data Gaikindo menunjukan, Sepanjang tahun 2019 lalu, penjualan Mitsubishi Xpander Cross sebanyak 62.99 unit. Sedangkan Suzuki Ertiga hanya 24.549 unit, artinya tertinggal jauh dari Xpander. Padahal, di tahun itu penjualan Low MPV Mitsubishi itu sudah ambles 16,53% dibanding tahun 2018 yang sebanyak 75.075 unit. (Kpr/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This