Ini Merek di RI yang Masih Doyan Impor

Ini Merek di RI yang Masih Doyan Impor
Toyota All New C-HR, salah mobil yang diimpor oleh PT Toypta Astra Motor - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Kendati sejak tahun 2019 lalu pemerintah meminta pelaku usaha di Indonesia untuk mengendalikan impor guna menekan angka defisit neraca perdagangan, namun nyatanya di sektor otomotif – terutama kendaraan roda empat atau lebih – impor masih mengalir deras. Tahun 2019 lalu misalnya, kendati ada penurunan namun jumlah kendaraan yang diimpor masih di atas 70.000 unit lebih.

Data yang dikompilasi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukan sepanjang tahun itu, volume impor kendaraan tercatat sebanyak 73.876 unit. Jumlah ini susut 12,2% dibanding impor sepanjang tahun 2018 yang sebanyak 84.150 unit.

Soal masih maraknya impor ini, Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menyebut tak lepas dari permintaan konsumen. Karena ada permintaan itulah, agen pemegang merek – yang merupakan lembaga bisnis – tentu akan melayani konsumen.

Terlebih, model kendaraan yang diimpor tersebut memang tidak ada atau belum diproduksi di Tanah Air, dengan berbagai alasan. Salah satunya, secara skala ekonomi volume permintaan dan penyerapan prduk tersebut belum memenuhi.

Cirycar Daihatsu Sirion adalah mobil yang diimpor oleh PT Astra Daihatsu Motor- dok.ADM

“Karena untuk mempoduksi sebuah model itu kan dibutuhkan investasi. Nah, kalau bicara investasi tentu dilihat berapa lama ROI (Return on Invesment), balik investasinya kapan? Ini tergantung penjualan produknya kan. Apalagi, masing-masing pinsipal (pabrikan induk otomotif) yang bersangkutan memiliki strategi sendiri-sendiri, mana-mana atau produk apa yang dibuat di negara A, B, dan sebagainya,” papar dia saat dihubungi, di Jakarta, Selasa (28/1/2020).

Data berbicara, di sepanjang tahun 2019, Toyota menjadi merek pengimpor terbanyak. Jumlahnya mencapai 23.547 unit. Kemudian disusul Mitsubishi 17.996 unit, Suzuki: 13.453 unit, Mazda: 4.884 unit, dan Honda yang mengimpor sebanyak 3.066 unit.

Setelah itu, ada Daihatsu yakni sebanyak 1.800 unit. Kemudian, Lexus yang mengimpor sebanyak 1.419 unit, Mercedes-Benz (truk dan bus) sebanyak 1.360 unit, Chevrolet1.245 unit, serta Isuzu yang mendatangkan kendaraan sebanyak 996 unit.

Ekspor dan impor Suzuki
Sementara itu impor kendaraan Suzuki yang dilakukan oleh PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) sepanjang tahun 2019 sebanyak 13.453 unit. Jumlah impor Suzuki ini tercatat menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Model yang diimpor antara lain Suzuki Baleno, Ignis, serta Suzuki S-Cross SX4.

Akhir tahun 2019 lalu, Direktur Marketing Suzuki Indomobil Sales, Donny Saputra sempat mengatakan, penjualan Ignis di beberapa bulan selama tahun itu menyusut.

Hal itu, kata dia, dikarenakan terjadinya perubahan strategi dengan fokus memasarkan produk yang dirakit di Indonesia. Penurunan penjualan Suzuki Ignis cukup tinggi, yakni sekitar 50%. Jika sebelumnya penjualan per bulan sekitar 1.500, dan beberapa bulan terakhir di tahun 2019 menjadi 700-800 unit per bulan.

Sementara, ekspor yang dilakukan Suzuki juga terus meningkat. Head of Export Import SIS, Hadi Surjono Halim, mengatakan peningkatan ekspor ke ke sejumlah negara itu baik dalam wujud utuh (CBU) maupun secara terurai (CKD).

Suzuki Ignis, salah satu mobil yang masih diimpor secara utuh oleh Suzuki Indonesia – dok.Motoris

“Kami optimistis ekspor Suzuki ke depannya masih akan meningkat. Hal ini seiring dengan banyaknya permintaan All New Ertiga dari negara-negara tujuan ekspor seperti Meksiko, Filipina, Vietnam, dan Thailand,” ungkap Hadi belum lama ini.

Sepanjang Januari-November 2019, kata dia, ekspor secara utuh mencapai 62.071 unit. Jumlah ini naik 5,57% dibanding ekspor di periode sama tahun 2018 yang sebanyak 58.809 unit. (Kpr/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This