Sudah Dipoles, Penjualan Nissan X-Trail Tak Kunjung Ngetril

Sudah Dipoles, Penjualan Nissan X-Trail Tak Kunjung Ngetril
Nissan X-Trail facelift saat diluncurkan di GIIAS 2019 -dok.Motoris

Jakarta, Motoris – PT Nissan Motor Indonesia telah menyodorkan versi facelift SUV Nissan X-Trail pada Juli tahun lalu di hajatan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019. Namun, kehadiran versi yang sudah dipoles itu ternyata tak mampu bicara banyak di pasar nasional.

Penjualan SUV ini tetap tak menanjak alias ngetril dibanding tahun-tahun sebelumnya. Data yang dikompilasi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukan, sepanjang tahun 2019 kemarin, SUV ini terjual sebanyak 580 unit. Dia tertinggal jauh oleh Honda CR-V yang saat itu laku 10.395 unit.

Begitu pula dengan pendatang baru Wuling Almaz yang terjual sebanyak 9.743 unit. Bahkan dengan Mazda CX-5 yang terlego sebanyak 1.759 unit.

Tetapi tak cuma di tahun 2019 saja, Nissan X-Trail tertinggal para pesaing. Tahun-tahun sebelumnya juga seperti itu. Lagi-lagi, data Gaikindo menunjukan sepanjang tahun 2018, penjualan SUV andalan Nissan Motor di Indonesia itu hanya 928 unit. Terpaut jauh di bawah angka penjualan Honda CR-V yang sebanyak 14.230 unit.

Dia juga tertinggal oleh Mazda CX-5 yang laku 1.796 unit. Sedangkan, pada saat itu, Wuling Almaz belum hadir di pasar karena baru diluncurkan pada Februari 2019.

Ilustrasi, Nissan X-Trail Facelift yang juga dipasarkan di Indonesia- dok.Motoris

Sementara sepanjang tahun 2017, SUV medium Nissan itu terjual 2.626 unit. Juga masih jauh di bawah penjualan Honda CR-V yang laku sebanyak 15.905 unit.

Soal lambatnya penjualan SUV Nissan itu, pengamat dari Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (ITB) Yos Sunityoso, menyebut terkait persepsi konsumen. Sebenarnya, kata dia, jika dilihat dari teknologi, fitur, dan desain tidak kalah dengan SUV sekelas dari merek lain.

Begitu pun dengan harga yang juga tidak terpaut jauh. Artinya, Nissan X-Trail masih cukup bersaing.

“Tetapi, kalau bicara soal selera tentu akan sulit diukur. Karena ini menyangkut taste, passion, dan emosional seseorang yang dipengaruhi oleh berbagai variabel. Tentu Nissan sendiri yang harus menggalinya dan melakukan perbaikan secepatnya,” kata dia saat dihubungi Kamis (30/1/2020).

Pernyataan serupa diungkapka Kepala Riset Eternity Marketing Research Specialist, Eko Wahyu Utomo yang juga dihubungi Kamis (30/1/2020). Dia menyebut, hasil jajak pendapat yang dilakukannya secara terbatas, diketahui konsumen yang ditanya mengaku kurang sreg dengan gaya desain SUV itu.

Nissan X-Trail versi lama – dok.Waverley Nissan

“Mereka menyebut, gaya desain X-Trail lebih bagus pada saat masih bergaya boxy atau kotak. Lebih gagah. Selain itu, kabar yang menyebut adanya penurunan kinerja Nissan secara global dan di Indonesia juga memberi nilai minus pada persepsi konsumen. Tapi, sekali lagi persepsi itu sulit untuk ditebak, karen menyagkut selera. Subyektif personal,” ujar dia. (Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This