Pelopor Penggerak Pasar Motor Listrik di RI, Bukan Honda Cs

Pelopor Penggerak Pasar Motor Listrik di RI, Bukan Honda Cs
Skuter listrik Gesits saat dipamerkan di hajatan IES 2019 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Meski pemerintah Indonesia terus berupaya mendorong pemasyarakatan sepeda motor listrik di Tanah Air, namun pabrikan merek kondang – terutama dari Jepang – yang saat ini terus mencengkeram pasar kendaraan bermotor roda dua Indonesia, masih belum tergerak untuk memproduksi. Justeru merek-merek yang tak sesohor mereka seperti Gesits, Viar, hingga Selis yang memulainya.

Fakta ini setidaknya diakui Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kemenperin, Putu Juli Ardika saat ditemui usai konferensi pers kesiapan penyelenggaraan Indonesia Modification Expo (IMX) 2020 di Jakarta, Rabu (5/2/2020). “Sekarang ini sudah banyak merek atau pabrikan yang memproduksi dan memasarkan sepeda motor listrik di kita. Seperti merek lokal Gesits (yang dibuat oleh PT Gesits Technologies Indo), Viar (Viar Indonesia), kemudian Selis (PT Juara Bike), dan lain-lain,” ungkap dia.

Putu juga tak menampik pernyataan yang menyebut merek-merek besar asal Jepang seperti Honda, Yamaha, Suzuki, dan lainnya masih sebatas pengenalan. Itu pun baru Honda Motor melalui PT Astra Honda Motor (AHM) yang kini baru sebatas menyewakan skutik Honda PCX listrik – yang diklaim AHM – ke sejumlah perusahaan.

“Ya, karena mereka mungkin memperhitungkan skala ekonominya. Artinya, jumlah penjualan di pasar memang sudah layak (untuk memproduksi dan menjualnya),” kata dia.

Ilustrasi, Selis E-Max – dok.Istimewa

Beberapa waktu sebelumnya, saat ditemui di sela peresmian fasilitas fast charging mobil terelektrifikasi milik Mitsubishi Motors Indonesia di Plasa Senayan, Jakarta, 26 November 2019 lalu, Putu sempat mengatakan, dari hitungan ekonomi, sepeda motor listrik layak diproduksi jika populasi di pasar sudah mencapai 400.000-an unit. “Itu hitung-hitungan yang saya dengar dari industri. Sehingga, sekarang masih banyak pabrikan yang enggan untuk memproduksi maupun menjualnya (di Indonesia),” ucap dia.

Hanya, Putu tak menjawab dengan tegas mengapa jika persoalan skala ekonomi dengan indikator volume di pasar, mengapa pabrikan-pabrikan seperti Honda justeru tidak “diminta” dengan tegas untuk menjual. “Ya, kita tidak bisa seperti itu. Karena ini bisnis, sehingga mereka bisa memiliki strategi sendiri,” kata dia.

Pada 6 Juni 2017, Viar Indonesia meluncurkan skuter listrik Q1- dok.Istimewa

Honda beralasan
Sementara itu, Marketing Director PT AHM Thomas Wijaya yang ditemui di sela acara presentasi awal musim tim Repsol Honda di Jakarta, Selasa (4/2/2020) lalu membeberkan “Ada tiga alasan. Pertama, dari aspek safety untuk konsumen, penyediaan infrastruktur, kemudian (pengolahan) limbah baterai yang masih terus dikembangkan. Ini harus dipastikan. Karena kami melihat motor listrik ini bukan sekadar soal memproduksinya saja,” tutur dia.

Thomas mengakui kebijakan penerbitan Perpres No. 55/2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai, serta insentif pembebasan Bea Balik Nama seperti yang diberikan pemerintah DKI Jakarta dengan dasar Pergub No. 3/2020, memang positif. Tetapi, lanjutnya, itu saja belumlah cukup untuk menjadi alasan memproduksi dan menjual secara umum sepeda motor listrik.

Honda PCX Listrik dijajakan dengan sistem sewa  – dok.Motoris

Pemilik PT Juara Bike – yang memproduksi sepeda dan sepeda motor listrik merek Selis – Tjoa King Hoa, saat ditemui di Jakarta, Selasa (26/11/2019) lalu mengatakan, pada 8 tahun lalu saat mendirikan perusahaan belum berpikir memproduksi sepeda motor listrik. Saat itu hanya berkonsentrasi membuat sepeda yang ditenagai arus setrum saja.

Keseriusan ke segmen pasar motor listrik baru terjadi pada tahun 2015. “Kita akan memproduksi secara massal sepeda motor listrik tahun depan (tahun 2020). Modelnya battery swap dengan baterai lithium. Sekarang kita sudah punya satu model skuter E-Max,” ucap dia. (Kur/Fan/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This