Walah, 43% Helm Berlogo DOT Tak Sesuai Standar Keamanan

Walah, 43% Helm Berlogo DOT Tak Sesuai Standar Keamanan
Ilustrasi helm DOT - dok.WebBikeWorld.com

Jakarta, Motoris – Helm impor asal Amerika atau Eropa dengan label standar Department of Transportation (DOT) atau Snell yang mengacu pada standari Snell Memorial Foundation (SMF)m banyak digemari masyarakat karena selain dinilai jauh lebih aman, gaya desainnya pun lebih keren. Namun, anggapan seperti itu ternyata tak sepenuhnya benar.

Seperti dilaporkan laman WebBikeWorld, Ultimatemotircycling, dan Traptown, belum lama ini, adalah hasil pengujian yang dilakukan oleh Act Labs – sebuah laboratorium pengujian produk yang berkantor di California, Amerika Serikat – yang membuktikan hal itu. Dengan mengacu pada patokan standar kualitas keamanan dan kenyamanan yang ditetapkan oleh Nation Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), laboratorium itu melakukan pengujian terhadap sampel 167 helm yang diambil secara acak di berbagai tempat.

“Helm-helm tersebut dibeli secara acak di toko-toko perlengkapan dan apparel kendaraan bermotor untuk mengetahui keaslian label DOT dan tingkat keamanan yang dijanjikan apakah sesuai dengan standar,” bunti pernyataan Act Labs.

Hasilnya, dari jumlah helm yang diuji 105 unit diantaranya atau 62,8% ternyata berlabel DOT tak semestinya alias palsu. Sedangkan 72 unit lainnya atau 43,1% gagal memenuhi standar yang ditetapkan.

Artinya, meski helm-helm tersebut telah bertuliskan standar DOT, namun faktnya bisa jadi tak asli. Begitu pun dengan tingkat keamanannyam ternyata tidak sesuai dengan batasan standar keamanan yang ditetapkan oleh pihak berwenang di Negeri Abang Sam itu.

Ilustrasi varian produk helm yang diklaim telah berstandar Department of Transportation (DOT) – dok.Ultimate Motorcycling

Para peneliti di lembaga itu mengatakan, ada kemungkinan produsen salah menafsirkan standar yang berlaku. Alhasil, perangkat pengaman yang mereka tambahkan di helm produk mereka justeru membuat helm buatannya tidak aman karena spesifikasinya berbeda dari ketentuan.

Di Indonesia
Lantas bagaimana dengan helm-helm impor yang juga berlabelkan standar DOT dan lainnya yang banyak ditemui di Indonesia? Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, meminta lembaga-lembaga pemerintah yang terkait dengan standar produk maupun perdagangan proaktif melakukan pengujian juga untuk memastikan bahwa produk impor juga aman dan sesuai standar.

“Karena ini bukan hanya sekadar hak konsumen untuk mendapatkan produk terbaik sesuai dengan harga yang mereka bayarkan, tetapi juga menyangkut keamanan. Dengan label standar yang dituliskan, orang percaya bahwa tingkat keamanannya juga sudah tinggi karena berstandar Amerika atau Eropa yang dikenal ketat. Karena itu, semestinya Indonesia juga melakukan pengujian juga,” papar dia saat dihubungi di Jakarta, Selasa (11/2/2020).

Penggiat Masyarakat Peduli Keselamatan Transportasi Indonesia, Abdil Furqan, bahkan meminta tak hanya helm impor, helm buatan lokal pun juga wajib dipastikan standar kualitasnya. Menurut dia, selama ini Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu-lintas Angkutan Jalan juga mewajibkan pengendara sepeda motor untuk memakai helm demi keamanan pengendara maupun pembonceng.

Ilustrasi, pesepeda motor dan pembonceng di Indonesia yang wajib memakai helm – dok.Motoris – dok.Motoris

“Jadi, kalau tujuannya adalah untuk keamanan, ya semestinya aspek keamanan dari helm yang digunakan harus benar-benar aman. Banyak helm bertuliskan DOT, Snell, atau SNI yang dijual di pasar. Bahkan telah banyak digunakan oleh orang, tapi apakah keamanannya benar-benar seperti yang distandarkan? Hingga kini belum ada pembuktian, kecuali ketika sampel produksi pabrik itu diajukan ke lembaga-lembaga penguji. Itu pun mungkin,” papar dia saat dihubungi Selasa (11/2/2020).

Jika tidak ada pengujian secara reguler dan acak dilakukan demi melindungi masyarakat pengguna, lanjut Abdil, maka pewajiban penggunaan helm bagi pengendara dan pembonceng sepeda motor di Indonesia hanyalah sebatas formalitas belaka. “Jika itu memang benar terjadi, berarti sangat menyedihkan karena keamanan dan keselamatan jadi nomor kesekian,” imbuh dia. (Fan/Mus/Ara).

CATEGORIES
TAGS
Share This