Pengusaha Truk ODOL Dipidana, Pemberi Order Juga Harus Dijerat

Pengusaha Truk ODOL Dipidana, Pemberi Order Juga Harus Dijerat
Ilustrasi, truk angkutan barang yang beroperasi di wilayah Sumatera - dok.Youtube

Jakarta, Motoris – Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri Irjen Istiono mengatakan, pihaknya akan menjerat pengusaha truk over dimension and overload (ODOL) dengan pasal pidana. Dengan sanksi seperti itu diharapkan ada efek jera bagi pelaku usaha angkutan truk yang menggunakan truk ODOL.

Seperti diungkapkan Kepala Korps Lalu-lintas, Irjen Pol.Istiono, di Gerbang Tol Tanjung Priok 1, Jakarta Utara, Senin (9/3/2020), Pratik truk ODOL tidak sesuai dengan Pasal 277 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. “Yang ditindak pidana itu nanti pengusahanya (pemilik truk). Diharapkan begitu,” ujar dia.

Namun, tindakan seperti itu dinilai sejumlah kalangan tidak fair. Pasalnya, tidak menjerat pengguna atau pemberi order muatan.

“Padahal, truk ODOL masih banyak berkeliaran di jalan karena order masih terus mengalir. Padahal, konsumen-konsumen ini (pemberi order truk ODOL) ini kebanyakan mengerjakan proyek pemerintah. Jadi kalau Pak Kakorlantas bilang perusahaan truk dan karoseri (yang akan dijerat pasal pidana karena truk ODOL), konsumennya sekalian lah. Itu baru betul,” ungkap mantan Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman kepada Motoris, di Jakarta, Selasa (10/3/2020).

Ilustrasi truk di jalan raya – dok.Motoris

Bahkan, lanjut CEO Lookman Djaja Group itu, orang atau pihak yang mensyaratkan tender pengangkutan material proyek – yang ternyata menggunakan truk ODOL itu – juga harus dijerat. Pasalnya, orang-orang atau pihak yang berada di balik tender tersebut juga tahu dan paham bahwa dengan target waktu proyek serta banyaknya muatan yang harus diangkut juga tahu persis berapa truk yang dibutuhkan.

Menurut Kyatmaja, adanya keterlibatan perusahaan milik pemerintah terbukti dari teguran yang disampaikan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya kepada PT Wijaya Karya yang mengerjakan proyek jalan tol di wilayahnya. Kemarahan Bupati Iti dikarenakan jalanan di wilayahnya rusak yang diduga akibat truk-truk pengangkut material untuk proyek tersebut.

Kolega Motoris di bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Lebak mengatakan truk-truk pengangkut material itu diduga truk ODOL. Dugaan seperti itu muncul karena truk-truk yang berlalu-lalang bermuatan batu, pasir, dan tanah hasil galian yang secara berat jenis memang besar.

Surat Bupati Lebak kepada PT Wijaya Karya dan PP yang berisi teguran karena truk-truk pengangkut material proyek jalan tol Lebak -Panimbang telah mengakibatkan rusaknya jalan-jalan di wilayahnya – dok.Istimewa

Sedangkan, lanjut dia, bak-bak truk yang ada juga menjulang, dengan volume isian yang selalu penuh atau bahkan luber saat beroperasi. “Sehingga, meski kita tidak bisa memastikan berapa berat uatan itu. Tetapi, secara kasat mata faktanya muatan itu penuh dan ukuran baknya besat. Terlebih, nyatanya jalan di wilayah kami rusak. Untuk memastikannya memang harus melalui jembatan timbang, karena di situ terlihat weight in motion-nya. Tetapi, dari yang terlihat di mata saja sudah memunculkan dugaan kuat truk-truk yang digunakan ini ODOL,” papar dia saat dihubungi, Selasa (10/3/2020) kemarin.

Akibat kerusakan jalan itu, Bupati Iti melayangkan surat teguran kepada PT Wijaya Karya. (Fat/Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This