Oli Impor Masih Deras Menggelontori Pasar Pelumas RI

Oli Impor Masih Deras Menggelontori Pasar Pelumas RI
Ilustrasi, minyak pelumas - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Oli atau minyak pelumas asal luar negeri alias impor masih banyak ditemui di pasar pelumas di Indonesia. Tercatat, dari sekitar 1,2 – 1,3 juta kiloliter penyerapan minyak pelumas di Tanah Air, sebanyak 400.000 – 450.000 kiloliter di antaranya merupakan oli dari impor.

Menurut Direktur Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhammad Khayam, hingga akhir tahun 2019 lalu, total produksi oli oleh 44 – 45 produsen oli di dalam negeri masih sekitar 900.000 kiloliter.

“Artinya, masih ada sekitar 400.000 – 450.000 kiloliter yang diimpor. Itu hampir setengah lebih dari jumlah produksi di dalam negeri,” papar dia saat ditemui di Marunda, Bekasi, Jawa Barat, dalam sebuah acara seremoni perluasan pabrik milik sebuah perusahaan oli, Kamis (12/3/2020).

Khayam juga mengakui, dengan hadirnya oli-oli impor tersebut, maka kapasitas produksi dari seluruh pabrik milik sejumlah merek di dalam negeri yang mencapai 2,04 juta kiloliter di Tanah Air tak ter[akai sepenuhnya. “Kapasitas produksi yang terpakai masih di bawah 50%, atau kurang dari setengah. Makanya, ini menjadi tantangan bagi industri pelumas di dalam negeri. Pasar yang semakin berkembang, membutuhkan inovasi produksi,” ujar Khayam.

Ilustrasi, pelumas – dok.CMFE News

Data yang dilansir Kemenperin menunjukan, sepanjang tahun 2018 lalu, nilai impor oli dari luar negeri mencapai US$ 281 juta. Nilai naik 11% dibanding tahun 2017 yang masih senilai US$ 252,7 juta.

Minyak pelumas impor itu tercatat berasal dari Malaysia, Singapura dan Thailand dengan porsi hingga 30%. Sedangkan lainnya, berasal dari Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. Bahkan dari Timur Tengah.

Ketua Bidang Program Masyarakat Pelumas Indonesia (MASPI) Muwardi menyebut, saat ini kapasitas produksi pelumas di Tanah Air yang sebanyak 2,04 juta kiloliter per tahun, masih terpakai kurang dari setengahnya. “Masih terpakai sekitar 42%, atau 858.360 kilo liter per tahun. Kapasitas terpasang itu merupakan total kapasitas produksi terpasang milik 44 produsen (pelumas) di Indonesia,” kata dia saat dihubungi belum lama ini.

Pengamat industri yang juga Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyebut, tata niaga minya pelumas di Indonesia berubah sejak terbit Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 21 Tahun 2001 tentang Penyedia dan Pelayanan Pelumas.

Ilustrasi pengisian pelumas ke mesin kendaraan bermotor – dok.Bobsightkia.com

Menurut dia, dari sisi konsumen tentu hal itu bagus, karena akan terjadi persaingan yang sehat karena konsumen mendapatkan produk yang beragam dengan kualitas maupun harga yang bersaing.

“Tetapi dari sisi kepentingan industri dalam negeri, tentu itu menjadi tantangan.Bagaimana industri dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen, itulah tantanganntya,” ucap dia saat dihubungi, akhir pekan lalu. (Ril/Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This