Lockdown Diterapkan, Industri Otomotif Makin Kedodoran

Lockdown Diterapkan, Industri Otomotif Makin Kedodoran
Ilustrasi, kendaraan koersial Isuzu yang dipamerkan di GIICOMVEC 2020 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Sejumlah kalangan mendesak pemerintah menerapkan keijakan lockdown atau isolasi total sejumlah wilayah di Indonesia untuk memurus akses virus corona seperti halnya yang dilakukan di sejumlah negara Malaysia, Italia, Cina, dan Prancis. Namun, bagi industri otomotif cara seperti itu justeru mendatangkan petaka baru.

“Itu justeru akan membuat semakin berat bagi industri otomotif nasional. Orang tidak akan kemana-mana, hanya di rumah, Kegiatan penjualan terbatas atau malah terhenti. Jadi, dampak dari kebijakan seperti itu (lockdown) jika benar-benar diterapkan akan besar terhadap ekonomi. Akan semakin berat (ekonomi),” tutur Sales & Promotion PT Hino Motor Sales Indonesia, Santiko Wardoyo, saat dihubungi Motoris, di Jakarta,Rabu (18/3/2020) malam.

Pernyataan senada diungkapkan oleh Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Bob Azam, yang dihubungi Motoris di Jakarta, Rabu (18/3/2020). Dia menyebut produktifitas ekonomi, termasuk di sektor otomotif secara umum akan menyusut.

“Sekarang ini dengan pembatasan seperti sekarang (work from home atau WFH) kalau benar-benar disiplin sudah hampir sama dengan lockdown). Sebaiknya, perusahaan yang mampu menerapkan WFH, menerapkannya dengan baik terutama untuk kegiatan-kegiatan back office atau non produksi. Jadi bisa mengurangi mobilitas orang,” papar Bob.

Presiden Direktur TMMIN Warih Andang Tjahjono (berbaju batik biru) bersama Direktur Administarsi Korporasi dan Komunikasi Eksternal TMIN Bob Azam (berbaju batik coklat) – dok.Motoris

Dia pun mencontohkan Singapura yang tak menerapkan lockdown, namun disiplin dalam melakukan pembatasan. Alhasil, Negeri Merlion itu masih mampu menggerakan roda perekonomiannya, meski dalam kondisi tertatih.

Sementara, meski mengaku bakal bisa memahami langkah kebijakan pemerintah, walau diberlakukan lockdown sekali pun, Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto berharap, persoalan wabah corona segera diatasi sehingga cepat tuntas di Indonesia. “Kami (Gaikindo) akan ikut arahan pemerintah. Kami saat ini memprioritaskan aspek kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia,” ujar dia saat dihubungi Motoris di Jakarta, Rabu (18/3/2020).

Menurut mantan Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia itu, faktor kesehatan menjadi faktor utama, terlebih di saat wabah virus corona yang mendera. Sebab, pandemi ini telah menggerogoti ekonomi, tidak hanya dunia tetapi juga Indonesia.

“Sehingga, kalau masyarakat tidak sehat, negara akan disibukkan oleh upaya mengatasai dampak yang diakibatkan corona, maka ekonomi juga akan lumpuh. Banyak orang sakit, ekonomi juga akan terganggu. Makanya kita harus pilih prioritas. Dan yang menjadi catatan penting sekarang ini, upaya ini (mengatasi wabah corona) harus lebih intensif dilakukan, sehingga persoalan juga cepat selesai. Kami tidak memikirkan hal-hal lain dulu,” ungkap dia.

Ilustrasi, Pikap Suzuki Carry bersanding dengan pikap DFSK Suer Cab di GIICOMVEC 2020- dok.Motoris

Pilihan sulit
Peneliti Senior Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal, menyebut pilihan yang ada saat ini bagi pemerintah merupakan pilihan sulit. Jika memilih lockdown maka dampak ekonomi akan berat.

“Banyak masyarakat yang mengandalkan hidupnya dari upah harian. Dan itu jumlahnya tidak sedikit. Jika lockdown, tidak ada kegiatan di masyarakat, mereka akan menderita karena terputus pendapatannya. Efek domino yang akan terjadi sangat besar, baik secara ekonomi maupun sosial,” kata dia saat dihubungi di Jakarta, Rabu (18/3/2020).

Begitu pun dampak yag bakal dialami sektor otomotif. Sebab, kata dia, ada korelasi positif yang sangat kuat antara pertumbuhan ekonomi nasional dengan tingkat konsumsi masyarakat, Termasuk permintaan kendaraan bermotor. Jika ekonomi mandek atau melorot, maka permintaan kendaraan bermotor juga bakal drop.

“Tetapi di satu sisi, jika wabah corona ini jika juga tak segera teratasi dan berlarut-larut, maka ekonomi juga bakal lumpuh. Produktifitas akan turun drastis. Karena itu, saat ini pekerjaan rumah yang ada (bagi pemerintah) adalah mencari formula penyelesaian yang cepat dan akurat,” imbuh dia.

Ilustrasi, peluncuran Honda CRF1100L Africa Twin bermesin baru dan Honda Rebel versi facelift di Jakarta, Selasa, 4 Februari 2020 – dok.Motoris

Sebelumnya, sejumlah kalangan meminta pemerintahan Presiden Joko Widodo segera menerapkan kebijakan isolasi total atau lockdown. “Perlu dipertimbangkan soal kajian analitis soal pemilihan tempat lockdown, karena hanya dengan cara itu, kita bisa melakukan mitigasi,” tutur dari Wakil Ketua Komisi Kesehatan DPR Saleh Partaonan Daulay dalam sebuah diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/3/2020).

Bahkan, tak kurang dati mantan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga menyinggung soal lockdown itu, dengan mencontohkan di sejumlah negara. Menurutnya, apa yang dilakukan negara-negara tersebut makin terarah, tegas, dan nyata.

“Sejumlah kota di berbagai negara, bahkan di seluruh negara, dilakukan lockdown. Artinya penduduk dilarang meninggalkan rumah masing-masing atau sangat dibatasi kegiatannya,” tulis SBY di akun Facebook-nya, Selasa (17/3/2020).

Ilustrasi, kendaraan komersial bus baru yang yang menggunakan chassis bus Hino dalam balutan karoseri garapan Tentrem – dok.Motoris

Namun, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menegaskan hingga kini pemerintah belum berencana menerapkan lockdown, karena dinilai bisa berbahaya terhadap perekonomian nasional. “Karena dengan lockdown orang di rumah semua, aktivitas ekonomi sulit. Dan secara ekonomi berbahaya,” ujar ujar dia dalam konferensi pers virtual di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Rabu (18/3/2020).

Sekadar catatan, data yang dihimpun Gaikindo menunjukan, dalam dua bulan pertama tahun ini (Januari hingga Februari) penjualan kendaraan bermotor roda empat atau lebih di Tanah Air masih kedodoran. Di dua bulan itu, penjualan mobil tercatat sebanyak 159.997 unit atau mengkerut 2,4% dibanding rentang waktu yang sama tahun 2019.  (Mus/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This