Hingga Februari, DFSK Glory 560 Masih Jauh Tertinggal Pesaing

Hingga Februari, DFSK Glory 560 Masih Jauh Tertinggal Pesaing
Glory 560 salah satu varian SUV DFSK yang menyasar segmen Low SUV di Indonesia - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Sepanjang Januari hingga Februari kemarin penjualan mobil dari pabrik ke diler (wholesales) tercatat sebanyak 159.997 unit. Sedangkan di bulan Februari saja, wholesales tercatat sebanyak 79.573 unit.

Di rentang waktu itu ada merek atau model yang naik penjualannya – baik wholesales maupun ritel – ada juga yang turun. Bahkan tak sedikit mobil yang penjualan sebelumnya lebih banyak dibanding yang lain, justeru turun atau disalip oleh mobil lainnya.

Tak terkecuali di segmen Low Sport Utility Vehicle (LSUV). Data yang dikompilasi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukan fakta itu.

Di rentang dua bulan pertama itu, LSUV Toyota yakni Rush masih berada di urutan teratas dalam daftar penjualan ke diler (wholesales). Rush terjual sebanyak 4.499 unit.

Berada di bawahnya Mitsubishi Xpander Cross yang terjual 2.344 unit. LSUV Mitsubishi ini disusul Daihatsu Terios yang laku 1.387 unit, kemudian Honda BR-V yang terjual sebanyak 302 uit, dan Dongfeng Sokon (DFSK)  Glory 560 sebanyak 72 unit.

Satu hal yang menjadi catatan penting di daftar ini adalah, bukan sekadar posisi terakhir atau paling bawah yang ditempati DFSK Glory 560. Tetapi, juga jumlah penjualannya yang jauh tertinggal pesaing.

Ilustrasi, mobil penumpang DFSK salah satu diantaranya SUV Glory 560 – dok.Motoris

Pada bulan kedua atau bulan Februari wholesales Rush tercatat sebanyak 3.296 unit atau berkurang 1.203 unit dibanding penjualan Januari. Kemudian Xpander Cross membukukan penjualan sebanyak 1.362 unit atau mengkerut 982 unit, Terios sebanyak 1.611 unit atau menyusut 224 unit.

Sedangkan Suzuki XL7 yang diluncurkan pada 15 Februari, langsung menyodok Mitsubishi Xpander Cross dengan membukukan wholesales sebanyak 2.260 unit, Honda BR-V terjual 283 unit atau menyusut 19 unit, dan DFSK Glory 560 hanya 64 unit atau berkurang 8 unit.

Lagi – lagi, LSUV besutan Dongfeng Sokon yang diproduksi di Cikande, Tangerang, Banten itu masih betah di urutan terbawah. Mobil yang dijajakan PT Sokonindo Automobile itu ternyata belum mampu mengejar pesaing dalam jumlah penjualan. Bahkan, dibanding model yang baru hadir sekalipun, seperti Suzuki XL7 atau Mitsubishi Xpander Cross.

Ilustrasi, Suzuki XL7 resmi meluncur di Indonesia 15 Februari – dok.Motoris

Sejak pertama hadir
Posisi DFSK Glory 560 yang seperti itu sudah terjadi sejak DFSK Glory 560 hadir dan dipasarkan di negeri ini sejak Juli 2019 lalu. Data yang dihimpun Gaikindo menunjukan, pada tahun 2019 itu – sejak Juli hingga akhir tahun – DFSK Glory 560 membukukan penjualan sebanyak 1.267 unit.

Sementara, Toyota Rush sebanyak 61.659 unit, Daihatsu Terios 22.960 unit, Honda BR-V 4.071 unit. Jumlah yang sangat jauh di atas DFSK Glory 560.

Memang, bisa saja dalih bahwa mobil ini baru diluncurkan sehingga juga penjualannya minim bisa dimaklumi. Tetapi bagaimana dengan Suzuki XL7  dan Mitsubishi Xpander Cross yang penjualan langsung jos hanya dalam hiungan hari setelah diluncurkan?.

“Faktor brand image dan brand value menjadi kunci. Brand value, disadari atau tidak oleh konsumen, dipahami atau tidak oleh mereka, prinsip-prinsipnya sebenarnya sudah mereka terapkan. Brand value bukan sekadar soal tampilan desain atau kualitas produk semata, tetapi juga jaringan penjualan dan layanan purna jual, persepsi sosial atau gengsi pengguna terhadap produk, sampai resale value atau nilai jual kembali mobil yang bersangkutan. Iru semua kan sudah dilakukan oleh konsumen,” tutur kolega Motoris yang juga pengurus Gaikindo, saat dihubungi di Jakarta, Jumat (3/4/2020).

Mitsubishi Xpander Cross – dok.Motoris

Dia mengaku tak setuju jika wholesales disebut bukan ukuran minat pasar  atau konsumen terhadap sebuah produk. Bahkan, menurut dia, penjualan ke diler juga menjadi indikator seberapa besar respon pasar terhadap produk yang bersangkutan.

“Karena diler mengajukan alokasi distribusi dari pabrik ke diler (atau dari APM) itu juga mengukur pasar berdasar kinerja penjualan sebelumnya. Alokasinya dikurangi satu unit saja terus diberi ke diler lain, bisa ribut kok. Jadi bagi APM wholesales itu bukan bagi-bagi jatah begitu saja, tetapi juga didasari kalkulasi cermat berdasar permintaan pasar di diler yang bersangkutan,” jelas dia. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS