Harga BBM RI Lebih Mahal Tapi Kualitas Rendah, Diduga Ulah Mafia

Harga BBM RI Lebih Mahal Tapi Kualitas Rendah, Diduga Ulah Mafia
Ilustrasi, kios BBM yang disediakan Pertamina - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Sejumlah kalangan mendesak agar pemerintah memanfaatkan momentum anjoknya harga mintak mentah dunia yang saat ini tengah terjadi untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional, dengan cara tak lagi menggunakan bahan dasar dirty oil (minyak kotor). Dengan demikian, kualitas BBM yang dijual di Tanah Air benar-benar sesuai dengan standar yang berlaku, baik di Indonesia maupun global yakni standar Euro 4 atau lebih.

“Harga BBM di Indonesia itu terlalu mahal dengan kualitas yang lebih rendah dibanding dengan negara-negara lain. Bahkan, meskipun saat ini harga minyak dunia turun, tetapi harga BBM kita belum turun juga. Komponen yang tidak transpasran dalam penyusunan struktur harga menjadi penyebab harga BBM sulit turun,” papar Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB), Ahmad Safrudin, saat dihubungi Motoris, di Jakarta, Kamis (1/5/2020) malam.

Namun, lanjut dia, yang lebih penting bagi konsumen – pemilik kendaraan – maupun lingkungan demi kepentingan masyarakat secara luas saat ini adalah, saat harga minyak dunia yang terus turun itu dijadikan momen untuk meningkatkan kualitas BBM di Tanah Air. Sebab,  BBM di Indonesia terbilang mahal dibanding BBM di negara-negara lain seperti Malaysia, Australia, bahkan dengan Amerika Serikat, tetapi kualitasnya jauh lebih rendah.

Ilustrasi, SPBU Pertamina – dok.Istimewa

“Fakta menunjukkan Malaysia mampu memproduksi dan memasarkan bensin dengan kualitas yang setara Pertamax Turbo dengan harga di SPBU hanya Rp 5.495,85 per liter dan solar dengan kualitas yang lebih baik dari Perta-Dex dengan harga cuma Rp 4.965,80 liter,” kata Safrudin memberi contoh.

Harga Pokok Produksi (HPP) BBM di negeri jiran tersebut, lanjut pria yang akrab disapa Puput itu, untuk bensin hanya Rp 2.293,14 per liter dan solar Rp 3.161,09 per liter. “Kedua jenis BBM ini memenuhi syarat untuk digunakan kendaraan berstandar Euro 4,” jelas dia.

Sedangkan harga bensin RON 95 dengan kandungan Sulfur 10 ppm di Australia, sebut Puput, hanya Rp 8.376,48 per liter dan Solar CN 53 dengan kandungan Sulfur 10 ppm hanya Rp 9444,50 per liter. HPP masing-masing Rp 1.529,14 per liter dan Rp 2.277,07 per liter.

“Kedua jenis BBM Australia ini memenuhi syarat untuk digunakan pada kendaraan berstandar Euro 6. Di Amerika Serikat bensin RON 95 dengan kandungan Sulfur 10 ppm dan solar CN 53 dengan Sukfur masimum 10 ppm hanya Rp 7.168,27 dan Rp Rp 9.869,53 per liter, ” terang dia.

Ilustrasi harga minyak dunia – dok.Al Bawaba

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Menurut Puput, harga SPBU bensin RON 88 dengan kandungan Sulfur max 200 ppm atau Premium 88 dipatok Rp 6.450 per liter. Sedangkan solar CN 48 dengan kandungan Sulfur 2500 ppm dihargai Rp 5.100 per liter.

HPP masing-masing Rp 4.837,50 dan Rp 4.825 per liter. Padahal, bensin jenis ini, ujar Puput, tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada kendaraan berstandar Euro1 karena RON terlalu rendah. “Dan kandungan Benzene dan Olefin terlalu tinggi sehingga tak memenuhi syarat untuk digunakan pada kendaraan berstandard Euro 2. Begitu juga dengan solar CN48 itu,” jelas dia.

Lobi para oil trader
Mengapa Indonesia gagal memproduksi dan memasarkan BBM dengan harga yang lebih murah dengan kualitas yang tinggi? Puput menyebut karena tidak ada political will (kemauan politik) dari pemerintah. Terlebih ada dugaan mafia pedagang minyak juga “bermain”.

“Ini diduga lobi yang kuat dari para oil traders (para pedagang minyak) yang bermaksud memaksakan atau melanggengkan untuk mengimpor BBM kotor (dirty fuels),” papar Puput.

Pasalnya, stok BBM kotor ini sangat melimpah di dunia setelah banyak negara telah meninggalkan BBM jenis dan beralih ke jenis yang lebih bersih yang sesuai dengan standar Euro 4, Euro 5, dan Euro 6. Terlebih harga BBM kotor juga jauh lebih murah, sehingga para pedagang akan meraup untung lebih banyak.

Ilustrasi, perdagangan minyak mentah dunia di bursa komoditi – dok.Istimewa via WorkBoat

Oleh karena itu, KPBB mendesak agar pemerintah segera mengerek kualitas BBM yang ada, sekaligus menurunkan harga seiring dengan terus merosotnya harga minyak dunia. Organisasi ini juga meminta agar pemerintah mengevaluasi struktur komponen harga BBM mulai dari harga minyak mentah Indonesia (ICP), pajak BBM 5%, PPN 10%, dan margin keuntungan bagi pengusaha.

“Harga sekarang pun sudah memberatkan masyarakat, karena itu harus segera diturunkan. Margin kelebihan biaya hanya dinikmati oleh para parasit harga BBM yakni para oil trader dan konspiratornya,” ucap Puput.

Desakan serupa dilontarkan Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman. Bahkan dia meminta agar harga BBM segera dikerek turun, sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM No. 62K/MEM/2020 tertanggal 28 Februari 2020 yang menetapkan formula penetapan harga BBM Indonesia didasarkan pada harga rata-rata produk kilang minyak di Singapura (MOPS – Mean Oil Platts Singapore).

Ilustrasi pengisian BBM ke sepeda motor di SPBU Pertamina – dok.Istimewa

“Jadi kalau dasarnya Kepmen ESDM itu, maka perhitungan harga BBM tersebut dihitung bulanan. Jadi, harga per 1 Maret acuannya dihitung pada periode 24 Maret sampai 25 April, dengan dua parameter penentu harga dasar BBM, yaitu nilai rata rata MOPS atau Argus dan nilai tukar dolar Amerika Serikat, ditambah 10% untuk keuntungan badan usaha. Maka, seharusnya 1 Mei ini (tahun 2020) harga sudah turun,” ujar dia saat dihubungi di Jakarta, Kamis (30/4/2020). (Fer/Fat/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS