BBN dan Pajak Mobil 0% Belum Tentu Efektif Bikin Penjualan Naik, Ini Sebabnya

BBN dan Pajak Mobil 0% Belum Tentu Efektif Bikin Penjualan Naik, Ini Sebabnya
Ilustrasi, mobil yang baru diluncurkan di Indonesia, Toyota New Yaris - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Sejak beberapa waktu terakhir wacana yang diusulkan oleh Kementerian Perindustrian agar tarif Bea Balik Nama (BBN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) mobil dikerek turun menjadi 0% hingga Desember nanti demi mengakselerasi penjualan mobil, hingga kini terus bergulir. Namun, tak sedikit yang meragukan efektifitas instrumen kebijakan itu, karena fakta yang ada tak klop dengan relaksasi pajak.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, misalnya tegas-tegas menyatakan instrumen itu tak bakal efektif “memompa” penjualan mobil yang hingga Agustus lalu masih anjlok. Menurut dia, dalam kondisi sosial dimana kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan, masyarakat berpikir tidak ada urgensi untuk menambah atau membeli mobil.

“Meskipun harga mobil turun, tapi mobilitas masyarakat masih rendah karena adanya pandemi dan PSBB yang belum tahu kapan akan berakhir. Data dari google mobility per 11 september 2020 menunjukkan pergerakan ke kantor -31% dari baseline, dan ke pusat perbelanjaan -10%,” papar dia saat dihubungi Motoris di Jakarta, Rabu (24/9/2020) pagi.

Ilustrasi, Nissan Kicks e-Power yang kini juga dipasarkan di Indonesia – dok.Nissan Thailand

Untuk rata-rata nasional pergerakan masyarakat ke kantor masih -24% dari baseline. “Jadi konsumen juga berpikir meski mobil murah tapi kalau mobilitas dibatasi, ya apa urgennya beli mobil saat ini?,” ucap dia.

Terlebih, lanjut Bhima, kemampuan bayar atau daya beli masyarakat di Indonesia masih rendah karena pendapatan menurun akibat pandemi. Sementara, mayoritas (lebih dari 70%) pembelian mobil baru selama ini dilakukan melalui kredit ke bank atau lembaga leasing.

“Ini juga masih jadi permasalahan, karena suku bunga kredit masih mahal, dan bank masih khawatir NPL (Non Performing Loan atau NPL) masih bengkak. Bank otomatis akan sangat selektif pilih calon debitur. Ada calon debitur semangat mau beli mobil baru karena harga sedang turun, eh bank-nya menahan diri khwatir calon debitur tidak kuat menyicil. Kan sama saja engga ngaruh itu,” jelas dia.

Ilustrasi, Suzuki XL7 – dok.PT SIS

Bahkan, pemangkasan BBN dan PPnBM hingga 0% itu membawa dampak negatif kepada penerimaan pajak yang jelas-jelas akan menurun. Rasio pajak, lanjutnya, akan dikorbankan bahkan bisa turun menjadi 5% – 6% tahun 2020.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Perindustrian Neil Iskandar Daulay menegaskan usulan relaksasi pajak pembelian mobil baru hingga 0% untuk periode sampai bulan Desember tahun ini diharapkan dapat memacu penjualan mobil di masa pandemi.

“Terlebih saat ini masyarakat berusaha menghindari transportasi umum karena khawatir tertular virus Corona, dan lebih memilih kendaraan pribadi. Maka,pajak 0% dinilai bisa menjadi rangsangan yang efektif,” ujar dia dalam keterangan resmi, Rabu (23/9/2020). (Chr.Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This