Dampak PPnBM Mobil 0% Minim, Jika Kondisi Ini Masih Terjadi

Ilustrasi pembelian mobil. dok. northwesternbusinessreview.org


Jakarta, Motoris – Pemerintah akan menerapkan stimulus kepada sektor manufaktor dan pasar otomotif nasional melalui relaksasi pajak berupa diskon atau potongan – khususnya untuk Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) – hingga 100% alias tarif PPnBM menjadi 0% yang berlaku Maret hingga Mei nanti.

Selain itu, kebijakan ini juga disokong dengan uang muka kredit (DP) 0% karena Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menurunkan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR).

Penegasan itu disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam keterangan resmi yang dirilis di Jakarta, Sabtu (13/2/2021). Dia berharap kombinasi kebijakan tersebut dimanfaatkan oleh pabrikan mobil dan diler dengan menawarkan skema penjualan yang menarik bagi masyarakat konsumen.

Ilustrasi, proses produksi mobil – dok.Kyodo News

“Kebijakan ini diharapkan mampu mengungkit (mendongkrak) kembali penjualan kendaraan mobil penumpang yang mulai bangkit sejak bulan Juli 2020 lalu. Sementara, dari sisi konsumen (masyarakat) yang memiliki tradisi mudik lebaran (yang jatuh pada April), kebijakan itu diharapkan dapat meningkatkan pembelian kendaraan bermotor. Tentunya hal itu bisa terlaksana apabila pandemi Covid-19 telah melandai,” papar mantan Managing Director Bank Dunia itu.

Pemerintah merencanakan relaksasi PPnBM secara bertahap. Skenarionya, insentif berupa PPnBM 0% selama Maret-Mei 2021. Lalu, insentif PPnBM 50% diberikan pada Juni-Agustus 2021. Kemudian menjadi 25% selama September-November 2021.

Bahkan, Menteri Koordinator Perekonomian, Airlanga Hartarto, sebelumnya mengatakan insentif tersebut diyakini dapat meningkatkan produksi hingga 81.752 unit. Seiring dengan peningkatan produksi itu diprediksi akan menambah pemasukan ke negara sebesar Rp 1,4 triliun.

Ilustrasi, suasana transaksi pengunjung pemeran mobil dengan staf lembaga leasing di IIMS 2019 – dok.Motoris

“Kebijakan tersebut juga akan berpengaruh pada pendapatan negara yang diproyeksi terjadi surplus penerimaan Rp 1,62 triliun,” kata Airlanga dalam keterangan resmi yang dirilis di Jakarta, Kamis (11/2/2021).

Kelangsungan sumber finansial menjadi kunci
Lantas, benarkah demikian? Akankah kebijakan tersebut secara linear akan berdampak positif terhadap pembelian mobil? “Jawabnya bisa saja.

Namun, apakah dampak itu maksimal yakni terjadi lonjakan pembelian oleh masyarakat sesuai dengan target yang diharapkan? Tentu jawabnya haru dilihat faktor sustainabilitas (keberlangsung secara terus menerus) daya beli masyarakat,” papar peneliti senior Eternity Marketing Research Specialist, Eko Wahyu Utomo, yang dihubungi di Jakarta, Sabtu (13/2/2021).

Ilustras pameran mobil GIIAS 2019- dok.Motoris

Faktor kelangsungan sumber kemampuan finansial (yakni pekerjaan atau bisnis), lanjut Eko, sangat tergantung pada pertumbuhan ekonomi yang – paling tidak – berada di rentang besaran seperti sebelum krisis pandemi Covid-19 yakni 4% – 5%. Dan ekonomi akan tubuh secara maksimal, jika pandemi telah berlalu atau setidaknya terkendali dengan sempurna.

“Jadi, meskipun ada uang muka kredit 0% pun, kalau daya beli masyarakat masih lemah tentu minat untuk beli mobil (bahkan secara kredit) pun juga kecil. Dan yang tahu soal ini tentunya juga masyarakat sendiri, seberapa besar daya tahan kemampuannya untuk membayar angsuran di tengah kondisi seperti sekarang,” ungkap Eko.

Ilustrasi, suasana di pameran mobil GIIAS – dok.Motoris

Pernyataan senada dilontarkan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara yang dihubungi di Jakarta, Sabtu (13/2/2021). Menurut dia, daya beli merupakan faktor kunci dalam konsumsi – di tengah kondisi ekonomi yang masih terbelit dampak pandemi – apalagi konsumsi barang non primer seperti mobil.

“Dari data Susenas BPS tahun 2020 kemarin terlihat, porsi konsumsi masyarakat 49% untuk pangan, sementara 50,7% untuk non-pangan. Dan keperluan untuk nona pangan ini, ternyata 49,6% untuk perumahan dan barang kebutuhan rumah, sedangkan konsumsi atau pembelian kendaraan bermotor hanya 9,77%. Kenapa serapan kendaraan bermotor kecil, yak arena masyarakat masih was-was jika dampak pandemi terhadap ekonomi terus berlangsung, maka kondisi yang sulit akan lebih sulit lagi,” papar Bhima.

Kesiapan lembaga keuangan
Selain itu, lanjut Bhima, masyarakat juga akan berpikir beli mobil untuk apa meski harganya turun, jika pembatasan kegiatan masyarakat atau sejenisnya masih diberlakukan. Sebab, orang akan enggan bepergian.

“Bahkan, kalau pun boleh pergi tetapi harus tes antigen atau tes-tes lainnya yang memakan biaya, tentu akan membuat mereka berpergian. Lalau, untuk apa kalau membeli mobil tetapi tidak digunakan?,” kata dia.

Pria yang juga pemegang gelar Master in Finance dari Universitas Bradford, Inggris, itu menyodorkan data Google Mobility pada 9 Februari keamarin. Data itu memperlihatkan pergerakan penduduk Indonesia secara nasional ke tempat perbelanjaan dan rekreasi turun 21% dari baseline, dan bepergian ke kantor turun 32% dari baseline.

Ilustrasi, mengemudi di jalan tol, bepergian ke luar kota- dok.Motoris.id

Belum lagi dengan aspek pembiayaan. Oke, sekarang otoritas keuangan – Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan – mengatakan ATMR diturunkan agar bank maupun leasing yang merupakan lembaga pemberi fasilitas pembiayaan kredit menurunkan uang muka hingga 0%.

“Tetapi bagaimana dengan tenor? Bagaimana dengan kemampuan masyarakat membayar angsuran? Dan bagaimana respon lembaga keuangan tersebut, karena kendaraan yang merupakan barang bergerak risikonya lebih tinggi ketimbang rumah yang jsteru nilainya dari waktu ke waktu naik. Ini juga perlu jawaban tegas dari lembaga keuangan tersebut. Ingat 70% lebih, pembelian mobil selama ini dilakukan secara kredit,” imbuh Bhima.

Lalu bagaimana tanggapan industri mobil di Tanah Air? Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto mengaku akan melihat perkembangan dari dampak kebijakan tersebut.

Ilustrasi, leasing atau perusahaan pembiayaan kredit kendaraan bermotor – dok.Istimewa

“Kita lihat saja nanti sajalah. Karena memang faktor daya beli itu yang utama. Kami (Gaikindo) menargetkan penjualan (sebelum didengungkannya kebijakan PPnBM didiskon) sebanyak 750.000 unit di tahun ini. Tetapi itu pun dengan asumsi PDB (pertumbuhan ekonomi) di 4% – 5%,” kata dia saat dihubungi Jumat (12/2/2021) lalu. (Fat/Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This