Pak Presiden Jangan Terlalu Naif dengan Mobil Listrik

Pak Presiden Jangan Terlalu Naif dengan Mobil Listrik

Jakarta, Motoris – Ambisi Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mendorong pengembangan mobil listrik di Indonesia mendapat beragam tanggapan. Ada yang mendukung, mengkritisi, dan tidak sedikit yang oportunis hingga cari muka.

Keinginan ini mulia, mau menurunkan konsumsi BBM oleh kendaraan bermotor, sekaligus menurunkan kadar emisi gas buang Karbondioksida (CO2), sesuai komitmen Indonesia dalam Konferensi Perubahan Iklim ke-21 di Paris, November 2015 lalu. Indonesia menargetkan penurunan CO2 hingga 29% atau maksimal 2 juta giga ton pada 2030.

Skema persiapan dibuat, dengan meluncurkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Januari 2017, isinya kebijakan energi sampai 2050. Di dalamnya, pada 2025, ditargetkan konsumsi energi primer bisa bergeser menggunakan energi baru terbarukan (EBT) dengan komposisi 23%, kemudian minyak bumi 25%, batubara 30%, dan gas bumi 22%.

Mobil Listrik

Transportasi, merupakan salah satu sektor strategis yang bisa mengejar target yang ditetapkan sesuai RUEN. Mendorong teknologi ramah lingkungan dianggap solusi paling jitu untuk menekan konsumsi BBM (energi primer). Teknologi yang dipilih, mobil listrik, sesuatu yang memang lagi happening di negara-negara maju dunia.

Hasil pembicaraan kolega Motoris, seorang eksekutif dari salah satu pemanufaktur otomotif terbesar di Indonesia, soal mobil listrik, cukup menginspirasi. Sudut pandang yang diangkat sederhana saja, bagaimana nasib konsumen kalau benar ada mobil listrik dijual di Indonesia!

Baca juga: Peluncuran Insentif Mobil Listrik Molor

“Mobil listrik itu menjadi entitas baru sistem transportasi dan mengubah semua tatanan kebiasaan konsumen dari mobil konvensional. Jadi butuh proses dan edukasi menyeluruh dari hulu ke hilir,” kata kolega Motoris, belum lama ini.

Hasil diskusi kami kemudian mengerucut ke tiga pertanyaan standar yang harus bisa dijawab oleh Pemerintah Presiden Jokowi, terkait mobil listrik.

Konsep mobil listrik Nissan Leaf Nismo. (Nissan)

Pertama, apakah konsumen mau beli?

Harga jadi alasan paling logis buat konsumen membeli kendaraan bermotor. Kalau harganya dua sampai tiga kali lipat mobil atau sepeda motor standar, apakah konsumen mau berpaling. Negara maju, seperti Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Norwegia saja, setiap pemerintahannya sampai rela memberikan diskon harga khusus untuk mobil listrik.

Misalnya, Jepang yang rela membebaskan biaya pengurusan surat-surat kendaraan bermotor (registration fee), semacam STNK di Indonesia. Artinya, mobil listrik yang dibeli konsumen, langsung dapat plat nomor, STNK, dan BPKB gratis. Padahal, kalau mengurus normal, biaya surat-surat ini bisa mencapai 10% dari harga off the road.

Jadi, butuh kerelaan dari pemerintah untuk tidak mendapatkan pemasukan dari pajak, kepada setiap individu warga masyarakat yang mendukung target pemerintah mengurangi CO2.

“Idealnya, mobil hybrid atau listrik itu, beda harganya (dengan mobil konvensional) seperti mobil transmisi manual dan otomatis saja (berkisar Rp 10 jutaan),” kata kolega Motoris lain yang juga eksekutif perusahaan otomotif di Indonesia.

Jangan lupa, model kendaraan yang paling laku di Indonesia itu adalah low multi purpose vehicle (LMPV), sekelas Avanza cs. Budaya konsumen yang suka beramai-ramai saat berkendara mobil juga harus jadi pertimbangan produsen, waktu menciptakan mobil listrik nanti.

Baca juga: Jangan Cuma Jadi Tukang Jahit Mobil Listrik

Mitsubishi i-MIeV, mobil listrik murni dengan daya jelajah terbatas. (www.autoindustriya.com)

Kedua, servis di mana?

Mobil listrik tentu saja teknologinya berbeda dengan kendaraan bermesin internal combustion alias konvensional. Memang pemerintah bisa mewajibkan setiap merek yang memasarkan mobil listrik, melayani, memastikan konsumen mendapat layanan purna jual yang baik.

Tetapi, setiap bengkel resmi yang dimiliki merek tentu butuh investasi lagi, buat beli peralatan baru untuk memeriksa baterai, motor listrik, sistem pengatur arus (inverter), yang sebelumnya tidak pernah ada pada mobil konvensional. Belum lagi, setiap bengkel, wajib minimal ada satu orang yang teredukasi baik soal teknologi mobil listrik.

“Kalau mobil konvensional, biasanya servis rutin itu, ganti oli, cek-cek komponen, paling butuh waktu setengah sampai satu jam. Kalau mobil listrik, waktunya bisa lebih lama, dua sampai tiga jam, apakah konsumen mau menunggu lebih lama?” kata kolega Motoris.

Ketiga, mau charging baterai di mana?

Salah satu kelemahan utama yang kerap menjadi pertimbangan seseorang membeli mobil listrik adalah jarak tempuh yang terbatas. Di AS ada Tesla, merek mobil listrik yang punya teknologi mumpuni, kemampuannya setara dengan mobil konvensional, bahkan dianggap lebih baik.

Produk terbarunya, Tesla Model 3, punya kemampuan daya jelajah hingga 539 km, sekali baterai terisi penuh, cukup buat mudik dari Jakarta-Surabaya. Tapi, harganya tembus Rp 1 miliar lebih.

Baca juga: Menperin: China Paling Siap Produksi Mobil Listrik

Kalaupun sudah ada tempat charging baterai mobil listrik, konsumen biasanya cuma butuh waktu 5 menit untuk mengisi BBM. Tapi, mobil listrik, setidaknya butuh waktu setengah jam buat mengisi baterai. Itu juga cuma bisa dilakukan pada charging khusus yang mahal investasinya.

Data yang dikeluarkan Toyota Motor Corporation, satu fast charging station, berdaya DC 40 kilo Watt, punya kemampuan charging hingga 500V/80A, 1 jam, untuk menempuh jarak 200-240 km, investasinya US$50.000 (Rp 678,3 juta). Ada juga teknologi pengisian daya standar (standard charging station) yang lebih murah, berdaya 1,7 kilo Watt, bekekuatan 120V AC/20A, setiap jam pengisian, bisa menempuh 8-10 km, biaya pembangunanya US$300-600 (Rp 4 juta-Rp 8,2 juta).

Nissan X-Trail Hybrid. (NMI)

Alternatif

Sebenarnya, masih ada alternatif teknologi turunan mobil listrik murni (baterai electric vehicle/BEV) yang juga lagi berkembang di dunia. Misalnya, teknologi hybrid (hybrid vehicle) dan plug in hybrid electric vehicle (PHEV).

Kedua teknologi ini juga menggunakan motor listrik dan baterai, tetapi masih mengandalkan mesin konvensional buat penyokong, baik jadi generator untuk mengisi baterai atau langsung menggerakkan roda. Teknologi ini bisa jadi jembatan, menuju BEV, sambil menyiapkan infrastruktur berupa pengisian baterai (charger) di seluruh Indonesia, sekaligus mengedukasi konsumen.

Jangan sampai, ketika lagi menempuh Jakarta-Yogyakarta, mobil listrik Anda kehabisan daya di pantura, bingung mau isi baterai di mana!

Pemerintah, lewat Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, pernah mengatakan, menargetkan 20% dari total produksi mobil di Indonesia, pada 2025 wajib bertenaga listrik. Pada waktu yang sama, ditargetkan sudah membangun 1.000 unit Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) dan dinaikkan menjadi 10.000 unit pada 2050.

Jadi Pak Presiden jangan terlalu naif dengan mobil listrik, terutama menyangkut konsumen. Mudah-mudahan tim pendukung sudah menemukan jawaban-jawaban oke buat masalah yang bakal timbul nanti, ketika regulasi percepatan pengembangan mobil listrik dikeluarkan. Salam mobil listrik! (sna)

Toyota Mirai berteknologi fuel cell mengonsumsi hidrogen. (forbes.com)

CATEGORIES
TAGS
Share This